Membaca Jaman dari Sajak di Sebuah Buku

Blog

Sebuah jaman adalah sebuah buku. Meski belum tentu menarik, ia selalu bersedia untuk dibaca. Tanggal-tanggal yang telah lampau menjelma menjadi nomor-nomor halaman. Apa yang dilakukan pemimpin, mungkin menjadi judul dari tiap-tiap bab. Dan tentang rakyat, terkadang ia menjelma sekedar sebagai catatan kaki. Ia sebuah buku, dengan daftar isi kemerdekaan atau kolonialisasi. Ia sebuah buku, dengan prolog preambule konstitusi, dengan epilog yang tak pernah pasti.

Dan pada suatu hari yang telah lampau, seorang pemuda dari Tapanuli menyadari hal ini. Ia mengumpulkan rekaman jaman, membuatnya sebagai sebuah buku, lalu memberinya pengantar. Bahwa sebuah pekerjaan untuk memaparkan geliat manusia dan ragam tingkahnya, serta memahami perubahan keadaan, telah diambilnya. Sementara itu sejarah berjalan.. Demikian kepada para pembaca ia mencoba mengantar.

Pemuda itu adalah seorang guru di Palembang, yang kemudian memimpin Pandji Pustaka. Namanya Sutan Takdir Alisjahbana. Dan buku itu adalah kumpulan Puisi Baru. Terbit sembilan bulan setelah kemerdekaan Republik. Tercetak angka 1946, bersampul tipis berwarna kuning hitam.

Dan begitulah sebuah jaman yang dibukukan. Lalu kita dibawa untuk membaca keadaan. Ada cinta, desa, perjuangan, impian kemerdekaan.

Lihatlah sekelumit kecil petikan bait-baitnya:

Dalam Masjarakat (Abdoel Hadi, 1914)
--
Hatiku gemas bertjampur sedih,
Mikirkan nasib kami melarat.
Ideaal benderang melambai djiwa
Badan diikat rantai masjarakat
--

Fantasi
--
Bendera perdjuangan berkibar lagi,
Gembira bertepuk atas kepalaku
Darahku melantjar gembira pula
Debar-berdebur dalam dadaku
--

Marhaen (Sanoesi Pane, 1905)
--
Dewata lupa kepada kami,
Kaum marhaen anak sengsara,
Kami bekerdja setengah mati,
Orang bersenang tertawa-tawa
--

Menjiangi Padi (A.Rivai, 1876)
--
Tengah naik gerang matahari
Anak dara menjiangi padi,
Rumput dikais sambil berdendang,
Berpantun bersadjak menundjukkan sajang
--

Sajak itu telah berhasil merekam wajah jaman. Sebuah kebijaksanaan telah menyatukan dalam sebuah 'kumpulan tulisan para penyair' agar sebuah masa tetap terjaga keutuhannya. Kemudian lebih dari setengah abad sesudahnya, kita bisa mengamini sambil bergeleng kepala: bahwa menyiangi padi tak mungkin lagi menjadi inspirasi, bahwa bendera tak jauh dari sekedar upacara, dan kemelaratan tetap ada.

Lebih dari setengah abad kemudian, seorang Taufiq Ismail masih menuliskan dalam '12 Mei '98':
/
Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu
Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom
abad duapuluh satu

Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi
kalian tertinggi di Trisakti bahkan di seluruh negeri, karena
kalian berani mengukir
alfabet pertama dari kata reformasi-damai
dengan darah
arteri sendiri,
/

Tapi sebuah jaman adalah sebuah buku. Meski belum tentu menarik, ia selalu bersedia untuk dibaca. Tentang keadaan yang nyatanya tidak berubah, Amir Hamzah dalam Padamu Djua telah lama berseru

Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu