blog milik johanes kunto

Membaca Jaman dari Sajak di Sebuah Buku

Blog

Sebuah jaman adalah sebuah buku. Meski belum tentu menarik, ia selalu bersedia untuk dibaca. Tanggal-tanggal yang telah lampau menjelma menjadi nomor-nomor halaman. Apa yang dilakukan pemimpin, mungkin menjadi judul dari tiap-tiap bab. Dan tentang rakyat, terkadang ia menjelma sekedar sebagai catatan kaki. Ia sebuah buku, dengan daftar isi kemerdekaan atau kolonialisasi. Ia sebuah buku, dengan prolog preambule konstitusi, dengan epilog yang tak pernah pasti.

Sastra Maya, Mana Tanggung Jawabmu?

Blog

Bandung. Di belakang meja dua kali satu, di sebelah ruang tempat Soekarno pernah membacakan pledoi, petang itu saya menyempatkan diri berbincang dengan dua wanita - yang karena sebuah rezim - suami-suami mereka terpaksa harus membayar lunas sebuah konsekuensi: mati! Saat itu gerimis. Suciwati, istri Alm. Munir, dan Yu Pon, istri Alm. Wiji Thukul, mengerti benar bahwa sikap dan sajak memiliki nafas lebih kuat daripada nama yang tersemat.

Dan Terpujilah Engkau Wahai Binatang Bertaring

Blog

Dan Terpujilah Engkau Wahai Binatang Bertaring

Dan terpujilah engkau wahai binatang bertaring yang memberi batas hanya dengan mengucurkan air kencing. Karena kamu hanya memberi tanda pada wilayah, bukan mendiskreditkan binatang yang lain. Lihatlah, kami manusia, yang lebih suka menandai kaum dengan mencetak kartu-kartu, lalu membuangnya, atau memisahkannya dengan tembok tinggi atas nama keamanan, ketertiban, keadilan, dan keselamatan negara.

Gandhi dan Pendidikan yang Hakiki

Blog

Sepertinya usia yang sudah 70 tahun tak lagi ia pedulikan. Dari ashram nya di Desa Wardha, ia rela berjalan kaki sejauh 3 mil hanya untuk menjemput Ronald Duncan, seorang mahasiswa muda sekaligus aktivis pemimpin pemogokan buruh di Inggris. Saat melihat kakek tua itu berjalan kaki menjemputnya, Ronald Duncan tergesa turun dari taksi. Kemudian mereka berjalan berdua sambil berdiskusi bagaikan kawan lama tanpa selisih usia. Perjumpaan hangat antar dua insan tak saling kenal ini terjadi tahun 1939 di India, dan kakek tua itu adalah Mahatma Gandhi.

Aku, Langit, dan Asu

Cerpen

Aku ingat, suatu ketika duduk di teras rumah. Di luar air mengguyur deras. Aku pepetkan tubuhku menjauh dari angin yang membawa tampu rintik. Walau sebenarnya relungku tak begitu suram, namun langit benar terlihat muram. Belum sekalipun, semenjak aku lahir, langit bersedia menghentikan hujan.

Pernah aku minta pada Tuhan,“beri aku terik, walau hanya sebentar.” Tapi sampai saat ini toh belum terkabulkan. Hatiku kadang miris melihat tetangga di komplek sebelah, dimana mereka memiliki langit, juga Tuhan yang lebih baik. Di sana langit memberi waktu pada angin, juga pada musim tuk menyapu hari. Sedikit memberi kesempatan pada cuaca demi menghidupi cirinya sendiri.

Sing Gumantung Sing...

Blog

Sing gumantung, sing kesimpar, sing kependem. Untuk bahasa Indonesia, secara bebas dapat diterjemahkan sebagai yang tergantung, yang tergeletak di permukaan, dan terakhir yang terpendam di dalam tanah. Di dalam filosofi Jawa, tiga jenis pala atau umbi itulah yang membagi ranah ilmu kehidupan.

Sing gumantung adalah sesuatu dalam hidup yang sangat mudah terlihat hanya dalam sekilas mata melihat. Seperti buah sukun atau pepaya yang tumbuh berkembang menggantung di dahan, ada banyak ilmu yang mudah dipelajari, mudah dikuasai, hanya dengan memperhatikan secara seksama sesuatu yang kasat oleh mata. Ini juga sebagai titik terluar yang bisa kita ukur dari pribadi seseorang. Menilai jabatan dari bagaimana seorang pribadi berpakaian misalnya.

Feed XML