Lain dulu lain sekarang. Dulu rokok dianggap obat, kini dikata racun. Sebenarnya rokok itu obat atau racun, bikin sehat atau bikin sekarat? Entahlah. Dibilang racun tapi kok enaknya minta ampun. Bingung dah!
Merokok itu gampang, bisa dilakukan bahkan oleh seorang bocah yang belum tamat SD. Tidak sulit, tidak perlu mikir, tinggal emut dan sulut, hisap dan hembus, bas-bus dan pas-pus. Simple, begitu saja. Pertama nyoba, mungkin mual dan pusing. Setelah dua tiga kali, yang terjadi bukannya kapok tapi malah jadi nggatok. Dasar bocah!
Dan kita tidak bisa menyalahkan si bocah yang tergiur untuk mencoba. Siapa yang tidak ngiler ketika melihat bapak, pakde, paklik, pak guru, dan banyak orang lain di sekitarnya klepas-klepus. Mereka menghisap rokok hingga merem-melek, terkesan nikmat sekaleee.
Jadilah kini, bocah kecil itu merokok. Sang bapak yang perokok berat tak berkutik, tak bisa melarang. Paling pol hanya bisa pidato: ”Belum bisa cari duit, jangan merokok!” Bapak lupa kalau ada jatah uang jajan buat si bocah. “Oke Bos!” sahut si bocah seakan patuh, padahal di belakang hidung bapaknya dia asyik ngebul.
Setiap detik, setiap menit, jutaan bocah perokok muncul di berbagai belahan dunia. Mereka bukan dilahirkan tetapi dijadikan oleh lingkungannya, oleh “keteladanan” para dewasa, juga oleh pengaruh iklan rokok yang menggebu. Dan begitu seorang bocah mulai merokok, biasanya dia akan merokok untuk sepanjang hayatnya, akan sehidup semati bersama rokok. Kian waktu jumlah perokokpun kian bertambah.
Selain karena tertular dan berawal dari sekedar coba-coba seperti nasib si bocah, sebenarnya masih ada banyak sebab dan alasan seputar mengapa seseorang merokok. Ernest Dichter seorang peneliti telah mengadakan riset serius pada tahun 1947 tentang hal itu.
Kesimpulannya:
Smoking is as much a psychological pleasure as it is a physiological satisfaction. Salah seorang respondennya mengatakan : "It is not the taste that counts. It's that sense of satisfaction you get from a cigarette that you can't get from anything else."
Data lain mengatakan merokok is Fun, Is Reward, Is Oral Pleasure, Helps me think, Help us to relax, "With a Cigarette I Am Not Alone", "I Like to Watch the Smoke", "I Blow My Troubles Away", Obat stress, Sarana gaul dsb.
RISKAN
Namun di luar itu merokok ternyata juga riskan, mengandung resiko. Dari sisi kesehatan, bahaya rokok sudah tak terbantahkan lagi. Bukan hanya menurut WHO, tetapi, lebih dari 70 ribu artikel ilmiah telah membuktikan. Dalam kepulan asap rokok terkandung 4.000 racun kimia berbahaya, dan 43 diantaranya bersifat karsinogenik (merangsang tumbuhnya kanker). Berbagai zat berbahaya itu, diantaranya tar, karbon monoksida, dan nikotin.
Akibatnya, berbagai penyakit kanker pun mengintai, seperti: kanker paru-paru, kanker mulut, kanker bibir, asma, kanker leher rahim, jantung koroner, darah tinggi, stroke, kanker darah, kanker hati, bronchitis, kematian mendadak pada bayi, bahaya rusaknya kesuburan bagi wanita dan impotensi bagi kaum pria.
Bahaya itu muncul karena adanya proses pembakaran rokok. Proses pembakaran rokok tidak berbeda dengan proses pembakaran bahan-bahan padat lainnya. Rokok itu sendiri secara sederhana dapat diformulasikan sebagai: er-o-RO, keh-o-KOK, ROKOK!
