Aku ingat, suatu ketika duduk di teras rumah. Di luar air mengguyur deras. Aku pepetkan tubuhku menjauh dari angin yang membawa tampu rintik. Walau sebenarnya relungku tak begitu suram, namun langit benar terlihat muram. Belum sekalipun, semenjak aku lahir, langit bersedia menghentikan hujan.
Pernah aku minta pada Tuhan,“beri aku terik, walau hanya sebentar.” Tapi sampai saat ini toh belum terkabulkan. Hatiku kadang miris melihat tetangga di komplek sebelah, dimana mereka memiliki langit, juga Tuhan yang lebih baik. Di sana langit memberi waktu pada angin, juga pada musim tuk menyapu hari. Sedikit memberi kesempatan pada cuaca demi menghidupi cirinya sendiri.
Aku iri melihat itu semua. Dan perlahan, dengan mematah sapu serta memotong gorden di ujung teras, dalam diam kubuat payung untukku. Terlebih lagi untuk Asu, anjing peliharaan yang sebenarnya telah lama sepikir denganku.
Kalau mau, kapanpun bisa aku terabas jeruji-jeruji langit. Deras atau gerimis sudah lama tak ku pedulikan. Itu akan ada selamanya, kecuali aku meretas dengan pergi daripadanya. Tapi kasian Asu, anjing itu bisa kedinginan jika kupaksa pergi berbasah. Kebersamaan dengannya malah bisa menjadi maut. Tanpa payung, Asu bisa kuyup. Jika kuyup, ia mati dan aku tak akan lagi punya anjing. Aku tak akan punya Asu lagi.
Bulan-bulan itu kuhabiskan waktu di luar kamar, dipojok teras tuk menyelesaikan payungku. Kadang Asu datang, melihat payungnya atau sekedar mampir kencing saja. Dan kadang akupun yang kedalam, sekedar kencing atau mampir melihat Asu.
Sudah seperti rutinitas aku meladeni ini semua. Dan langit, juga jerujinya tetap seperi biasa. Bermuka muram terus menetes tanpa melihat banyaknya derita bah, penyakit kawasan kumuh, korup bantuan kemanusiaan, mati listrik, mahalnya prau karet, juga deposito sampah. Air menderas, sementara di bawah ada jerit yang makin mengeras. Cakrawala menulikan diri, dan tanah kehabisan asa, kalut dalam nama bencana. Aku, juga Asu makin bersemangat dengan payung kami. Secepat mungkin lari daripadanya.
Tapi apa yang terjadi jauh dari semestinya. Dulu, paling kupikir ibu akan melarangku terus-menerus diteras membuat payung. Atau mungkin bapak marah karena gorden sutra berajut benang biru colonganku dari tetangga telah terpotong sepertiganya. Itu pikiran terburuk. Namun jika aku berkeras, toh payung itu akan tetap jadi dan membawa aku serta Asu pergi.
Namun kenyataan memang pahit. Lebih pahit dari bayangan terpahit. Malam itu aku kaget, teras dan rumahku roboh gara-gara jeruji langit. Air menggerus fondasi yang dulu dibuat dengan ngutang sana-sini, tetesnya memecahkan genting dan melapukkan kayu atap. Akhirnya, ambruk! Payung belum terselesaikan, dan Asu keburu mati terinjak olehku sendiri yang lari menghindar sambil menjerit.
ASU


