Men's Lib, Women's Lib

Cerpen

Pria memandangi Dara yang baru keluar dari kamar mandi. “Cepatlah mandi, nanti terlambat!” kata Dara. Handuk terlilit menutupi dada hingga lutut. Kepala dimiringkan, kedua tangan mengibas rambut basah dengan sehelai handuk kecil. “Air panas macet, seharusnya kita tukar kamar yang lain kemarin.”

Pria meraih handuk lain dan masuk ke kamar mandi. Tercenung sebentar menatap wajah di cermin. “Belum nampak tua,” pikirnya. Sejenak ia teringat orang-orang sebaya yang mulai terlihat kerut-kerut matanya. Air dingin mengucur deras. Ia tengadah. Air mengucuri seluruh wajah. Jauh lebih segar sekarang.

***

Waktu berpisah dulu, hubungan mereka baru saja mulai, bahkan belum jelas. Mereka baru kenal dua bulan, dan Dara harus segera pergi. “Aku masih belum jelas tentang hubungan kita,” kata Dara waktu itu. Pria diam saja, acuh tak acuh. Seharusnya kami langsung pulang tadi malam, kutuknya dalam hati, bukannya menghabiskan waktu hingga pagi di pantai. Senyum kecut menghias hatinya mengingat malam sebelumnya. Pria tak berkeberatan memberi komitmen kepada Dara. Toh, dia juga tertarik kepada perempuan ini. Namun Dara sudah punya hubungan dengan seseorang.

“Waktu aku hendak datang, ia mau ikut,” cerita Dara waktu itu. “Dia mau bersamaku sampai selesai tugasku di sini.”

“Berapa lama kalian pacaran?”

“Lima tahun.”

“Lima tahun kan cukup lama, nikahi saja dia! Apa masalahnya?”

“Masalahnya,” lanjut Dara sambil tertawa kecil, “aku nggak yakin mau menghabiskan sisa hidupku dengan dia.”

“Bagaimana denganku?”

“Kamu…” jawab Dara sambil mengerlingkan senyum, “rasanya aku sudah kenal kamu lama sekali.”

Pria tertawa, sekedar sopan. Kata-kata Dara terasa naïf. Namun ia sadar bahwa ia punya banyak kesamaan dengan Dara, termasuk keragu-raguan tentang hubungan. Akibat traumakah? Justru itu, Pria bertanya-tanya apakah mereka tidak saling menipu diri.

***

Selama berbulan-bulan mereka tak bertemu. Meski terasa membosankan, hubungan tetap terjaga lewat fax, e-mail, atau telepon. Kali ini, sudah seminggu mereka berkeliling menghabiskan waktu berdua. “Simpan saja uangmu,” kata Pria kepada Dara. Sebagai laki-laki, Pria tidak mau ambil enaknya saja. Segera uangnya habis, lalu Dara menghabiskan lebih banyak lagi untuk hotel, bis, taksi, kereta, atau makan. Mereka melancong ke berbagai tempat, dari pantai hingga gunung, mencari suasana romantis.

“Aku nggak pernah tahu apakah laki-laki benar-benar tertarik kepadaku atau tidak,” ujar Dara.

Karena begitu kamu tahu seorang lelaki tergila-gila kepadamu, kamu akan meninggalkannya, pikir Pria, wanita selalu begitu. “Laki-laki punya pikiran lain,” jawab Pria, menghapus ide yang terlintas di benaknya. ”Seandainya laki-laki bisa baca pikiran perempuan, nggak susah menentukan jodoh.”

“Bukankah misteri yang membuat perempuan jadi menarik?”

“Bagiku tidak,” bantah Pria, “aku lebih suka orang yang terus terang dan mudah kerja sama. Pasangan adalah partner, bukan teka-teki yang pelik. Kalau partner susah ditebak, lebih baik mengurusi hal lain saja, kan?”

Dara mencibir, “Kalau pikiran perempuan mudah terbaca, ia gampang ditindas laki-laki.”

***

Moments of truth. Pria pernah mendengar ungkapan itu di televisi. “Saat-saat penentuan” –kira-kira artinya, tetapi bagi Pria ungkapan ini lebih bermakna kejujuran. Selalu ia teringat makna itu setiap kali bercakap-cakap dengan perempuan, berdua di atas ranjang, berbaring berhadapan, kaki bersilangan, kulit berhimpitan, sementara tangan saling membelai lembut pinggul atau menggelitik perut, dan mata bebas menyapu sekujur tubuh lawan bicaranya tanpa halangan.

“Pernah sakit hati?” tanya Pria. Dara mengangguk.

“Kapan?”

Dara menghela napas sebentar, lalu berkata, “Sudah lama sekali. Waktu itu umurkuku baru 20 tahun. Aku menjalin hubungan dengan seseorang. Aku suka sekali dia, tetapi ternyata baginya itu hanya petualangan saja.”

“Sekarang dia tinggal di mana?” Dara menyebut kota kelahirannya.

“Sudah menikah?” Iya, jawab Dara.

