Ki lurah Bardhono sudah menerangkan kepada kita dengan perumpamaan tentang upil pada teks pidato awal tahunnya untuk menggambarkan seperti apa itu komunitas Alumni. Saya berpendapat bahwa untuk sampai pada gagasan upil itu saja sudah membuktikan bahwa lurah kita telah bekerja dengan kesungguhannya, maka pencapaian kesadaran tentang upil perlu diberi salut. Juga salut kepada tetuwa-tetuwa lain yang bersedia ngiguhke bersusah-susah mengurusi hal susah di saat serba susah seperti sekarang ini. Alangkah baiknya jika kisah tentang pembentukan Paguyuban Ikatan Alumni ini dituangkan menjadi tulisan sebagai dokumentasi yang dapat disimak bersama agar mampu menjadi acuan bagi yang muda-muda untuk meneruskan dan mengembangkan hal yang telah dirintis oleh para tetuwa.
Saya ingin bilang bahwa kehadiran situs web sebagai ikon keberadaan/kebersamaan Alumni akan coba terus ditingkatkan agar kadang manuk dapat serasa pulang di kandang sendiri. Tapi seperti kebanyakan teman yang pernah datang berkunjung dan misuh-misuh karena saya persilahkan membuat suguhan sendiri, begitulah kira-kira yang bisa saya lakukan terhadap pengisian materi pada situs web kita. Sistem telah dibuat dengan segala kekurangannya untuk dikembalikan kepada komunitas, agar diisi serta dikembangkan bersama, sebab segelintir penggiat tak akan berarti apa-apa - bahkan akan kehabisan gaya - jika kebanyakan orang memilih untuk menjadi penonton saja.
Tampaknya sementara ini saya baru bisa usul tentang kegiatan virtual, tentang yang riil seperti mancing-mancing, mangan-mangan, kumpul-kumpul, dsb itu saya mendengar kabarnya saja sudah ikut bergembira, jika ada kesempatan baik tentu juga ingin turut serta. Tentang mbanting-mbanting, tulung-tulung, dsb itu kan tradisi yang perlu terus dipertahankan. Ning asline aku ya lagi melu mbanting gek pas MPK wingi kuwi ding..


