Kaya Vs. Miskin

Cerpen

Marbun mengira hidupnya susah semata-mata karena tak punya uang, “Hidup orang miskin harus banyak peras keringat, sering-sering bingung cari hutangan, yang mau dihutangi belum tentu punya uang, yang punya uang belum tentu mau memberi hutang. Kalau belum mengembalikan, mau bertemu pun terasa malu, terpaksa kucing-kucingan. Mau bersedekah tidak bisa. Bayangkan kalau kita kaya, pilihan kita lebih banyak: mau hura-hura, beramal, bercita-cita memajukan masyarakat, itu hal gampang!”

Arief tak menyahut. Panca indera dan pikirannya melayang-layang ke alam sekitarnya. Sesekali ia beringsut di atas rumput, mencari posisi yang nyaman. Langit cerah, matahari bersinar terik, namun mereka teduh terlindung bayang-bayang pohon. Angin bertiup membawa kantuk. Air telaga jernih dan segar –menggodanya untuk terjun ke dalam. Namun ikan-ikan akan terusik dan pergi. Lebih baik duduk di sini saja, gumam Arief dalam hati. Sekilas terpikir, apakah uang yang banyak bisa membayar kedamaian yang ia rasakan.

Merasa tak ada tanggapan, Marbun kembali melempar gagasan, “Ada untungnya jadi orang miskin.” Hmmm, bagaimana bisa?

Marbun menjelaskan, “Orang kaya tidak butuh sesama. Kalau ada masalah, mereka tinggal minta bantuan profesional: dokter, psikiater, ahli hukum, pembantu, ahli, atau tukang–apa saja yang bisa dibayar!

Sedangkan kita, tanpa uang, kita akan mengandalkan tetangga atau teman. Kita gotong royong supaya beban lebih ringan, atau biaya lebih murah. Karena perlu bantuan orang lain, kita menjaga hubungan baik dengan sesama.”

“Kurasa pendapatmu ada benarnya, tetapi mungkin kamu terlalu melebih-lebihkan,” Arief menyela, berhati-hati. Ia tak mau mengecilkan hati lawan bicaranya. “Kesetiakawanan tergantung kepada pribadi seseorang, bukan hanya tergantung lingkungannya,” lanjutnya.

Marbun termangu-mangu sejenak, lalu menyambung, “Tentu. Aku tak bermaksud pukul rata begitu saja. Aku hanya ingin menjelaskan teori, kenapa persahabatan terbaik justru ditemukan di kala susah, dan perselisihan datang ketika kesusahan pergi.”

Mmmm, mungkin benar juga, gumam Arief dalam hati. Hubungan baik tumbuh dari sikap saling membutuhkan. Marbun cerdas, dan ia setuju-setuju saja. Tapi ia belum tahu arah pembicaraan. Apakah Marbun berkeluh kesah saja, sekedar menghibur diri, sekedar omong, atau sedang berfilsafat. Marbun masih meneruskan, “Jadi bisa kita lihat, orang kaya berinteraksi menggunakan uang. Interaksi itu mengandaikan imbalan berupa harta benda, kepercayaan, atau sekedar kepuasan. Sebaliknya, orang miskin berinteraksi dengan hati.”

Matahari terus bergeser. Arief beringsut menghindari panas. Marbun kembali berbicara, “Investasi dengan uang beresiko rugi, sebaliknya investasi dengan hati beresiko terluka. Bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, orang-orang kecil sering merasa tertekan, marah, kecewa, atau frustrasi. Perlu jiwa besar untuk mengatasinya! Nah, kalau segala luka hati itu teratasi, sebenarnya orang naik ke taraf kemanusiaan yang lebih tinggi. Dengan kata lain, miskin tidak hanya menghasilkan banyak kawan setia, tetapi juga membuka peluang untuk lebih bijak dan manusiawi daripada seandainya kita kaya!”

Kedua teman ini tak selalu sepakat, tetapi mereka telah berteman sejak lama. Marbun terpelajar. Pengetahuannya banyak, dan cara berpikirnya aneh-aneh. Ia sering memakai penjelasan yang rumit-rumit, sehingga kelihatan pintar. Marbun sendiri juga menaruh respek kepada Arief. Menurutnya, Arief praktis, bijak dan lugas.

