Sejak lama aku ingin jadi gila, namun aku tak tahu caranya. Tentu orang tak bisa menjadi gila hanya semata-mata karena ingin menjadi gila. Sebagaimana halnya orang tak bisa menjadi bijak hanya karena ingin menjadi bijak, atau menjadi pintar hanya karena ingin menjadi pintar. Namun orang bisa saja belajar demi menjadi bijak atau pintar, dan sementara aku masih belum tahu bagaimana caranya untuk menjadi gila. Bisa saja orang jadi gila karena mempelajari kesaktian, atau frustrasi mengejar cinta, atau mentok meraih prestasi, namun tak ada cara yang langsung dan pasti supaya jadi gila. Kegilaan bagai anugerah, bagai wahyu --hanya diturunkan kepada orang-orang tertentu saja.
Bagaimana asal mula keinginan ini? Seperti kubilang, keinginan ini sudah sejak dulu ada. Hanya, kenapa sekarang baru muncul, tentu ada pemicunya. Aku bisa bercerita panjang lebar kalau mau, tetapi kurasa lebih baik singkatnya saja.
Singkatnya, waktu itu perusahaan tempatku bekerja bangkrut. Maklumlah. Kondisi agen wisata kecil di daerah pada zaman ekonomi kritis seperti sekarang: hidup segan, mati tak mau. Sedikit pesangon, kutanamkan pada usaha jual-beli kayu. Mula-mula lancar, meskipun harus banyak berurusan dengan oli-lumpur-dan-pungli. Sial. Belum lagi modal kembali, truk yang kusewa bersenggolan dengan bis AKAP di sebuah tanjakan dekat perkebunan kopi, di daerah antara jalur Yogyakarta-Semarang. Jangan tanyakan ganti rugi. Kali ini aku harus rela melepas rumah KPR yang belum lagi kulunasi, dan terpaksa mengontrak rumah lain persis di sebelahnya.
Lebih buruk lagi. Istriku tak mau tinggal di sana. Malu sama tetangga, katanya. Kalau tidak punya salah, kenapa harus malu, jawabku. Dia tidak berkata apa-apa, hanya menggandeng satu-satunya putri kami yang berusia 3 tahun ke rumah orangtuanya. Dengan segan aku ke sana, menjelaskan masalah kami, dan mengajaknya kembali ke kontrakan. Ibunya, mantan warakawuri, berkata bahwa istriku HARUS tinggal di rumahnya sampai aku mendapat rumah baru. Bapaknya, pensiunan tentara, menengahi dengan menawari kami untuk tinggal bersama-sama mereka. Tidak bisa. Tak mau tinggal bersama mertua. Tak mau mereka bertemu para penagih hutang. Biarlah istriku tinggal di sana kalau mau. Enak juga sekali-kali kembali membujang, pikirku. Lagipula kontrakan sudah terlanjur kubayar.
Sesudah memberikan sisa tabungan kepada istriku, aku terpaksa hidup sangat hemat mengandalkan uang jatah sebulan dipakai dua bulan. Tak mudah mencari pekerjaan baru, mengandalkan surat keterangan dari sebuah kantor swasta yang bangkrut. Beberapa rekan kantor dulu kudengar juga belum semuanya mendapat pekerjaan. Untunglah seorang tetangga menawari aku menjagakan wartel miliknya.
Hal-hal yang susah-susah, hal-hal lain yang rinci, biarlah kusimpan sendiri. Sementara ini, mungkin kau masih belum melihat alasan, kenapa aku berkehendak menjadi gila. Wajar toh, orang ingin dikatakan alim atau pintar. Tetapi, g-i-l-a-? Kalau kujelaskan, jangan salahkan aku, kalau nanti kau mau ikut-ikutan.
Yang pertama adalah, karena seumur hidup aku belum pernah gila. Tentu aku pernah gila-gilaan, seperti berdandan tak karuan di pertokoan atau bertingkah laku aneh di jalanan. Namun dalam segala hal itu aku masih tetap sadar, bahwa aku tidak gila, bahwa aku sekedar cari perhatian saja. Waktu itu kami masih kuliah, dan ketika kuliah kita biasa gila-gilaan untuk cari perhatian, kan?
Jadi, aku ingin menjadi gila karena aku belum pernah gila. Seperti pepatah Jawa, 'hidup sekedar persinggahan untuk mereguk air', aku berpendapat bahwa aku ingin mengalami pengalaman sebanyak-banyaknya dalam hidup. Kaya meskipun hanya sekedarnya, aku pernah mengalami. Miskin juga sudah kualami. Berbuat bijak, maupun bodoh, dua-duanya pernah kujalani. Untung atau sial, tentu setiap orang pernah mengalami. Kemana-mana aku juga pernah. Merambah hutan-hutan Kalimantan, mendaki gunung-gunung Sumatera, merayapi sungai-sungai di Jawa, menyelami terumbu karang di Sulawesi, semua pernah juga walau bisa dibilang sekedar numpang. Ke luar negeri aku memang belum, tetapi aku tidak terlalu tertarik --hanya orang-orang yang sama, namun berbeda warna, berbeda bahasa, berbeda budaya; aku sering bertemu orang seperti mereka.
