Bekisar Merah, Ahmad Tohari - Sebuah Resensi

Resensi Buku


BEKISAR MERAH
Ahmad Tohari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan keempat th.2001, 309 halaman

Dalam perjalanan saya bersama isteri dari Jakarta – Semarang – Yogyakarta – Jakarta dengan VW kodok kami, kami mampir di sebuah toko buku. Kami membeli beberapa buku, di antaranya sebuah novel karya Ahmad Tohari, Bekisar Merah, yang pernah dimuat di harian Kompas tahun 1993 yang lalu. Meski sudah lebih dari limabelas tahun lalu, namun novel ini masih merupakan salah satu novel bagus dari Tohari, di samping triloginya yang terkenal: Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari dan Jentera Bianglala.

Buku ini mengisahkan tokoh-tokoh yang hidup di desa kecil Karangsoga, yang kebanyakan penduduknya bekerja sebagai penderes nira kelapa untuk dibuat gula merah. Karena nafkah utama berasal dari penderesan nira dan pembuatan gula kelapa saja, maka mayoritas penduduknya hidup dalam kemiskinan. Pasangan Darsa dan Lasi (Lasiyah) menjadi tokoh utama dalam novel ini. Darsa yang penderes, beristerikan Lasi yang cantik dan berkulit putih, yang mempunyai nilai fisik di atas rata-rata isteri-isteri para penyadap lain. Ternyata Lasi merupakan keturunan campuran antara mbok Wiryaji dengan seorang tentara Jepang yang setelah pernikahannya, tidak pernah kembali ke desa dan hilang tidak tentu rimbanya – kabarnya ditahan Belanda.

Kemiskinan penduduk digambarkan dengan sangat menyentuh oleh Tohari. Pemahaman kondisi sosial masyarakat miskin, yang erat kaitannya dengan struktur perdagangan gula yang tidak pernah adil, digambarkan dengan sangat rinci. Kekuatan lain dari novel-novelnya adalah pemaparan yang sangat artikulatif tentang alam pedesaan. Pembaca seolah dibawa ke alam pedesaan hingga dapat merasakan angin sejuk pagi hari yang semilir, menyaksikan burung jalak yang memberi makan anak-anaknya, kelentang-kelentung bunyi pongkor (bambu untuk menadah getah nira), ataupun gemericik sungai Kalirong yang jernih yang airnya mengalir lewat batu-batu berlumut. Pemahaman tentang masalah sumberdaya alam juga sangat dalam, misalnya tentang perusakan hutan tutupan oleh penduduk setempat karena faktor kemiskinan mereka. Tidak ada alternatif untuk memperoleh keuntungan sedikit lebih, dengan ‘mencuri’ kayu sebagai bahan bakar membuat tengguli, bahan gula merah.

Musibah yang sering terjadi di kalangan para penderes nira adalah jatuh dari pohon kelapa. Demikian juga nasib Darsa. Karena jatuh, yang dalam kebiasaan masyarakat disebut sebagai “kodok melompat” (pantang untuk menyebut jatuh dari pohon kelapa – sebagai pengingkaran rasa takut komunal), Darsa sempat menderita kelainan di sekitar alat reproduksinya, lemah pucuk. Diapun, karena miskin, hanya dirawat oleh seorang dukun bayi, Bunek. Lasi dengan setia tetap menemani suaminya meski dalam kondisi lemah dan selalu ngompol. Lama kelamaan, karena pengobatan intensif yang dilakukan Bunek terutama pada sekitar selangkangan Darsa, diapun bisa pulih kembali. Pada malam “kebangkitan kembali” si Darsa, Bunek minta agar dicobakan pada Sipah, perawan tua anak Bunek sendiri. Meski mengalami kebimbangan luar biasa karena pergulatan seru antara nilai-nilai kesetiaan, norma sosial, nafsu berahi, serta utang budi, akhirnya (dalam keputusan yang lebih banyak impulsif) Darsapun memenuhi permintaan Bunek. Sipah pada akhirnya minta untuk dikawin. Pengkhianatan Darsa membuat jagat kecil Lasi bergoncang dengan hebat. Dia lalu nekat minggat dari desanya dengan menumpang truk pengangkut gula, menuju Jakarta.

