Alumni de Britto Angkatan 1992 mempersiapkan MPK 2017 dengan sejuta ide di kepala, mulai dari konsep artistik hingga merespon keadaan sosial kultural masyarakat Indonesia aktual. Antusiasme dirasakan sejak pertengahan 2016 di berbagai pertemuan kopi darat dan grup chatting. Semua berkontribusi tanpa paksaan sesuai dengan kapasitas masing-masing. Yang punya ide menyumbang ide; yang punya tenaga menyumbang tenaga; yang punya uang menyumbang uang, dan seterusnya. Dana penyelenggaraan MPK 2017 ini sebagian besar berasal dari bantingan internal alumni 1992, dibantu para donatur dari angkatan lain. Puji Tuhan, hasil bantingan itu cukup untuk membiayai MPK.

Lewat berbagai diskusi, akhirnya konsep acara MPK 2017 diputuskan untuk mengombinasikan pertunjukan seni, ibadah secara Katolik, dan kebinekaan. Kebinekaan dirasa penting untuk diangkat karena kita semua sedang merasakan bahwa ada masalah di situ. Formalisasi dan konservativisme keyakinan sedang mengeras dalam benak sebagian masyarakat kita yang berdampak pada kehidupan sehari-hari kita. Di sini, kita dituntut untuk menjadi bagian dari pengatasan masalah, alih-alih sekedar menggerutu atau bahkan diam saja.

Pertunjukan kesenian diangkat sebagai medium bagi aktualisasi bakat artistik para alumnus JB. Konsepnya adalah kolaborasi para alumnus pelaku seni lintas angkatan. Di sisi ini kami menyaksikan besarnya uluran tangan dari para alumnus selain angkatan 1992. Acara seni MPK kali ini mencerminkan semangat kolaboratif lintas angkatan tersebut. Maka meskipun angkatan 1992 adalah pelaksana MPK 2017, acara ini tidak mungkin terlaksana tanpa bantuan tulus para alumnus selain 1992. Bahkan ada angkatan 2016 yang secara proaktif menawarkan diri untuk membantu pelaksanaan MPK 2017 ini.

Jika dikerucutkan, semangat itu berujung pada dua hal: kesukarelaan (voluntarism) dan partisipasi. Kesukarelaan dan partisipasi tidak mungkin ada tanpa semangat memberi. Semangat memberi inilah yang sebenarnya menjadi hal penting untuk diperkuat di negeri ini, ketimbang semangat merampok. Orang Indonesia terkenal karena memiliki kebudayaan menyumbang yang tinggi. Jika terjadi bencana, donasi sukarela muncul dengan jumlah signifikan. Demikian pula, lembaga yang mengelola dana sumbangan bisa mengumpulkan dana dalam jumlah signifikan, misalnya Dompet Dhuafa. MPK 2017 membuktikan bahwa alumni de Britto memiliki semangat memberi yang kuat. Mengikuti budaya memberi itu, Panitia MPK 2017 merencanakan untuk menyalurkan dana hasil bantingan MPK 2017 kepada para korban bencana alam. Dana ini akan disalurkan melalui Posko Mangkubumi yang dikelola alumni JB.

Kesukarelaan adalah faktor penting dalam pengembangan masyarakat madani. Kesukarelaan mengindikasikan bahwa ada ‘relasi-relasi tak terbeli’ antar manusia yang melampaui transaksi ekonomi atau politik akal bulus saling memanfaatkan. Kesukarelaan memperkuat kualitas kehidupan bersama.

Ada banyak pelajaran selain voluntarisme dan partisipasi selama proses persiapan MPK 2017. Selama proses persiapan MPK 2017, panitia berusaha membangun semangat positif antar individu. Wajar jika ada beda pendapat, komitmen yang tidak terpenuhi 100%, konflik kecil, dan sejenisnya. Namun budaya positif ternyata bisa berkembang dalam proses itu dengan mengombinasikan apresiasi psikologis dan efisiensi decision-making. Di sinilah terasa semangat lebih yang menurut saya terasa di internal panitia.
Selamat berkumpul dan merayakan kebinekaan!

Redemptus Kristiawan (Gere), mewakili Alumni de Britto Angkatan 1992

Pin It on Pinterest

Share This