Bias Edukasi

Pendidikan

Menarik sekali apa yang disampaikan mas RH, Pak Kadi, dan BP dalam diskusi pada Pendidikan, untuk apa?.

Menurut saya pada dasarnya pendidikan adalah upaya intervensi duplikasi sebuah pemahaman, keterampilan, dan cara berpikir tertentu. Karena intervensi, maka pasti ada bias dari pihak yang mengintervensi. Bias muncul karena duplikator punya latar pikir dan sikap tertentu dalam memandang dunia. Kolese Jesuit tidak mungkin lepas dari nilai-nilai prinsip dan dasar Ignatius Loyola, seperti halnya Taruna Nusantara tidak mungkin lepas dari konteks nilai tertentu. Ignatius Loyola yang berprinsip mentalitas lebih (magis) pada satu sisi akan menghasilkan sikap excellence yang berdampak pada penguasaan kompetensi yang tinggi, elitism, dan superioritas. Sikap itulah yang membuat Fransiscus Xaverius menjadi pribadi yang sangat kuat, ndableg, dan punya endurance yang tinggi. Jangan salah, sikap seperti inilah yang sangat penting buat proyek misi abad-abad itu.

Jadi betul tulisan RH bahwa pendidikan harus diarahkan pada tujuan tertentu karena memang sifatnya instrumental. Karena tujuan sifatnya spesifik, maka tidak mungkin bisa mencapai nilai-nilai universal. Pasti ada wilayah nilai, kompetensi, cara pikir yang tidak ter-cover. Jadi omong kosong kalau pendidikan bisa menciptakan manusia berbudi luhur, memanusiakan manusia, bla bla bla sekaligus. Pasti ada hal yang luput dari proses pendidikan.

Lalu di manakah kepenuhan kemanusiaan seperti kata Pak Kadi? Sebagian dari Anda mungkin ada yang paham model psikologi bernama eneagram. Model ini ada dalam buku Psikologi Hidup Rohani karangan pastor jesuit Indonesia, lupa namanya. Saya sepakat pada model itu yaitu bahwa perlakuan edukatif apapun pada individu akan menghasilkan dua sisi sekaligus yaitu sisi positif dan negatif, gelap dan terang. Jadi the whole human identity tetap akan memiliki dua sisi unsur itu. Itulah manusia seutuhnya, yaitu manusia yang punya paradoks. Sehebat-hebatnya Kolese, tetap saja tidak mungkin fully positive. Demikian pula Taruna Nusantara. Perbedaan sistem pendidikan ada pada variasi positif dan negatifnya saja. Variasi itulah yang lalu kita sebut sebagai ciri-ciri pendidikan de britto, taruna nusantara, sma negeri brosot, dll.

Eneagram mengajari kita untuk melihat pendidikan secara wajar, dan untuk mengampuni "dosa-dosa" orang tua kita karena niat baik mereka tidak pernah menghasilkan kita dengan satu sisi baik tanpa karakter buruk, meskipun niat mereka baik.

Bahkan model "liberatif" Ivan Illich, Deschooling Society, tetap saja punya bias karena dia hanya mampu liberal dalam konteks melawan kapitalisme saja, dan belum tentu pada aspek yang lain.

Re: Bias Edukasi

Catatan carik: Tanggapan ini ditulis oleh DP82 pada milis debritto.net

Apakah anda pernah mendengar peribahasa ini? "Anda melatih binatang, dan anda mendidik manusia". Pepatah lama itu menggambarkan bahwa pendidikan adalah untuk manusia. Pendidikan adalah proses yang harus dilakukan secara benar agar hasilnya juga benar. Pendidikan yang benar akan sangat tergantung pada tujuan pendidikan itu sendiri. Seperti pandangan Paulo Freire, pendidikan adalah proses penyadaran dengan hakekat tujuannya adalah pembebasan.

Pengekangan dan penindasan pikiran hanya membuat manusia tidak bisa mengenali realitas di sekitarnya. Bukan baik-buruk, benar-salah, boleh-tidak boleh yang menjadi landasan berfikirnya, tetapi lebih pada larangan, tidak boleh dan jangan. Tanpa ia tahu apa alasan di belakang larangan tersebut. Yang didapatkan hanya sekedar hafalan, bukan pengertian. Dalam kondisi demikian, manusia tidak akan mampu mencapai tingkat kesadaran kritis teradap realitas. Orang yang mengerti bukanlah orang yang menghafal, karena ia menyatakan diri atau sesuatu berdasarkan 'sistem kesadaran'. Sedangkan orang yang menghafal hanya menyatakan diri atau sesuatu secara mekanis tanpa (perlu) sadar apa yang dikatakannya, darimana ia telah menerima hafalan yang dinyatakan itu, dan untuk apa ia menyatakannya kembali pada saat tersebut.

Pendidikan semestinya memberi keleluasaan bagi setiap orang untuk mengatakan kata-katanya sendiri, bukan kata-kata orang lain. Pembelajar harus diberi kesempatan untuk mengatakan kata-katanya sendiri, bukan kata-kata sang guru. Nah yang demikian de Britto sudah melaksanakannya "pada jamannya". Sengaja kata "pada jamannya" berada dalam tanda kutip, karena pada waktu itulah saya mengalaminya. Mengalami untuk mengungkapkan kata-kata saya sendiri, bukan kata-kata para guru. Sekarang saya tidak tahu lagi apakah de Brito masih seperti itu, karena saya sudah tidak mengalaminya lagi.

Kalau melihat para alumni, sepertinya pelaksanaan pembebasan memang terasa sekali. Asli, orisinal, tanpa dibuat-buat, apa adanya tanpa takut, tanpa malu dan tanpa dosa......

DP/82
lagi serius