Tak harus dijelaskan bahwa aku tidak tertarik ke luar negeri, karena sebenarnya ekonomiku tak mampu.
Namun, menjadi G-I-L-A, itu hal menarik, satu-satunya yang belum pernah kualami, yang ingin kurasakan.
Yang kedua, seperti yang telah kukatakan, kegilaan adalah anugerah. Kegilaan adalah rahmat. Itu jelas. Kegilaan tak bisa diusahakan, atau diwariskan, melainkan hanya bisa diberikan oleh Tuhan. Dengan menjadi gila kau tak perlu khawatir tentang keluarga, tentang omongan para tetangga, tentang keadaan negara, bahkan kau tak perlu khawatir tentang dosa. Singkat kata, kau tak perlu pusing soal tanggung jawab dalam hidup ini. Bayangkan, berbuat apa saja tanpa konsekuensi apa-apa. Orang lain mengutuk: "Gila" dan aku bisa berlalu begitu saja. Pengadilan memutus: "Gila" dan paling-paling aku hanya masuk rumah sakit jiwa milik negara, bukan penjara.
Jadi mungkin kau lihat, salah satu alasanku ingin menjadi gila adalah karena memusingkan konsekuensi hidup. Kalau tak mau pusing-pusing, kenapa tidak pilih mati saja? Jangan bilang bahwa aku belum terpikir ke sana, tetapi terus terang aku tak mau melakukannya. Telah kupikirkan beberapa cara yang tak wajar, yang karena alasan etis tak mungkin kuurai di sini. Satu-satunya cara yang bisa kuterima hanya mati perang. Masa sekarang ini, memangnya mau berperang melawan siapa?
Yang ketiga, dan masih ada hubungannya dengan nomor dua sebetulnya, aku jemu kepada diriku. Aku tak bisa menjadi orang lain, tetapi setidak-tidaknya aku ingin terbebas dari diriku sendiri. Diriku yang bangkrut, yang sedang putus asa, yang kesepian; bahkan istriku pun tak pernah menjengukku --maaf, bukan maksudku mengajuk-ajuk hati.
Jadi bukan hanya soal pengalaman baru, atau konsekuensi hidup, melainkan juga tentang pembebasan. Aku mau melupakan segala hal buruk, segala kekecewaan dan sakit hati di masa lalu, kesalahanku maupun istriku --setelah menikah maupun semasa pacaran dulu; sikap otoriter orangtuanya, situasi politik-ekonomi-sosial-dan-budaya negara ini yang tak pernah tenteram....
Kalau kesadaranku terhapus, segala kenangan buruk tentu akan terhapus juga, kan? Aku akan terlahir menjadi manusia baru, sosok baru, hidup di dunia yang baru.
Terus terang aku sendiri bingung, seandainya aku benar-benar gila nanti dan tingkah lakuku tak keruan, apakah aku masih tahu siapa aku. Apakah aku masih sadar tentang diriku sendiri. Beberapa orang gila yang kukenal masih kenal dirinya sendiri sampai batas tertentu (catatan: sebagai riset kecil-kecilan, aku telah bergaul langsung dengan beberapa orang yang secara medis didiagnosa gila). Bukan yang itu yang kuinginkan --aku ingin gila sepenuhnya. Lupa diriku sepenuhnya. Namun kalau aku gila sepenuhnya, dan aku kehilangan kesadaran tentang diriku, lalu siapa sebenarnya yang gila --masihkah aku, atau suatu pribadi lain dalam diriku?
Biarlah waktu yang menjawabnya. Sementara ini orang sudah hampir menilai aku seperti orang gila. Aku acuh tak acuh terhadap orang. Badan tak terurus. Hidup berbalik: siang lelap, malam pun jaga. Jendela kontrakan kubuka di malam hari dan kututup di siang hari. Tangan menggebrak meja atau kepala kubanting ke dinding, setiap ada beban sesal melintas di pikiran. Sering juga sekedar berteriak kesal.
Namun kesadaran masih kuat bercokol. Kegilaan masih jauh dari akal. Aku masih waras. Kalau saja ada perang di dekat-dekat sini, tentu aku sudah pergi ke sana!
Oleh sebab itu, Saudara-saudara, dengan sepenuh hati saya mohon, seandainya ada yang tahu, berilah saya petunjuk bagaimana menjadi g-i-l-a.
*Magelang, Mei 2005*



