Oleh: Yo. Prihardianto
Oye rupa, oke suara. Tak heran jika jagad menyukainya.
Dan seperti layaknya selebriti, perjalanan hidupnya
dipenuhi kabar-kabari, kabar skandal, sas-sus dsb.
Siapakah gerangan dia?
-------------------------------------------------------------------------------------
Proporsinya pas, barangkali itu yang membuatnya
terlihat jelita. Siluetnya persis gambaran sosok ideal
wanita, ramping di pinggang, enak dipandang. Make up
berupa plitur warna jingga kecoklatan. Puncak kepala
berhias ukiran serupa sanggul, komplit dengan empat
buah konde di kiri dan kanan. Belum lagi suaranya,
wow… jangan ditanya!
Sudah pasti, untuk merancang dan membuatnya menjadi
seperti itu dibutuhkan bukan hanya ketrampilan selevel
tukang kayu biasa, tapi perlu pengetahuan matematik,
arsitektur, ilmu akustik, ilmu kimia, ilmu musik serta
daya kreasi yang tinggi. Dan Andrea Amati, seorang
luthier atau pembuat alat musik lute, gitar dan
sejenisnya berasal dari Cremona Itali telah berhasil
menciptakan alat itu jauh berabad lalu, yaitu abad ke
15. Alat musik gesek berdawai empat karya ciptanya itu
kini kita kenal dengan sebutan violin atau biola.
Beruntung, keahliannya membuat biola tidak dimonopoli
sendiri tetapi diwariskannya turun temurun kepada
para putra, sanak kadang, handai taulan serta para
murid. Diwariskan lewat generasi ke generasi, lewat
abad ke abad. Dan di antara para murid terdapat nama
Guarneri abad 16 serta Stradivari, nama yang tidak
asing lagi bagi kita, hidup di abad 17.
SOSOK JELITA
Sosok biola terdiri dari beberapa bagian, atas,
samping dan bawah. Bagian atas disebut soundboard,
top plate, table atau belly. Bagian lainnya adalah
neck, fingerboard, scroll, peg, pegbox, F hole,
bridge, soundpost, senar, fitting, chainrest dan
tailpiece. Scroll berada persis di ujung fingerboard
bentuknya artistik, serupa gelungan. Di tengah-tengah
top plate, terpasang potongan kayu tipis yang disebut
bridge, berfungsi sebagai penumpu senar. Soundpost
atau soulpost berada di dalam bodi, posisinya tegak
berdiri persis di bawah salah satu kaki bridge.
Soundpost itu berfungsi sebagai tiang penopang
sekaligus penghantar vibrasi dari papan atas ke papan
bawah. Kita dapat mengintip keberadaannya melalui
celah F hole yang terdapat di papan atas. Di dekat
scroll, ada empat buah senar terpasang pada tuning
pegs di dalam pegbox. Senar itu besarnya berbeda-beda.
ISTIMEWA
Yang sungguh istimewa, alat musik biola berhasil
dirancang untuk segala usia. Semua umur akan bisa
memainkannya. Ya…, biola itu bisa dibuat diberbagai
ukuran sesuai dengan jangkauan lengan dan jemari
tangan masing-masing kita. Ada ukuran anak-anak hingga
ukuran untuk orang dewasa. Dimulai dari biola
berukuran penuh atau ukuran dewasa 4/4, kemudian
ukuran 3/4, 1/2, 1/4, 1/8, 1/10, 1/16, dan yang mini
1/32. Biola 4/4 memiliki panjang bodi sekitar 35 cm.
Biola 3/4 sekitar 33 cm dan ukuran 1/2 sekitar 30 cm.
Kita perlu catat bahwa biola 3/4 bukan berarti 1/4
kurang dari ukuran penuh.
Ada juga biola yang berukuran spesial, yaitu ladies
violin. Biola ini merupakan biola untuk dewasa namun
sedikit lebih mungil dibanding biola ukuran penuh.
Biola for ladies ini biasa disebut juga biola 7/8 dan
sangat cocok dimainkan oleh jari-jari lentik mereka.
Ada satu piranti penting yang tak dapat dipisahkan
dari biola yakni alat penggesek yang disebut bow. Bow
berujud seperti busur panah, panjang sekitar 75 cm dan
beratnya kurang lebih 60 gram. Bagian pangkal bow
disebut frog atau nut atau heel. Helaian tali tipis
mirip pita kado terpasang di ujung hingga ke pangkal
bow itu. Dan percaya atau tidak, tali penggesek senar
itu aslinya dibuat dari helai-helai rambut ekor
kuda… betina!
DIGESEK
Main biola tak perlu mata. (Lha hiya lah, karena kita
bukan mau main mata…). Sebelum tongkat penggesek
atau bow difungsikan untuk menggesek, talinya perlu
kita gosok dulu dengan rosin agar peret. Selesai
digosok-gosok, kita bisa mulai menyandarkan pantat
biola itu di pundak kiri. Jari-jari tangan kiri kita
siapkan untuk beraksi mengatur nada di sepanjang
finger board. Pangkal bow kita pegang dengan tangan
kanan kemudian kita dapat mulai menggesekkan tali bow
itu kearah senar yang dituju. Kita gesek naik dan
turun sehingga biola bersuara mendesah, menjerit,
mencicit, meringkik dan lalu berlagu tralala dan
trilili. Begitulah kira-kira.
MAFIA
Seiring jaman biola itupun berangkat populer. Metode
pengajarannya berkembang. Para violis, para pemain
biola handal seperti Vanessa Mae dan Idris Sardi
bermunculan, disamping ada juga pemain yang sekedar
amatiran…, kayak saya.
