media blog

SMS Bagus

Cerpen

Aku menjerit kecil.

Kulihat papi yang duduk di depan bersama sopir menengok ke arahku dengan pandangan bertanya, namun tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Aku merasakan kepalaku berdenyut, dan pandanganku mulai nanar. SMS itu kubaca sekali lagi, dan kembali kurasakan sebuah tusukan tajam di ulu hatiku.

Sesampai di rumah, papi baru berani menanyakan apa yang terjadi. Aku sebenarnya malas menjawab, tapi karena dia mendesak akhirnya kuceritakan sms yang dikirim Bagus. Sebenarnya sore itu aku merencanakan ketemu dengan Bagus untuk yang pertama kali, setelah dua rencana pertemuan sebelumnya batal karena acaraku dengan papi yang selalu sibuk dengan teman-temannya, dan aku selalu diminta papi untuk mendampinginya. Permintaannya selalu tidak dapat kutolak, karena dia satu-satunya yang kumiliki sekarang ini, sejak berpulangnya mami tiga tahun lalu dan kematian suamiku awal tahun ini. Papi sebagai seorang petinggi sebuah angkatan, selalu sibuk dengan jejaringnya.

Membaca Jaman dari Sajak di Sebuah Buku

Blog

Sebuah jaman adalah sebuah buku. Meski belum tentu menarik, ia selalu bersedia untuk dibaca. Tanggal-tanggal yang telah lampau menjelma menjadi nomor-nomor halaman. Apa yang dilakukan pemimpin, mungkin menjadi judul dari tiap-tiap bab. Dan tentang rakyat, terkadang ia menjelma sekedar sebagai catatan kaki. Ia sebuah buku, dengan daftar isi kemerdekaan atau kolonialisasi. Ia sebuah buku, dengan prolog preambule konstitusi, dengan epilog yang tak pernah pasti.

Sastra Maya, Mana Tanggung Jawabmu?

Blog

Bandung. Di belakang meja dua kali satu, di sebelah ruang tempat Soekarno pernah membacakan pledoi, petang itu saya menyempatkan diri berbincang dengan dua wanita - yang karena sebuah rezim - suami-suami mereka terpaksa harus membayar lunas sebuah konsekuensi: mati! Saat itu gerimis. Suciwati, istri Alm. Munir, dan Yu Pon, istri Alm. Wiji Thukul, mengerti benar bahwa sikap dan sajak memiliki nafas lebih kuat daripada nama yang tersemat.

Dan Terpujilah Engkau Wahai Binatang Bertaring

Blog

Dan Terpujilah Engkau Wahai Binatang Bertaring

Dan terpujilah engkau wahai binatang bertaring yang memberi batas hanya dengan mengucurkan air kencing. Karena kamu hanya memberi tanda pada wilayah, bukan mendiskreditkan binatang yang lain. Lihatlah, kami manusia, yang lebih suka menandai kaum dengan mencetak kartu-kartu, lalu membuangnya, atau memisahkannya dengan tembok tinggi atas nama keamanan, ketertiban, keadilan, dan keselamatan negara.

Jangan Berdoa Minta Kesembuhan Jasmani

Blog

tubuh orang saleh bisa sehat, tapi bisa pula sakit
tubuh orang jahat bisa sakit, tapi bisa pula sehat
orang saleh yang sakit-fisik bisa sembuh, tapi juga bisa mati
orang jahat yang sakit-fisik bisa mati, tapi juga bisa sembuh
semua orang, saleh ataupun jahat, jasmaninya pasti akan mati

artinya: Tuhan tidak campur tangan dalam soal kesehatan fisik,
moralitas bukanlah variabel penentu bagi kesehatan jasmani

Jangan Berdoa Untuk Minta Rejeki Ekonomi

Blog

banyak orang saleh yang kaya, tapi banyak pula yang miskin
banyak orang jahat yang miskin, tapi banyak pula yang kaya

artinya : Tuhan tidak campur tangan dalam soal ekonomi,
moralitas bukanlah variabel penentu bagi kemakmuran

implikasinya : jangan berdoa untuk minta rejeki ekonomi
(percuma, sebab Tuhan akan cuek saja)

mintalah pada Tuhan :
kedamaian hati, ketenangan pikir, kesehatan jiwa,

Kata Mutiara-kah??

Blog

Bapa selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anakNya,
sekali pun Dia memberikan yang buruk,
itu akan lebih baik daripada memberikan sesuatu yang baik kepada kita..

Gandhi dan Pendidikan yang Hakiki

Blog

Sepertinya usia yang sudah 70 tahun tak lagi ia pedulikan. Dari ashram nya di Desa Wardha, ia rela berjalan kaki sejauh 3 mil hanya untuk menjemput Ronald Duncan, seorang mahasiswa muda sekaligus aktivis pemimpin pemogokan buruh di Inggris. Saat melihat kakek tua itu berjalan kaki menjemputnya, Ronald Duncan tergesa turun dari taksi. Kemudian mereka berjalan berdua sambil berdiskusi bagaikan kawan lama tanpa selisih usia. Perjumpaan hangat antar dua insan tak saling kenal ini terjadi tahun 1939 di India, dan kakek tua itu adalah Mahatma Gandhi.

Aku, Langit, dan Asu

Cerpen

Aku ingat, suatu ketika duduk di teras rumah. Di luar air mengguyur deras. Aku pepetkan tubuhku menjauh dari angin yang membawa tampu rintik. Walau sebenarnya relungku tak begitu suram, namun langit benar terlihat muram. Belum sekalipun, semenjak aku lahir, langit bersedia menghentikan hujan.

Pernah aku minta pada Tuhan,“beri aku terik, walau hanya sebentar.” Tapi sampai saat ini toh belum terkabulkan. Hatiku kadang miris melihat tetangga di komplek sebelah, dimana mereka memiliki langit, juga Tuhan yang lebih baik. Di sana langit memberi waktu pada angin, juga pada musim tuk menyapu hari. Sedikit memberi kesempatan pada cuaca demi menghidupi cirinya sendiri.

Feed XML