Malam itu jalanan Malioboro terasa lengang. Belum lama berselang terjadi perkelahian yang menewaskan salah seorang yang terlibat. Ambulans telah pergi membawa korban yang tewas tertikam sementara penikamnya terbang pergi entah kemana. Kerumunan telah usai. Orang-orang yang biasa nongkrong begadangan kehilangan selera mengencani malam. Beberapa di antara mereka diminta ikut ke kantor polisi untuk memberi keterangan sebagai saksi. Pun malam sudah terlalu larut untuk orang nikmati jajan lesehan. Tinggal sunyi yang tersisa.
Mbak bakul lesehan tertidur menganga, bersandar pada pintu toko. Tidak jauh darinya duduk dua orang tunawisma, yang satu seorang kakek dan yang satu lagi seorang bocah laki-laki. Entah dari mana asal mereka - terutama si bocah yang masih berkeliaran di malam yang telah larut. Tinggal mereka yang masih terjaga.
Kedua tunawisma tua-muda itu sebelumnya tidak saling mengenal satu sama lain. Kemiskinan mempertemukan mereka, mendudukkan mereka berjajar berdekatan. Si kakek duduk bersandar sambil meneguk anggur botolan yang ditinggalkan sekelompok anak muda saat terjadi perkelahian tadi. Si bocah duduk memeluk lutut sambil termenung seperti sedang memikirkan sesuatu.
Tiba-tiba sambil memperhatikan bekas darah sisa perkelahian tadi, si bocah bertanya pada sang kakek, "Kek, tahukah kakek kemana perginya orang setelah mati?"
Tanpa menoleh kakek itu menjawab, "Kamu kan lihat sendiri tadi, yang mati diangkut ambulans ke rumah sakit.."
"Maksudku bukan itu, Kek. Kemana perginya nyawanya?" potong bocah itu merumit.
"Mereka pergi menyelam," sahut kakek tak acuh.
Sejenak bocah itu meneliti wajah si kakek. "Menyelam ke laut?" tanyanya.
"Menyelam ke laut, ke sungai, ke dalam tanah, ke kawah gunung, ke awan, apa bedanya kalau sudah mati?" gerutu si kakek.
"Aku pernah menyelam di sungai, tapi bisa kembali muncul ke permukaan air. Apakah mereka yang mati juga bisa begitu?" tanya si bocah.
"Aku tidak tahu. Itu terserah mereka yang mati, mau kembali atau tidak," jawab kakek merasa terusik.
"Jadi mereka bisa kembali lagi? Untuk apa mereka kembali?" si bocah terheran-heran.
"Entahlah.. Barangkali untuk melakukan koreksi," jawab si kakek kesal.
"Apa itu koreksi, Kek?" desak si bocah.
Dikejar pertanyaan, kakek itu tidak segera menjawab malahan terus menenggak isi botol anggur. Sambil menanti jawab, si bocah mengamati gambar pada kemasan botol yang dipegang kakek. Gambar orang tua dengan rambut dan jenggot lebat yang telah seluruhnya memutih. Wajah orang tua di gambar kemasan botol itu tampak bijaksana dan penuh damai, pikir si bocah. Berpikir demikian segera saja dia merasa haus.
"Apa yang kakek minum itu?" tanyanya.
"Anggur", jawab kakek singkat.
"Bolehkah aku minta, Kek?" lanjut si bocah.
"Ambil saja sendiri di sudut sana, masih ada beberapa botol yang berisi," suruh si kakek tanpa menunjuk arah yang dimaksud.
Si bocah menebarkan pandang ke sekeliling mencari-cari botol yang disebut kakek itu, lalu bangkit berdiri dan menghampiri sudut emperan toko. Benar saja didapatinya dua botol anggur yang masih berisi. Diambilnya botol yang masih berisi separuh lalu kembali duduk di samping kakek. Meniru cara kakek itu menenggak anggur, mulailah si bocah minum anggurnya. Teguk demi teguk memberinya perasaan hangat yang nyaman. Agak lama kemudian si bocah mengulangi pertanyaannya, "Apa itu koreksi, Kek?"
Setelah mengelap-ngelapkan mulutnya pada lengan baju, barulah kakek itu menjawab. "Koreksi artinya perbaikan," jawab kakek. "Melakukan koreksi bisa diartikan memperbaiki hal-hal yang belum benar atau belum tepat," lanjutnya.