Cerita lalu banyak membedah batin Lasi. Sebagai perempuan desa yang cantik yang telah terbiasa hidup dengan segala kemiskinannya selama dua puluh empat tahun, secara tiba-tiba dihadapkan dengan norma-norma kehidupan kota besar yang amat sangat asing baginya. Dia yang ditampung sementara oleh ibu Koneng, pengelola warung tempat para sopir truk mampir yang juga menjadi tempat berpangkalnya para perempuan “pacar” para sopir truk, menyaksikan nilai-nilai sosial yang teramat sulit dipahami oleh seorang perempuan desa yang sederhana dengan tingkat pendidikan yang rendah. Misalnya, keintiman lelaki dan perempuan yang selama ini dipahami sebagai perilaku yang didasari oleh percikan jiwa dan cinta, di warung itu bisa terjadi dengan begitu gampang, oleh siapa saja, dengan dasar beberapa lembar uang kertas.

Singkat cerita, Lasi, yang mempunyai kelebihan bentuk tubuh dan wajah yang indah, menjadi “barang dagangan baru” yang langka dan sangat berharga bagi ibu Koneng, yang lalu diserahkan ke Ibu Lanting, mucikari tingkat tinggi yang melayani para pejabat, dengan imbalan sebentuk cincin berlian. Para pejabat pemerintah saat itu diceritakan mempunyai kebiasaan mencari “pacar” atau isteri kesekian yang mempunyai wajah mirip orang Jepang. Ini akibat dari perilaku latah birokrat karena Pemimpin Besar-nya memasukkan seorang geisha ke istana dan akhirnya menjadi ibu negara. Klop sudah, dengan Lasi. Dia yang mempunyai wajah seorang perempuan Jepang, menjadi incaran para pejabat. Diapun lalu ditukar dengan sebuah mobil Mercedes dan beberapa puluh juta rupiah oleh ibu Lanting kepada Pak Handarbeni, seorang overste purnawira yang menjadi pejabat, berumur hampir enampuluh lima tahun, gemuk, dan sudah mempunyai dua isteri. Lasi-pun menjadi seekor
bekisar yang menjadi pajangan di rumahnya yang baru dan mewah di Slipi. Bekisar adalah peranakan ayam hutan dan ayam kampung yang mempunyai keindahan bentuk, bulu, dan kokoknya. Biasanya jenis ayam ini untuk hiasan dalam kandang indah oleh para orang kaya.

Lasi, yang akhirnya dikawini Pak Handarbeni (perkawinan main-main menurut istilah Lasi), menikmati segala kemewahan materi yang tidak pernah terbayangkan oleh bekas seorang isteri penderes nira dari desa Karangsoga. Namun di balik segala kemewahan materi, penderitaan batin Lasipun amat berat. Dia merindukan desanya, emaknya, dan Kanjat, teman sepermainannya waktu sekolah yang sekarang sudah menjadi mahasiswa dan hampir lulus. Pertemuan-pertemuan dengan tokoh-tokoh lama dalam hidupnya membuat Lasi makin linglung karena berdiri di antara dua nilai kehidupan yang dipisahkan oleh jurang yang teramat dalam.

Saya selalu menikmati tulisan Tohari, karena keakrabannya dengan alam pedesaan, dengan penggambaran pergulatan dalam jagat kecil tokoh-tokoh dalam ceritanya, cengkeraman struktur politik negara yang selalu tidak adil bagi rakyat kecil, bahkan pemaparan tentang titik nadir terendah dalam kemiskinan seseorang di mana yang ada hanyalah kepasrahan total. Tidak ada alternatif. Kemarahan karena perlakuan yang tidak adil dalam hidup tidak tahu harus ditumpahkan kepada siapa. Kepekaan Tohari dengan kehidupan masyarakat miskin membuat kita (sebagai orang Jakarta metropolitan) berhenti sejenak. Membuat kita berpikir dan merasakan, betapa ada jenis kehidupan lain yang berbeda dengan jenis kehidupan kita. Betapa masih ada jagat dengan seluruh tatanan nilai yang sangat asing bagi kerangka pikir dan tatanan nilai kita. Namun, tatanan nilai asing tersebut selalu mampu mengajak kita untuk mengasah lagi pisau nurani kita yang barangkali telah tumpul oleh kenikmatan materi dalam hidup sehari-hari. Hidup yang kering dari kesejukan nurani.

Sampai jumpa di pembahasan buku berikutnya ……

Salam,
AW/73