Aku ingat, suatu ketika duduk di teras rumah. Di luar air mengguyur deras. Aku pepetkan tubuhku menjauh dari angin yang membawa tampu rintik. Walau sebenarnya relungku tak begitu suram, namun langit benar terlihat muram. Belum sekalipun, semenjak aku lahir, langit bersedia menghentikan hujan.
Pernah aku minta pada Tuhan,“beri aku terik, walau hanya sebentar.” Tapi sampai saat ini toh belum terkabulkan. Hatiku kadang miris melihat tetangga di komplek sebelah, dimana mereka memiliki langit, juga Tuhan yang lebih baik. Di sana langit memberi waktu pada angin, juga pada musim tuk menyapu hari. Sedikit memberi kesempatan pada cuaca demi menghidupi cirinya sendiri.