“Punya anak?” Satu, jawab Dara.

“Sampai sekarang, masih sakitkah?”

Dara tak segera bicara. Mulutnya mengatup runcing seakan berpikir keras. Akhirnya ia menjawab, “Yah…, sedikit.” Bibirnya mencibir, kepalanya digoyangkan ke kiri kanan seolah-olah hendak meyakinkan.

Sejak itu berkali-kali engkau gagal, batin Pria. Jawaban itu menyentuh hatinya. Sudah bertahun-tahun, tetapi Dara masih merasakan sakit. Mungkin seperti yang pernah dirasakan Pria. Ia menganggap pengalaman itu sepele dan menertawakan kebodohannya sendiri, tetapi ia tak pernah benar-benar melupakannya.

***

Semua sudah dikemasi. Sepatu dan jaket sudah dikenakan. Masih ada waktu untuk sedikit santai. Pria bersandar di ujung ranjang. Kedua kakinya bersilang di pembaringan. Dara berbaring di pangkuan. Jemari Pria mempermainkan dagu dan daun telinga Dara. Seharusnya setiap hubungan kasih berakhir dengan baik, supaya jangan ada sakit hati yang tertinggal, pikirnya.

Matahari belum muncul. Mereka harus segera /check in /di bandara. Pria menyerahkan kunci hotel kepada petugas. Ia meminta dipanggilkan taksi. Tak berapa lama taksi datang. Mereka buru-buru masuk ke dalam taksi.

“Berapa, Pak?” tanya Pria kepada supir taksi. Dua puluh ribu rupiah. Dara mengulurkan uang kepada Pria, yang meneruskannya kepada supir taksi. Sesudah menyelesaikan urusan tiket, mereka mencari tempat duduk. Tanpa bicara. Pengeras suara terdengar. Itu panggilan untukku, tanya Dara. Bukan, masih beberapa menit lagi, jawab Pria. Jadi mereka terus duduk tanpa bicara.

***

“Aku ingin bertanya kepada diri sendiri, tetapi kamu nanti juga harus bertanya kepada dirimu sendiri,” ujar Dara semalam. “Apakah hubungan kita serius, atau ini hanya petualangan saja.”

Pertanyaan itu sulit. Pria belum tahu jawabnya. Dara tidak akan mau memberikan pendapatnya lebih dulu, meskipun Pria memaksanya. Perempuan selalu begitu, kecuali kalau sungguh-sungguh tak suka, renungnya. Hubungan mereka baru mulai, mereka tak sering bertemu, tetapi kini mereka harus berpisah lagi. Pria pesimis tentang hubungan itu.

“Itu tergantung kapan kamu mau dengar jawabnya. Kita bisa jawab sekarang, atau nanti. Kalau kita jawab sekarang, kita menyangkal kemungkinan lain yang masih bisa terjadi,” jawab Pria (Bangsat, makinya dalam hati mendengar kata-katanya sendiri, katakan saja kau tak yakin tentang hubungan ini, kenapa harus menunda jawabanmu kalau kau pun tak tahu apa yang kau mau?). Pria cenderung percaya kalau hubungan ini terlalu serius, ketegangan akan menghancurkan masa depan hubungan itu maupun hidup mereka masing-masing. Suara lain turut bicara. Dia kelihatan baik dan cocok untukmu, bagaimana kalau kamu merindukannya nanti? Ia berpikir sejenak, lalu bicara, “Aku lebih suka menjawab pertanyaan itu dua atau tiga tahun lagi, sesudah situasinya lebih jelas.”

***

Matahari merambat naik ketika Pria melangkahkan kaki ke luar bandara. Seorang sopir taksi menawarkan tumpangan. Tidak, Pak, gumam Pria sambil menggeleng lesu. Kakinya menyeberangi rel kereta api di perlintasan. Ia terus berjalan sampai ke jalan raya. Berdiri di trotoar, menunggu angkutan umum lewat. Asap menyembur dari kendaraan yang lalu lalang. Kesibukan baru saja mulai. Orang-orang bergegas ke pasar, ke kantor atau ke sekolah. Jalanan ramai. Sinar matahari menghangatkan badan, namun hatinya terasa gerah.

Jahanam, geramnya dalam hati. Rasanya bagaikan sampah yang baru jatuh kembali ke jalanan, dari balik dunia mewah yang gemerlap dengan senyum yang setimpal dengan uang jasa yang kau berikan. Itu dunianya, ini duniamu! Seminggu ini kau bagaikan kucing mengerati makanan yang enak-enak, biasanya bersama lalat-lalat lain mengerumuni bangkai yang membusuk. Kini kau kembali ke dunia nyata, sama miskinnya dengan orang-orang di jalanan ini!

Sebuah mobil reyot datang. Sarat dengan anak-anak sekolah dan pegawai kantor. Pria naik. Bis kota bergerak perlahan-lahan, membawa Pria pergi dengan jawaban yang masih harus ia pikirkan.

*Magelang, April 2005*