Gempa di Jogja

Peristiwa

Dari Pak Kadi

Lurs...

Terima kasih atas perhatian dan simpati SEMUA teman-teman atas musibah gempa di Yogya-Jateng. Minta maaf sejak Sabtu pagi HP tidak bisa mereply sms yang masuk. Listrik mati. Semua panik.

Sabtu pagi (27/5) saya sudah bangun jam 04.00, masak untuk makan pagi, bersih-bersih ini dan itu, mandi dan 05.40 siap makan pagi. Sekitar 05.50, duduk di meja makan, baru 3 suapan nasi masuk ke mulut, tiba-tiba rumah seperti digoncang, alat makan di buffet langsung tumpah. Saya lari ke luar disusul anak saya, ternyata genting-genting rontok, air tandon untuk masak tumpah terlempar bersama dengan drumnya, botol besar untuk air destilasi terlempar dan pecah meledak, suara barang-barang jatuh dan bangunan roboh sangat mengejutkan. Saya tidak tahu akan berbuat apa selain memegang tangan anak saya di halaman belakang rumah dan berkata pada anak saya, "Gempa,Wuk!". (Seumur-umur baru kali ini mengalami gempa sedahsyat ini)

Selesai gempa yang sekejap itu suasana sangat tintrim. Saya masuk ke dalam rumah , listrik ternyata mati. HP tidak dapat difungsikan. Saya berpikir, saya harus menyelamatkan lingkungan yang terdekat dulu. Saya keluar lagi, melihat genting rontok tak mungkin ditambal sulam, dinding rumah retak-retak, tembok halaman sisi barat roboh rata dengan tanah; masuk lagi ke dalam rumah, buku-buku terlempar keluar, kaca-kaca buffet dan lemari hias hancur, pintu tidak dapat ditutup, anjing-anjing lepas entah lari kemana, monitor komputer terlempar ke lantai....

Sesaat kemudian jalan dipenuhi orang-orang yang terguncang gempa yang begitu dahsyat. Masyarakat pun panik cenderung ke histeris. Selain akibat guncangan gempa mereka juga dibayangi oleh bahaya tsunami. Maka, sewaktu ada orang berteriak air meluap... tak ayal orang berlari-lari, naik kendaraan roda dua atau empat, berusaha mengungsi ke arah utara... Saya bersama para tua-tua berusaha menenangkan saudara-saudara sekeliling yang panik, ada anak-anak yang baru ditinggal orang tuanya bepergian ke luar kota, ada anak yang sedang sakit, ada orang tua yang kejatuhan runtuhan plesteran tembok, ada yang rumahnya roboh... Pukul 08.00 ada gempa susulan, pukul 10.10 gempa susulan lagi. Sampai siang, sore, bahkan malam orang takut masuk ke rumah. Tadi malam banyak orang memilih tidur di luar rumah.

Gedung de Britto sekilas tidak apa-apa, tetapi atap ruang lab. komputer, audio, lab. fisika, dan lab. kimia rontok. Ruang lab tidak bisa difungsikan. Lebih-lebih lab. Kimia, banyak botol pecah sehingga sampai hari Minggu belum boleh dibuka karena baunya dikhawatirkan mengganggu kesehatan. Genting ruang kantor dan kelas juga banyak yang melorot. Beberapa dinding mengalami keretakan. Senin akan dicek semua kerusakannya.

Gereja Baciro, dinding depan tempat sangkristi dan salib besar, serta lonceng gereja; runtuh. Koster menjadi korban. Dari arah timur gereja tampak berlubang besar.

Jumlah korban dapat teman-teman simak dari aneka media, yang jelas selain korban jiwa, kerugian dalam bentuk fisik sangat besar. Hampir semua bangunan yang tidak memakai kerangka besi roboh. Kalau toh tidak roboh sesaat, ambruknya kemudian, misalnya Minggu pagi (28/5) sebuah rumah di daerah Depokan baru ambruk. Bangunan-bangunan banyak yang retak fatal sehingga tak bisa dihuni lagi. Salah seorang teman kita di Bantul, Mas Suhadi, juga hancur rumahnya. Mas Tony Pongoh kakinya retak sekarang dirawat di RS Magelang. Bu Heru juga. Rumah beberapa teman karyawan de Britto juga rusak parah.

Senin (29/5) teman-teman dari Jakarta akan kumpul-kumpul ngrembug apa yang dapat diperbuat. Mohon teman alumni Jakarta dll. dapat bekerja sama dengan sekolah karena romo pamong dan siswa juga sudah menyiapkan karya kemanusiaan bersama. Tuhan beserta kita.

Sekian dulu,

P. Kadi