Warning: session_start(): Cannot find save handler user in /home/dbnet/public_html/includes/session.inc on line 10
Crito mlarat kesrakat jaman dulu, kenangan indah masa kini. | debritto.net

Crito mlarat kesrakat jaman dulu, kenangan indah masa kini.

Pendidikan

Jaman dulu semua orang itu susah, dan alhamdulilah kita berhasil melewatinya. Namun, mas-kangmas, mas-dimas, ternyata jaman susah kita dulu, ini juga dialami adik-adik kita yang sekolah di JB saat ini.

Kalau dulu mungkin situasinya lebih "mudah", karena hampir semua mengalami mlarat bersama, namun kalau sekarang?

Sekarang:

- Perbedaan yang berpunya dan tidak berpunya, sudah sangat jauh.

- Individualisme sudah sangat mengakar?

- Dunia lebih konsumtif, hiburan dikala susah hanyalah TV (krn murah, tidak bayar) sedangkan iming-iming konsumerisme dari TV sudah sangat kebablasan. (Mas-mas yang biasa hidup di LN, tolong apakah pendapat/pengamatan saya benar, Iklan TV Di Indonesia itu sangat sangat padat dan kebangeten isinya, bahkan dibanding iklan TV di negera negara paling maju sekalipun).

- Sekarang ijasah sudah tidak ada harganya, apalagi kalau tidak punya ijasah SMA.

- Penduduk sudah semangkin banyak, dan banyak yang hidup sekedar hidup, tinggal sedikit diprovokasi, jadilah mereka bahan bakar untuk menuju entah kemana.

- Dulu bahan pokok ngantri, karena barangnya langka, dan masih bisa diatasi karena kita tidak terlalu tergantung?. Kalau sekarang barang berlimpah, namun banyak yang punya daya beli terbatas.

- Biaya sekolah yang mahal (entah de Britto sekarang), padahal untuk datang kesekolah pun, sudah perlu biaya yang tinggi.

- Dst, dst.

Nah, kalau kita ber-ibarat bahwa sekolah de Britto itu ibarat "Indonesia Mini yang Ideal", ataupun kalau belum ideal, knapa tidak kita jadikan de britto merupakan protype kehidupan masyarkat "Indonesia Mini yang Ideal", kenapa tidak?

Di kampus Jl Solo 161, kita dilatih kita toleransi, di situlah kita diberi arti solidaritas, diberi ruang ber-expresi, di sana dilatih diberi suasana selalu ingin maju dan sesuatu yang baru, di sana dilatih kompetisi yang sehat, dst, dsb

Dan bagian kita sebagai alumni? Apakah kita bisa melestasrikan atau mewujudkan Indonesia mini yang ideal ini? Apakah semangat ini dapat ditularkan oleh ex JB kepada seluruh bangsa kita? (Wuih... Mikir bangsa? Namun knapa tidak dari hal-hal yang kecil?)

Darimana kita bisa membantu sekolah kita supaya terwujud "Indonesia Mini yang Ideal" itu?

Menurut pendapat saya pribadi, kita bisa membantu dengan apa yang kita miliki saat ini, kenapa kita tidak mencoba membantu siswa yang sedang kesulitan sekolah karena biaya?

Kenapa kita tidak sokong mereka supaya dapat terus sekolah?

Apakah ini hanya membantu sesaat siswa saja? Jelas Tidak !! Ini juga membantu sekolah, karena secara tradisi (atau kebetulan? Atau kesengajaan?) bahwa siswa yang diterima di de Britto rata-rata 20%-nya dari keluarga yang sederhana, bahkan kekurangan.

(Yen pengin gampang sebetulnya de Britto bisa "high profile", seperti SMA Pelita Harapan, Binus, Madania, dsb, dengan mengatakan mereka terbaik, menjanjikan angin surga, padahal mereka sekolah kemarin sore. Namun begitu orang-orang tertarik, ternyata mahal banget. Dan itulah yang mereka jual, harga mahal mutu bagus. Ada harga ada rupa. Apakah itu masa depan de Britto supaya bisa survive?)

Dan yang penting dan manfaat terbesar apabila kita, alumni, dengan beasiswa ini, suasana guyub dan saling membantu ini dapat TERCETAK dan TERBAWA oleh oleh siswa-siswa de Britto dalam bermasyarakat secara luas.

Ibaratnya kita berusaha memberikan Patron, Mould, Cetakan, Gen ataupun apapun namanya, untuk masyarakat Indonesia kedepan. Membuat cetakan Indonesia yg Ideal, dengan hanya dengan sedikit peduli kepada siswa-siswa yang kurang mampu saat ini.

Wis gitu aja le nggambleh.
Bosen yo ben

Argo Harsoyo
Komite Beasiswa Paguyuban Alumni de Britto


Fatal error: Unknown(): Cannot find save handler files in Unknown on line 0