Dalam proses merokok ada dua reaksi terjadi. Pertama adalah reaksi pembakaran pada temperatur diatas 800 derajat Celcius. Reaksi ini terjadi di bagian ujung rokok yang membara. Reaksi kedua adalah reaksi pemecahan struktur kimia rokok menjadi senyawa kimia lainnya. Reaksi kedua ini dikenal dengan nama pirolisa, terjadi akibat pemanasan dan keabsenan oksigen. Pirolisa berlangsung pada temperatur dibawah 800 derajat C. Maka dari itu pirolisa terjadi di bagian dalam rokok yang berada pada area bersuhu 400-800 derajat C. Ciri khas reaksi ini yaitu menghasilkan ribuan senyawa kimia dengan struktur yang komplek.
Walaupun reaksi pirolisa tidak dominan dalam proses merokok,tetapi banyak senyawa yang dihasilkannya tergolong sebagai senyawa kimia beracun yang mampu berdifusi dalam darah. Sehingga tidak perlu disangkal lagi bahwa titik bahaya merokok adalah pada produk reaksi pirolisa ini. Sebenarnya produk pirolisa ini bisa terbakar bila produk melewati temperatur yang tinggi dan cukup oksigen. Namun hal itu tidak berlangsung dalam proses merokok karena proses sedot atau hirup, gas produk pirolisa langsung mengalir ke arah mulut, kearah moncong kita yang bersuhu rendah, sekitar 37 derajat Celicius.
Selain reaksi kimia, juga terjadi proses penguapan uap air dan nikotin yang berlangsung pada temperatur antara 100-400 C. Nikotin yang menguap di daerah temperatur itu tidak memperoleh kesempatan untuk melalui temperatur tinggi dan tidak melalui proses pembakaran. Terkondensasinya uap nikotin di dalam gas tergantung pada temperatur, tergantung juga pada konsentrasi uap nikotin dalam gas dan pada geometri saluran yang dilewati gas.
Pada temperatur dibawah 100 C nikotin sudah mengkondensasi. Jadi sebenarnya sebelum gas memasuki mulut, kondensasi nikotin telah terjadi. Namun berdasarkan keseimbangan, tidak semua nikotin tersebut terkondensasi sebelum memasuki mulut. Ada gas atau asap yang menyelinap masuk ke paru-paru masih mengandung nikotin. Sesampainya di paru-paru, nikotin akan mengalami keseimbangan baru, dan akan mengendap disitu. Nah lho!
TEMBAKAU - ROKOK
Gebleknya, meskipun sudah sekian puluh tahun kita merokok namun kita tak pernah serius bertanya apa sih rokok, apa sih tembakau, bagaimana riwayatnya, rokok mengapa kretek, ngrokok mengapa enak, mengapa oh mengapa.
Alkisah, Indian seperti dalam cerita Winnetou, terkenal suka bermain asap. Asap itu tidak hanya dimainkan, dibentuk bundar, ataupun dibentuk gambar jantung hati sebagai bahasa isyarat I love you, tapi juga ada asap yang disedot dan dihisap. Asap itu adalah asap daun tembakau.
Diduga daun tembakau pertama kali digunakan oleh orang Indian dan dipakai dalam acara ramah tamah, dengan cara disulut dan dirokok bergantian menggunakan pipa panjang. Asap dari daun tembakau yang terbakar itu disedot dan dihembus-hembuskan hingga memenuhi ruangan tenda non AC mereka. Dan lihatlah, mereka nampak senang dan saling unjuk gigi alias saling tertawa hepi.
Aktivitas para Indian yang sedang hepi itu dilihat oleh Christopher Columbus ketika mendarat dan mampir ke perkampungan mereka di Pulau Watling, Amerika Tengah pada 12 Oktober 1492 silam. Sepulang dari sana Columbus membawa serta biji tanaman tembakau itu ke negaranya Spanyol, dan biji itu dibagikan kepada teman-temannya, sebagai oleh-oleh, untuk ditanam menghias taman. Sebagai tanaman, pohon tembakau memang cukup eksotis, tak kalah dengan Anthorium yang sekarang lagi naik daun.
Tanaman tembakau (Nicotiana tabacum) berupa herba semusin yang tegak. Tingginya bisa mencapai 2,5 meter kalau dibiarkan tumbuh liar di tanah yang subur. Daunnya yang hijau besar-besar bulat telur mengandung nicotin dan tar. Selain sebagai tanaman hias, tembakau juga memiliki reputasi sebagai tanaman obat. Dan kisah tembakau yang dimanfaatkan oleh orang Indian sebagai obat telah menarik minat beberapa ahli untuk meneliti lebih jauh.
Jean Nicot de Villemain, duta besar Perancis di Portugal adalah salah satu yang tertarik dan kemudian memperkenalkan khasiat tembakau ke kalangan pejabat Prancis pada tahun 1556. Tembakau dipercaya manjur untuk meredakan sakit kepala yang nyut-nyut serta sakit gigi yang snut-snut. Tembakau itu ada yang dibuat jadi serbuk dan dihirup melalui hidung layaknya orang nyabu dan ada juga yang dikulum alias disusur. Tembakau sebagai obat segera populer di Prancis, Portugal, Spanyol dan Inggris. Di Virginia tanaman tembakau mulai dibudidayakan pada tahun 1612 oleh John Rolfe. Sementara itu yang namanya rokok sigaret sudah dikenal tapi belum ngetop hingga awal tahun 1800. Sigaret berasal dari kata si’kar dalam bahasa Indian suku Maya, yang artinya merokok. Alat linting rokok sigaret semi otomatis ditemukan pertama kali oleh James Buchanan pada akhir tahun 1880. Sejak saat itu soal melinting rokok, membuat rokok, menjadi urusan gampang, mudah dan cepat. Pabrik rokokpun bermunculan.
Seiring dengan maraknya kebiasaan merokok awal abad ke 20 di Amerika dan Eropa, artikel-artikel menyangkut dampak rokok pun berterbitan. Masyarakat perokok sedikit terpengaruh dan mengerem konsumsi rokok hingga muncul kemudian produk rokok aman yaitu rokok berfilter sekitar tahun 1954. Publik merespon munculnya rokok filter tersebut secara positif. Mereka merokok lagi, lagi dan lagi.
Filter rokok yang seputih kapas itu terbuat dari serat fiber (cellulose acetate) atau plastik sintesis, serupa bahan pembuat kain tetoron. Filter dipercaya dapat menyaring racun-racun atau tar dan nikotin yang terkandung dalam asap rokok. Perusahaan rokok mempromosikan rokok berfilter itu sebagai rokok sehat dan aman. Filter dapat mengurangi kadar nikotin dan tar sebesar 60% lebih, tanpa mengurangi aroma.
Memasuki tahun millennium, tingkat konsumsi rokok dunia mencapai jumlah trilyunan batang. China mengkonsumsi sekitar 1.6 trilyun batang rokok. Amerika 415 milyar. Jepang 327 milyar. Russia 257 milyar. German 140 milyar. India 100 milyar. dan Brazil 97 milyar per tahun. Sebagian besar penduduk negara-negara itu memang pecandu rokok. Beberapa perusahaan rokok kelas dunia berhasil menguasai pasar dan meraih sukses, diantara mereka adalah: China National Tobacco Company, Philip Morris, British American Tobacco (BAT), RJR Reynolds serta Rothmans International.
KRETEK
Di Indonesia, saat ini diperkirakan satu dari tiga orang dewasa merokok dengan pengeluaran untuk rokok seringkali melampaui pengeluaran untuk biaya makan, kesehatan atau pendidikan. Data Depkes menyebutkan sebanyak 70% penduduk Indonesia merupakan perokok aktif, dan 60% diantaranya berasal dari masyarakat ekonomi lemah. Dan dari industri rokok ini cukainya menghasilkan angka puluhan trilyun rupiah per tahun. Suatu angka pendapatan yang lumayan, bisa buat jajan negara.
