Manajemen Ekspektasi dan Berpikir Gradasi

Blog

Dalam kehidupan kita, banyak kejadian kejadian yang jauh dari harapan kita. Akibatnya bisa menyebabkan kita stress, sedih, frustasi, bahkan kalau terlalu dalam bisa membuat kita gila. Saya akan coba mengulas tentang manajemen ekspektasi dan berpikir gradasi. Sebuah solusi? Silakan anda yang memutuskan sendiri.

Saya coba perkenalkan dulu beberapa istilah "Das Sollen" = yang seharusnya terjadi dan "Das Sein" = yang sebenarnya terjadi. Bayangkan kita dalam suatu situasi dimana plan sudah disiapkan dengan matang, ekspektasi kita adalah "Das Sollen" ternyata hasil akhirnya jauh dari ekspektasi kita "Das Sein". Kalau kita tidak siap dengan "Das Sein", akan banyak ekses terhadap diri kita seperti tersebut di atas.

Sebetulnya manajemen ekspektasi dan berpikir gradasi bukan sesuatu hal yang baru, mungkin kita sudah menerapkan dalam kehidupan sehari-hari cuman kita tidak sadar. Ada beberapa hal penting yang perlu dipegang yaitu:

1. Pengenalan terhadap kemampuan kita
2. Selalu mencari alternatif
3. Hindari keadaan "being cornered". Keadaan di mana kita harus menerima "Das Sein" dan tidak ada alternatif lain.

Pengenalan terhadap diri sendiri adalah hal yang paling penting. Kalau kita mengenal diri sendiri kita bisa mengukur keadaan di mana kita bisa mencapai hasil yang punya probability besar pasti tercapai. Pencarian alternatif membutuhkan kreativitas. Kreativitas bisa dilatih dan dikembangkan, karena setiap orang punya potensi dan sangat tergantung dari kemauan individu untuk berkembang dan belajar. Dengan alternatif-alternatif tersebut kita bisa memberi ranking paling atas sampai paling bawah. Ranking paling bawah harus kondisi yang kita punya probability besar dan bahagia dengan alternatif tersebut.

Sebuah ilustrasi saya ulas di sini sebagai contoh.

Saya baru lulus SMA, katakanlah saya termasuk sedikit di atas rata-rata dan akan mencari sekolah lanjutan, note: sudah menentukan akan masuk jurusan management/economics. Ilustrasi kondisi tidak ideal adalah seharusnya dengan kondisi saya bisa diterima di Universitas Mobal-Mabul, "Das Sollen". Setelah menjalani test ternyata gagal "Das Sein" akhirnya dalam posisi tersudut harus masuk ke universitas mana saja yang menerima.

Coba bandingkan dengan ilustrasi berikut ini:

Sebelum saya mengajukan aplikasi ke universitas, saya membuat list dahulu kemungkinan-kemungkinan yang kalau tercapai saya bahagia, contohnya:

- sekolah di universitas luar negeri dan mendapat beasiswa
- sekolah di universitas luar negeri dengan biaya sendiri kemudian mencari beasiswa berdasarkan prestasi akademik
- sekolah di universitas luar negeri dengan biaya sendiri tanpa beasiswa
- sekolah di universitas dalam negeri yang terbaik
- sekolah di universitas mobal-mabul
- sekolah di universitas maju-mundur

Dari ilustrasi di atas, kalau saya sekolah di Universitas maju-mundur saya punya probabilitas besar diterima, syukur2x pasti diterima dan saya bahagia. Dari list di atas saya sudah memanage ekspektasi saya dalam bentuk prioritas/ranking. Setelah list berdasarkan rangking sudah tertulis, saya harus membuat plan per alternatif tersebut dan coba dilaksanakan. Kemudian saya berpikir gradasi kalau plan dan hasil dari alternatif satu gagal, berubah ke alternatif kedua, sampai pada alternatif terakhir yang probabilitas besar. Kalau itupun "Das Sein" nya saya sudah siap dan bahagia.

Ilustrasi di atas hanya sebagai contoh yang kalau kita terapkan dalam kehidupan sehari hari, kita bakal merasakan manfaatnya.