INSPIRASI DARI NASI GORENG KEDIRI
(KISAH UNTUK PEMILIHAN KETUA PRESIDIUM DBBC)

Hari Minggu malam kemarin saya sama seorang sahabat dari JB membeli nasi goreng kediri. Dia dengan bersemangat merekomendasikan nasi goreng yang dimasak dengan anglo itu. “Rasanya lebih enak dari nasi goreng biasa.”

Sesampai di warung nasi goreng itu kami memesan tiga nasi goreng. Dua nasi goreng pedas, satu nasi goreng biasa untuk istri dan bayi kecilnya. Suasana warung nasi goreng yang terletak di salah satu ruko agak ribet.
Banyak pembeli. Banyak pemesan. Bahkan ada abang gojek yang juga turut antri. Sambil menunggu pesanan kami jadi, saya mengamati situasi warung dan interaksi antar pelayannya. Ada kekacauan yang sangat menarik dan bisa kuambil sebagai inspirasi bagi kita, anggota DBBC yang sedang menggelar pemilihan ketua dan pengurus Presidium DBBC.

Ada empat pelayan di warung itu. Dua lelaki sebagai pemasak dan dua wanita sebagai pelayan dan pembuat minuman serta merangkap kasir. Dua lelaki pemasak itu juga dibagi lagi, satu spesialis memasak dengan anglo, satu memasak dengan kompor gas (karena selain nasi goreng dan mie goreng kediri, warung itu juga menyediakan menu chinnese food). Sementara dua wanita itu juga tidak kalah ribet karena walau kompor dan alat masak ada di depan warung, kasir dan minuman ada di belakang, sementara ibu-ibu itu juga harus melayani pesanan dengan mengambilkan nota pesanan, mengorderkan pesanan ke pemasak dan membungkus makanan jika makanan itu dibawa pulang atau membawa piring makanan ke meja pembeli jika ingin disantap langsung.

Suasana nampak semakin kacau dan tegang karena ada seorang pelayan wanita nampak ingin mendominasi dan tidak sabaran. Dia perintah sana-sini dengan wajah jutek dan kelelahan. Bahkan saya sebagai pembeli yang mengamati situasi itu ikut tegang serta kasihan kepada pelayan-pelayan lain yang seakan diteror ibu itu. Komunikasi dan koordinasi berjalan serampangan, suasana kerja jadi tidak menyenangkan.

Kebetulan bersama dengan pesanan kami, suasana warung itu sedang ramai. Tempat duduk di dalam 80% terisi dan di luar ada 3 sampai 5 pemesan. Sehingga hal ajaib dalam prosedur memasak nasi goreng kediri terjadi. Selama ini saya menyukai nasi goreng kediri karena dimasak dengan anglo dan dibuat satu-satu, sehingga citarasa, kematangan dan keharuman nasi goreng bisa maksimal memanjakan indera perasa di lidah kita. Namun semalam di warung itu saya menemukan nasi goreng dibuat dalam porsi yang besar sekaligus untuk sekitar 6-7 porsi. Apa apa ini? Batin saya berteriak. Ini menyalahi prosedur. Lebih tragis lagi, setelah memasukkan nasi dalam jumlah besar, dengan mencampur bumbu-bumbu, potongan sayur dan daging, serta tambah siraman kecap nasi goreng itu diangkat. Dalam wujud yang setengah layak disebut nasi goreng, oleh pemasaknya, nasi setengah goreng itu dipindahkan ke kompor gas. Wow..wow.. Apa apa ini? Jadi agar proses masaknya cepat, mereka menginstankan tahapan pemasakkan dengan bantuan nyala api di kompor gas. Feeling saya langsung down. Ini tidak sesuai dengan SOP pembuatan nasi goreng kediri yang semestinya.

Okey.. okey.. saya menenangkan hati, walau sudah pesimis dengan citarasa nasi goreng hibrida ini saya perlu juga mencoba, siapa tahu teknik ini justru bisa menyebabkan nasi goreng jadi istimewa.

Ternyata 6 porsi yang dibuat bersamaan itu untuk pesanan kami. Dengan wajah masam, pelayan membungkus nasi goreng dan memberikan 3 porsi nasi goreng kepada kami. Et.. tunggu, tunggu. Bukannya kami pesan 2 nasi goreng pedas dan 1 nasi goreng biasa. Kok ini jadinya dibuat sama?? Kami protes. Di nota pemesanan kami sudah tertulis dengan jelas. Dengan wajah bingung para pelayan itu saling menyalahkan.

Pelayan perempuan yg menerima pesanan kami cuma memerintahkan pemasak memasak nasi goreng, tanpa ada order khusus, pedas atau tidak. Pelayan laki-laki tidak melihat nota pemesanan, dan memasak berdasarkan perintah lisan. Pelayan wanita yg dominan menyalahkan mereka berdua. Agak ribet. Sampai teman saya bilang, “Ya sudah. Tidak apa.” Dia sepertinya sama-sama hopeless. Akhirnya kami membayar pemesanan itu. Ajaibnya lagi, ibu yg menerima uang pesanan dan akan mengembalikan pengembalian tak mengambil kembalian di kasir, tapi berlari ke parkiran, menemui tukang parkir. Ow. Oww.. dia perlu memecah uang.