Rokok khas Indonesia adalah rokok kretek. Rokok kretek memulai sejarahnya sekitar tahun 1870. Seorang penduduk kota Kudus Jawa Tengah bernama Haji Djamhari telah berjasa mempopulerkannya. Konon Pak haji yang kala itu sedang menderita sakit dada iseng-iseng bereksperimen mencampurkan rajangan bunga cengkeh ke tembakau lintingnya. Rokok tingwenya itu terasa hangat ketika dirokok dan sakit dadanyapun berangsur sembuh. Pengalaman itu dia kabar-kabarkan ke sanak kadang. Berita menyebar cepat dan "rokok obat" made in pak Haji segera kondang.
Lantaran ketika rokok cengkeh dihisap, cengkeh yang terbakar mengeluarkan bunyi kemretek, maka rokok made in pak Haji memperoleh julukan sebagai "rokok kretek", mengacu pada sound efek yang ditimbulkannya.
Rokok kretek memiliki campuran tembakau dan bunga cengkih kering dalam perbandingan tertentu. Hasil analisa terhadap rokok kretek menemukan adanya lima zat kimia yang tidak terdapat pada rokok putih non cengkeh. Bahan kimia tersebut adalah eugenol, acetyl eugenol, B-caryophyllene, x-humulene serta caryophllene epoksida.
Bunga cengkih sendiri mengandung 15% minyak di mana 82-87% dari kandungan minyak tersebut ialah eugenol. Rata-rata kandungan eugenol bagi sebatang kretek sebanyak 13 mg dan ditaksir sekitar 7 mg akan tersedot ketika kita merokok. Eugenol memberi kesan toksik kepada sistem saraf pusat. Pecandu rokok kretek di kalangan remaja dilaporkan mendapat kesan khayal ringan apabila menghisap rokok kretek. Menyedot asap rokok kretek "dalam-dalam' akan meningkatkan kepekatan asap dan ini ada hubungannya dengan kadar tinggi eugenol yang diserap yang akan memberikan kesan khayal tersebut.
Sementara itu, nikotin yang dikandung oleh daun tembakau menyebabkan ketagihan. Itulah sebabnya perokok ingin terus menghisap tembakau secara rutin karena ketagihan nikotin. Ditemukan fakta bahwa nikotin mengaktifkan jaringan otak yang menimbulkan perasaan senang, tenang dan rileks. Sebuah bahan kimia otak termasuk dalam perantara keinginan untuk terus mengkonsumsi, yakni neurotransmiter dopamine, dalam penelitian menunjukkan bahwa nikotin meningkatkan kadar dopamine tersebut.
Efek akut dari nikotin dalam beberapa menit menyebabkan perokok melanjutkan dosis per harinya sebagai usaha mempertahankan efek kesenangan yang diperoleh. Perokok biasanya menghisap minimal 10 hisapan dalam sebatang rokok setiap satu periode lima menit. Karena seorang penggebis menghabiskan rokok sekitar 30 batang per hari berarti memasukkan lebih kurang 300 hisapan nikotin ke otak setiap harinya. Faktor inilah yang menunjang ketagihannya terhadap nikotin. Nikotin itu sendiri dalam metabolisme sesungguhnya dapat menghilang dari tubuh dalam beberapa jam.
APA MAU DIKATA?
Berpadunya nikotin dan eugenol dalam rokok kretek telah membuat penikmat rokok keenakan alias kecanduan. Meski tahu bahwa merokok itu riskan namun sungguh enggan perokok meninggalkan kebiasaan yang terlanjur melekat di keseharian. Meski harga rokok kemasan kini mahal, bisa lebih mahal ketimbang ongkos makan siang di warung Tegal dan terasa tak sebanding lagi dengan nikmatnya, namun perokok cuek saja. Kadung cinta, apa mau dikata? Gitu lho!
Ahhh…..
Yo. Prihardianto
JB/76