Sementara itu, Arief masih diam, tak menanggapi. Ia sedang sibuk dengan pancingnya. Ujung tali pancing itu putus. Ia harus memasang mata kail yang baru.

“Lagipula dunia mereka kering,” sambung Marbun, “Dalam dunia orang kaya, tanpa uang seolah-olah orang tak punya kata-kata. Bayangkan berada di tengah-tengah mereka, membicarakan ponsel terbaru, mobil terbaru, laptop terbaru, apalagi kalau mereka sudah mulai bicara tentang Amsterdam, Paris, atau Singapore!”

Arief menyeringai. Jangankan luar negeri, ke luar pulau pun tak terpikir olehnya. Marbun kelihatan masih berpikir. Beberapa saat kemudian, terdengar kembali suaranya, “Masalahnya, kita kerja sekeras apa pun rasanya tak cukup untuk memenuhi segala kebutuhan. Lebih enak kalau kita punya banyak uang.”

“Sudahlah,” sela Arief sambil memasang umpan baru dan melemparnya ke air. “Engkau ini cengeng, tetapi tak mau menangis!” kritiknya. “Kita belum pernah benar-benar kaya, atau benar-benar miskin. Tak usah bicara hal-hal yang tak kita mengerti. Tak penting apakah hidup ini susah atau tidak, yang penting jujur dan kerja keras, kurasa itu saja.”

Marbun kembali termangu. Angin masih semilir. Air berkecipak sesekali. Suasana kembali sepi. Arief menoleh heran. Marbun sedang melamun. Tali pancingnya bergoyang-goyang. “Ikan!” teriak Arief. Marbun berseru sambil menggulung tali pancingnya hati-hati. Betul-betul ikan besar, bukan arus air atau potongan kayu menyangkut di tali. Ikan terlepas, tetapi Marbun
tak peduli.

“Yah…,” seru Arief kecewa. Tak apa, jawab Marbun dengan raut tak terbaca, nanti kita tangkap yang lebih besar. Dilemparkannya kail ke air. Pikiran hanyut ke alam masing-masing. Tak terasa matahari tergelincir ke barat. Sore masih terang, tetapi udara tak sepanas tadi.

Waktunya pulang. Tak banyak tangkapan. Tapi ikan bukan satu-satunya tujuan mereka datang ke sini. Mereka mulai berkemas.

“Setiap orang ada jatahnya sendiri-sendiri,” akhirnya Arief berkomentar, bijak. Segala mata kail, umpan, dan peralatan kecil-kecil ia masukkan ke dalam plastik hitam, yang kemudian ia masukkan ke dalam tas yang ia sediakan khusus untuk memancing. Semua pancing diikat menjadi satu, disandangkan di bahu bak serdadu. Marbun menyelipkan alas duduk ke bawah jok sepeda motor kesayangannya. Bertahun-tahun sepeda motor itu menemaninya.

“Benar,” sahut Marbun, “orang-orang kaya kelihatannya hidup enak, tetapi kurasa kita lebih bahagia, ya? Pasti masih ada yang kurang dalam hidup mereka, atau masalah mereka jauh lebih memusingkan, ya kan?”

Arief tertawa ringan.

“Bisa jadi, tapi bukan itu maksudku,” jawabnya, “Maksudku hidup ini lebih nyaman, kalau kita tidak membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Hidup memang susah kalau kita selalu mendongak ke atas. Di atas langit masih ada langit. Sampai kapan pun keinginan itu tak ada puasnya. Hidup lebih mudah kalau kita menengok ke bawah. Lakukan saja apa yang menjadi tugas, dan barangkali hidup terasa lebih ringan. Iya, kan?”

Giliran Marbun tertawa, seolah-olah sependapat. Namun sebenarnya ia merasa sedih. Lalu bagaimana dengan nasib mereka yang di bawah? Apakah artinya mereka akan terus ada di bawah? Di bawah alas, masihkah ada alas? Atau ini hanya tergantung kepada cara kita melihat saja?

Sejenak ia menghela napas, membuang pilu, menjejakkan kaki ke atas starter, dan dalam beberapa menit mereka melaju berboncengan meninggalkan telaga ke arah jalan raya.

*Magelang, Mei 2005*