Konser Vokal Klasik dan Fund-Raising "Man for Others"

Informasi

Sebagai bagian dari upaya penggalangan dana beasiswa pendidikan bagi mereka yang kurang mampu, Paguyuban Alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta akan menyelenggarakan Konser Vokal Klasik dengan tema "Man for Others". Seluruh hasil penjualan tiket dan sponsor akan diperuntukkan bagi penggalangan dana beasiswa.

Konser vokal ini akan menampilkan karya-karya vokal dari khasanah klasik dan aria dari opera Madame Butterfly, Tosca, Turandot (Giacomo Puccini), Die Zauberflöte (WA Mozart), The Pearl Fishers (Georges Bizet), dan lain-lain. Penataan artistik panggung akan digarap oleh Lexy Rambadeta, seorang pembuat film dokumenter.

Tempat : Goethe Haus, Jalan Sam Ratulangi, Jakarta Pusat
Waktu   : Rabu, 7 Juni 2006 Jam 19.00 WIB

TIKET:

VVIP : Rp 200.000,-

VIP    : Rp 100,000,-

Pemesanan Tiket:

    - Thely Wahyuningrum 081514005310
    - Datuk Sweida 0818745705
    - Wiwik 0811885869
    - Elsa 08159099548
    - Yonny 08117770283
    - Mia 08159125952
    - Sekretariat (021) 7252139 / 0811939161

PARA PENAMPIL:

    - Johnson Hutagalung (tenor)
    - Ignatius Wijayanto (tenor)
    - R. Kristiawan (tenor)
    - Riani Diani Sitompul (sopran)
    - Adeleide Simbolon (piano)

Penata Panggung: Lexy Rambadeta

MC: Mayong Suryolaksono
 

Profil singkat dari para penampil Konser Vokal Klasik dan Fund-Raising "Man for Others":

  1. Johnson Hutagalung (tenor)

    Belajar vokal klasik pada Anette Frambach; menjuarai festival Bintang Radio dan Televisi tingkat nasional pada tahun 1988, 1990, dan 1992; berperan dalam berbagai pentas opera misalnya Opera Roro Jonggrang (Trisutji Kamal), Requiem (Mozart), Le Nozze di Figaro (Mozart) dan The
    Messiah (Handel); sampai saat ini masih sering tampil dan mengajar vokal. Sehari-hari bekerja di Departemen Keuangan RI.

  2. Ignatius Wijayanto (tenor)

    Penyanyi yang telah beberapa kali menjuarai berbagai festival. Saat bersekolah di SMA Kolese de Britto menjadi juara pertama lomba menyanyi se-DIY; juara Bintang Radio DIY dan Jateng 1985, finalis Bintang Radio dan Televisi Nasional tahun 1990; menjadi pelatih paduan suara Universitas Gadjah Mada, Universitas Atma Jaya Yogyakarta; penerima anugerah seni Rektor UGM; peserta Tour Eropa 1984 bersama Paduan Suara Vocalista Sonora Yogyakarta; solis pada misa bersama Johanes Paulus II tahun 1989 di Yogyakarta. Selain aktif menyanyi, juga mengembangkan batik Nataraja Fine Batik Yogyakarta, aktif di berbagai LSM dan konsultan komunikasi.

  3. Diani Rinarti Sitompul (sopran)

    Selepas dari SMA Stella Duce Yogyakarta melanjutkan kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan vokal. Diani mengajar vokal dan paduan suara di sekolah, gereja, dan lembaga privat. Sempat mengajar vokal di IKIP Jakarta dan Yayasan Musik Yamaha. Mendirikan Diani Children Choir yang sukses dalam tour di Singapura 2001 dan 2003; sebagai konduktor Paduan Suara Natania dalam konser di Los Angeles tahun 1998; sebagai konduktor dalam konser Mass in Bes karya Franz Schubert 1999; konser A Part to Romantic Era, 2003; Soprano Soprano, The Glory of Lord, dan konser From Mozart to Puccini 2006. Selain menyanyi, Diani juga menulis lagu dan aransemen.

  4. R. Kristiawan (tenor)

    Tertarik pada vokal klasik sejak duduk di SMA Kolese de Britto; menjadi peserta termuda (18 tahun) pada tur ke lima negara Eropa bersama Paduan Suara Vocalista Sonora tahun 1992; terlibat dalam berbagai kelompok vokal dan Teater Garasi Yogyakarta; lama berhenti menyanyi sebelum belajar vokal di Amabille School of Music Yogyakarta, di bawah bimbingan tenor senior Indonesia, Dailamy Hasan (87 tahun) tahun 2000-2003; bersama Garin Nugroho membuat beberapa kali pentas musik termasuk theme songs film-film Garin. Sampai sekarang masih belajar vokal pada Johnson Hutagalung; selain menulis dan beternak burung perkutut, vokal klasik merupakan aktivitas hobi; bekerja di Local Governance Support Program (LGSP) sebagai National Media Specialist.

  5. Adeleide Simbolon (piano)

    Mulai belajar piano sejak umur 5 tahun. Pernah belajar piano di Moscow. Sempat belajar di Jurusan Sastra Jerman Universitas Indonesia sebelum memperdalam piano di Wisconsin Conservatory of Music. Selain mengajar di berbagai lembaga, sering tampil dalam berbagai pementasan musik klasik di Indonesia.

  6. Lexy Rambadeta (penata panggung)

    Selepas dari SMA Kolese de Britto melanjutkan kuliah di Fisipol UGM jurusan Ilmu Komunikasi; terkenal sebagai pembuat film dokumenter dengan tema-tema kritis investigatif seperti Mass Grave tentang pembantaian anggota PKI tahun 1965 di Wonosobo; Upeti untuk Panglima, Nasi Basi untuk Punggawa tentang praktik korupsi; Garuda's Deadly Upgrade tentang pembunuhan Munir, dan berbagai dokumenter lain. Lexy memimpin Offstream, sebuah lembaga produksi audiovisual.