Aku menjerit kecil.
Kulihat papi yang duduk di depan bersama sopir menengok ke arahku dengan pandangan bertanya, namun tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Aku merasakan kepalaku berdenyut, dan pandanganku mulai nanar. SMS itu kubaca sekali lagi, dan kembali kurasakan sebuah tusukan tajam di ulu hatiku.
Sesampai di rumah, papi baru berani menanyakan apa yang terjadi. Aku sebenarnya malas menjawab, tapi karena dia mendesak akhirnya kuceritakan sms yang dikirim Bagus. Sebenarnya sore itu aku merencanakan ketemu dengan Bagus untuk yang pertama kali, setelah dua rencana pertemuan sebelumnya batal karena acaraku dengan papi yang selalu sibuk dengan teman-temannya, dan aku selalu diminta papi untuk mendampinginya. Permintaannya selalu tidak dapat kutolak, karena dia satu-satunya yang kumiliki sekarang ini, sejak berpulangnya mami tiga tahun lalu dan kematian suamiku awal tahun ini. Papi sebagai seorang petinggi sebuah angkatan, selalu sibuk dengan jejaringnya.