Banyaknya penggemar membuat pasar biola menjadi riuh
semarak. Di dalamnya terlibat kelompok para pedagang
berhadapan dengan kelompok calon konsumen. Terlibat
kelompok pakar yang berhadapan dengan kelompok bakal.
Dan seperti biasa, di tengah pasar raya semacam itu
ada mafia pencari mangsa, yang tega mengakali dan
menipu calon pembeli.
Tak tanggung-tanggung mereka terdiri dari oknum yang
seharusnya paling dapat dipercaya, yakni para
dealer, apraisal serta balai lelang. Modusnya, biola
kelas kambing di tempeli label nama besar, biola
ecek-ecek diberi label dan diaku sebagai karya
maestro. Gilanya, diterbitkan pula sertifikat jaminan
keaslian dan kemudian biola itu…, dilelang!
Skandal pemalsuan atau pembajakan merek seperti itu
banyak terjadi di masa lalu. Nama Stradivarius paling
sering dipalsukan. Namun bukan hanya dia saja, AMATI,
GUARNERI, dan STAINER, juga CAPPA, DALLA COSTA, KLOZ
(KLOTZ), DUKE, BANKS, GAGLIANO, GUADAGNINI,
RUGGIERI, TONONI, VUILLAUME, MONTAGNANA dll. namanya
juga sering dicatut.
Saking banyaknya kasus, dibuatlah kemudian kode etik
pelekatan label atau aturan dagang pada tahun 1958.
Inti aturan, berdagang biola musti jujur. Biola
jiplakan atau biola hasil foto copy musti dibilang
biola copy. Biola tidak orisinil alias orasinil
tidak boleh dibilang sebagai biola orisinil dsb.
BISA APES DONG
Meski tipa-tipu itu peristiwa jadul, jaman dulu,
namun hingga kini dampaknya masih terasa. Hari
berganti, biola-biola berlabel palsu yang dulu
dipersoalkan itu sekarang otomatis menjelma menjadi
biola-biola tua. Mereka dapat ditemukan di mana-mana,
tersebar di seluruh penjuru dunia. Mereka menjadi
biola dengan dosa asal, dengan membawa label aspal
(asli tapi palsu). Dan bukan tidak mungkin kitapun
telah menjadi salah satu korban mafia. Tiwas kita
merasa bangga punya biola tua bermerek, tiwas kita
beli mahal, tak tahunya itu biola bodong. Wah, apes
dong…
DESAS-DESUS
Berita tentang mafia pemalsu label membuat kita kaget.
Tapi kisah yang lain ini, desas-desus seputar biola
bisa bikin kita bingung. Soalnya:
- Ada yang bilang biola tua lebih bagus dibanding
biola baru. Sementara orang lain bilang biola baru
lebih bagus dari yang lama.
- Ada yang bilang biola bagus itu pasti mahal. Orang
lain bilang biola mahal pasti bagus.
- Ada orang bilang biola buatan Asia kurang bagus
dibanding biola made in Eropa.
- Ada orang bilang, biola dengan bodi kayu bermotif
macan loreng lebih bagus suaranya ketimbang yang lain,
yang tidak bermotif loreng.
- Ada orang bilang pada label apabila dua digit angka
tahun terakhir berupa tulisan tangan dengan pensil,
bukan dicetak, itu berarti label asli.
Semua yang dibilang itu tentu tidak seluruhya benar.
Ada yang kabar burung tapi juga ada yang memang
kabar betul. Ada yang mitos dan ada yang yektos.
Bingung dah …..
BIOLA STRADIVARI
Kabar-kabari seputar biola memang cukup seru. Info
mutakhir berkisah tentang biola Stradivari yang
harganya kini melangit. Konon salah satu biola yang
dijuluki “The Hammer”, laku 3,5 juta US dolar pada
bulan Mei 2006. Biola Stradivari yang lain laku lebih
dari 2 juta dolar pada bulan april 2005. Yang lain
lagi terjual seharga 2,7 juta dolar pada April tahun
ini, melalui balai lelang Christie.
Ya, kalau boleh diumpamakan, biola langka itu ibarat
lukisan. Karya handmade, karya semata wayang, tidak
ada duanya. Contohnya Stradivari, membuat biola secara
handmade, menggarap sendiri biola itu dari awal
proses hingga karya itu tuntas. Dengan cara kerja
seperti itu tentunya tidak akan banyak karya yang
kemudian dapat dihasilkan. Diperkirakan hanya ada
1.100 buah instrumen. biola, viola, cello, gitar dan
harpa yang dibuat di sepanjang hayatnya. Dari jumlah
itu karya yang berhasil selamat hanya ada sekitar 650
buah saja. Sisanya mungkin telah hancur atau masih
tersembunyi entah di mana. Jadi wajarlah kiranya kalau
biola buah karya Stadivari kini menjadi barang langka
dan sangat berharga.
PANCEN OYE
Namun di luar kisah itu kita perlu setuju bahwa sosok
biola memang sungguh cantik, apik dan artistik. Tak
peduli itu biola spesial atau sekedar biola biasa,
semua mereka enak dipandang, enak didengar dan enak
dimainkan. Ya…, biola pancen oye. Jadi jangan
bimbang dan ragu, gesek saja biola dan dendangkan lagu
gelang sipatu gelang. Tapi jangan lupa…, sarapan!
(Lho, kok gak nyambung?)
Jakarta, awal Mei 2008