Ya sutralah.. warung yang sekacau itu dan suasana hati para pelayanan yg tidak baik apakah bisa menyajikan menu masakan yg istimewa?

Jelas tidak. Rasa nasi goreng jadi biasa-biasa saja. Bahkan kami kira rasanya akan pedas, ternyata flat.. hambar.. Sayang sekali. Padahal banyak pembeli, tapi jika mereka merasa kecewa seperti yg kami alami semalam, kuyakin mereka tidak akan mau datang lagi ke warung itu.

Jadi… mengapa saya ingin bercerita tentang pengalaman ini di saat kita sedang bergembira ria menyambut pemilihan Ketua dan Pengurus Presidium DBBC?

Begini, sahabat-sahabatku yang baik…. kita semua, alumni SMA Kolese de Britto yg tergabung dalam Debritto Business Community (DBBC) sama-sama tahu, ada kekosongan pengurus DBBC. Kondisi ini tak bisa dibiarkan terus menerus. Organisasi yang baik perlu memiliki pengurus yang kuat dan kompak. Mereka lah yang akan menggembalakan anggota DBBC untuk semakin menjadi pengusaha tangguh. Mereka yang mengatur strategi, menentukan langkah, mengkoordinir acara, menciptakan peluang-peluang, membuka kesempatan-kesempatan anggotanya untuk terus berkembang. Mereka lah yang bisa kita istilahkan akan mengkoordinir kita untuk bisa memasak nasi goreng yg tjakep, lezat dan istimevva.

Kita di DBBC ini sama-sama butuh koordinator. Tidak bisa suatu tim tanpa koordinator yang baik dan mumpuni. Jika setiap orang bekerja sendiri-sendiri, koordinasi tak berjalan baik, koordinator tak dihormati, maka organisasi itu akan hancur. Di DBBC marilah kita sebut koordinator ini sebagai presidium.

Kita di DBBC ini sama-sama butuh kejelasan sistem kerja dan koordinasi tim. Kerja yang baik itu tentu kerja yang penuh inspirasi namun juga menciptakan sistem kerja yang efektif. Inspirasi kita butuhkan untuk menciptakan keajaiban-keajaiban. Sistem kerja yang efektif kita perlukan agar kerja kita jadi lebih berdaya dan berjaya. Tim presidium itulah yang akan menggodok dan menyiapkan sistem kerja yang tepat sesuai dengan karakter dan jiwa dari DBBC ini.

Kita butuh banyak cinta, pengertian, dan perhatian. Di DBBC ini kita masih bersatu karena hal sederhana sebenarnya, kita sama-sama lulusan dari SMA yg sama. Tapi mengapa kita begitu kompak dan hebat? Mengapa kita bisa bekerja sama, berkolaborasi, belajar, dan saling percaya satu sama lain yg bisa jadi sebelumnya kita belum saling mengenal? Karena kita memiliki nilai-nilai yg sama, kita berasal dari sekolah yang sama. Namun bersandar pada masa lalu saja belum cukup. Kita perlu menatap masa depan, dan dalam DBBC ini kita bisa menatap masa depan yg lebih baik, lebih cerah. Kita melihat peluang, kita melihat kesempatan. Namun tanpa nahkoda yg mumpuni, yang memiliki banyak cinta, banyak pengertian dan perhatian untuk DBBC ini, maka kapal besar DBBC ini bisa karam.

Jadi jika kamu, sahabat-sahabatku yg heibat… merasa bahwa DBBC ini memiliki manfaat positif untuk usahamu, jika DBBC ini memiliki makna bagi dirimu secara pribadi, jika DBBC ini bisa mampu membantumu jadi pengusaha tangguh yang lebih baik dalam melayani Tuhan dan bangsamu. Inilah saat yang tepat bagimu untuk turut berperan. Lihat baik-baik rekan-rekanmu yg memiliki kemampuan sebagai nahkoda kapal besar kita ini. Jangan biarkan kapal ini berjalan tanpa arah, jangan biarkan menu sajian DBBC ini seperti nasi goreng hibrida kediri yg kurasakan, jangan biarkan dirimu berjalan sendirian padahal kamu bisa memiliki banyak teman.

Ayo kawan-kawanku yg zuperr! Gunakanlah hak suaramu, pilih siapa yg pantas jadi nahkoda DBBCmu ini. Polling ini bisa menjadi bukti cintamu untuk DBBCmu ini. Tunjukkan sekarang!

Pilih Disini : http://bit.ly/balondbbc

Surabaya, 19-09-2016
Anggota KPU DBBC

[Adven Sarbani]