banyak orang saleh yang kaya, tapi banyak pula yang miskin
banyak orang jahat yang miskin, tapi banyak pula yang kaya
artinya : Tuhan tidak campur tangan dalam soal ekonomi,
moralitas bukanlah variabel penentu bagi kemakmuran
implikasinya : jangan berdoa untuk minta rejeki ekonomi
(percuma, sebab Tuhan akan cuek saja)
mintalah pada Tuhan :
kedamaian hati, ketenangan pikir, kesehatan jiwa,
keteguhan iman, keberanian untuk mati, dan
keberanian untuk (tetap) hidup
selebihnya : URUS DIRIMU SENDIRI
DAN BERHENTILAH MERENGEK-RENGEK PADA TUHAN
soal ekonomi : mintalah bantuan dari sesama manusia
(Tuhan menciptakan banyak manusia, pasti ada maksudNya bukan ?)
namun jika sesamamu tidak ada (lagi) yang peduli :
TETAP URUS DIRIMU SENDIRI
tegakkan kepalamu sampai saat engkau mati, sebab saat itulah
sejatinya engkau mulai hidup abadi, dengan mahkota istimewa
yang diletakkan oleh Tuhan sendiri pada kepalamu
kalau kepalamu tidak tegak, tertunduk lunglai,
Tuhan tentu akan 'kesulitan' menaruh mahkota itu,
tul nggak ?
=== pinggir kali Elo, 19 Januwari 2009 ===
Eh ... ntar dulu ...
bukankah Guru Agung telah mengajarkan rumusan doa
yang salah satu kalimatnya berbunyi :
'berilah kami rejeki pada hari ini' ?
Nah Lu !?
Tapi kenapa banyak orang saleh yang sering berdoa
dengan rumusan doa yang diajarkan oleh Guru Agung itu
ekonominya tidak baik ?
Kenapa pula banyak orang jahat dan nggak pernah berdoa
dengan rumusan doa yang diajarkan oleh Guru Agung itu
ekonominya berlimpah ?
=== pinggir kali Elo, 23 Januwari 2009 ===