Tanpa memberi kesempatan pada si bocah untuk menyela, kakek itu terus mengalirkan kata-katanya. "Orang sering berbuat kesalahan dalam menempuh perjalanan hidupnya. Saat mati nanti, semua kesalahan itu akan dibeberkan dengan sangat jelas. Tapi orang mati tidak bisa lakukan apa-apa lagi untuk memperbaikinya, sebab koreksi hanya bisa dilakukan oleh mereka yang masih menjalani hidup. Karena itulah tadi aku bilang bahwa setelah mati orang pergi menyelam. Jika kesalahan yang dibeberkan lebih sedikit daripada kebenaran yang diperbuat semasa hidupnya, maka menyelamlah dia dalam samudera kebahagiaan. Jika kesalahan yang dibeberkan ternyata sangat banyak - lebih banyak daripada kebenaran yang diperbuat semasa hidupnya, maka menyelamlah dia dalam samudera penyesalan.."
"Lalu bagaimana jika kesalahannya berimbang dengan kebenaran yang diperbuat semasa hidupnya?" tak tahan lagi bocah itu menyela.
Kakek itu tertegun lalu kembali menenggak anggur sebelum menjawab, "Ah, tak tahu lah aku nak, sebab semua itu toh hanya karanganku belaka. Buatlah karanganmu sendiri."
Si bocah - yang entah karena pengaruh anggur atau memang sedang jatuh tempo penghayatannya tentang hidup - mendengarkan semua uraian kakek itu dengan seksama. Mulailah si bocah sibuk dengan pikiran-pikirannya sendiri. Kenangan demi kenangan masa lalu tergambar dengan cepat hingga beranjak ke penglihatan masa depan yang samar-samar.
"Jadi aku harus melakukan koreksi," demikian si bocah berkata dalam hati, "Baiklah aku berjanji akan melakukannya."
Dengan bersemangat ditenggaknya anggur itu sekali dan sekali lagi. Namun kali ini aliran anggur yang memasuki perut menghadirkan kegelisahan dalam hati si bocah.
"Tapi bagaimana aku bisa melakukan koreksi sementara aku selalu sibuk memikirkan cara mengisi perut?" pikirnya.
Pikiran itu mendatangkan gelombang kepedihan yang segera memenuhi rongga dadanya. "Apakah aku terlalu miskin untuk bisa melakukan koreksi? Lantas apa gunanya aku ini hidup?" sedih bocah itu membatin. Pertanyaan demi pertanyaan yang berkecamuk dalam pikirannya terasa begitu menyesakkan dada hingga si bocah membelalakkan mata.
Seakan dapat merasakan kegelisahan si bocah, kakek itu mengalirkan lagi kata-katanya. "Jangan berkecil hati. Meskipun miskin kita tetap dapat menjalani hidup ini dengan benar. Sebab di mata Tuhan semua orang itu sama," kata kakek coba menghibur.
"Tu-han," ulang bocah itu lambat-lambat, "Telah beberapa kali aku mendengar orang menyebutNya tapi belum banyak yang kupahami tentangNya." Dia menoleh ingin bertanya lagi pada si kakek namun dilihatnya kakek itu menyandarkan kepala sambil terpejam. Maka si bocah mengurungkan niat lalu kembali sibuk dengan pikiran-pikirannya.
Perlahan kakek itu menghela napas lega. Dia merasa sudah cukup berkata-kata. Sering dia merasa pusing jika terlibat dalam pembicaraan soal salah atau benar. Malam ini dia enggan jika harus dipusingkan oleh seorang bocah. Apalagi tentang Tuhan dia sendiripun tidak paham terlalu banyak. Tanpa membuka mata kakek itu membayangkan gambar orang tua pada kemasan botol anggur, lalu mengucap dalam hati, "Terimakasih, wahai orang tua yang bijak. Malam ini kau telah memberiku air kata-kata.." Sebentar kemudian ia telah sampai pada keheningan yang lelap.
Dalam kesendirian, si bocah mengalami pergulatan antara gelisah dan haru karena mengira janji yang diucapkannya tadi telah menjadi catatan langit. Ia dongakkan kepala memandang langit.
Di langit awan berarak, berkejaran dengan bulan. ****



