Ajaib pada judul di atas memang ajaib karena tidak bermaksud condong ke makna positif, pun tidak ingin serong ke makna negatif. Diserahkan secara seenaknya saja kepada pembaca untuk menilai sendiri sesuai selera. Semuanya dimulai dari pengalaman awalku menjadi orang desa.
Rumahku berada di desa, 12 kilometer arah Timur pusat kota Jogja. Sebenarnya tidak terlalu desa sejak kami menetap di sini setelah ayahku pensiun tahun 1984. Saat remaja, aku pernah dengar ayah bilang, "Desa kita ini desa kuno, terakhir kali waktu masih jaman Jepang, desa kita tertera di peta Yogyakarta, kok sekarang setelah merdeka jadi tidak ada." Begitulah yang terjadi, tampaknya desa kami dihapuskan dari peta Yogyakarta.
Ketika kami sekeluarga pindah dari Jakarta ke desa ini, ayah sudah mengurus agar jaringan listrik masuk ke desa kami, tapi setengah tahun pertama kepindahanku, listrik belum mengalir. Itu sungguh saat yang menyenangkan. Rutinitas sore hari adalah memompa petromaks. Sepertinya kegiatan itu mampu memacu kelenjar hormon heroik dalam sosok remaja tanggung dari kota pindah desa.
Ayahku memulai kegiatan bisnis pasca pensiun. Beliau membangun kompleks kandang ayam. Ya, bukan sekedar kandang, tapi kompleks kandang yang mengapit rumah pada sisi Timur dan Barat. Luar biasa pengalaman yang aku dapatkan saat pembangunan kompleks kandang itu. Bahan kayu diperoleh dari pohon-pohon besar di kebun milik ayah. Aku selalu ikut menonton setiap kali ada kegiatan menebang pohon besar, terutama karena tertarik mengamati salah seorang pekerja yang konon sudah ikut membantu sejak jaman simbahku masih hidup dan bergiat.
Orang yang tinggal dekat dengan awan
Orang tersebut bernama Pak Ijan. Dia orang gunung, tinggal di atas bukit yang di bawahnya terhampar kompleks Candi Ratu Boko. Sepedanya tidak bisa sampai ke rumahnya, harus dititipkan di rumah Pak RT agak jauh di bawah. Manusia yang tinggal dekat dengan awan, demikian pikirku waktu itu. Tenaganya luar biasa, demikian pula makannya.
Pada suatu hari saat istirahat makan siang di kebun setelah menebang salah satu pohon besar, aku menemani Pak Ijan karena merasa takjub melihat semangat makannya. Kebetulan kebun ayah terletak di samping pemakaman kuno yang sepi. Kita hanya berdua waktu itu, ketika tiba-tiba datang rombongan orang-orang tua berjenggot panjang berwarna putih berkibar, pakaian mereka compang-camping dan riuh rendah berbincang-bincang tak jelas. Sampai di depan Pak Ijan yang sedang lahap, salah seorang dari rombongan aneh itu menuding-nuding sambil berkata, "Iki lho sing ngoprak-ngoprak endogku." (Ini lho yang mengacaukan telurku). Pak Ijan melongok, bengong sesaat, lalu spontan menjawab, "Lha kula mung diutus, je." (Lha saya cuma disuruh). Kembali riuh rendah mereka bergumam. Sejenak mereka melirik ke arahku. Kami saling bertatap pandang beberapa saat tanpa berkata-kata, lalu rombongan itu pergi meninggalkan kami dengan tetap riuh rendah bincang tak jelas.
Setelah agak jauh aku bertanya pada Pak Ijan, "Sapa kuwi mau, Pak?" (Siapa itu tadi, Pak?). Pak Ijan menjawab sambil memasukkan sesendok penuh nasi, "Mbuh, sing tunggu uwit kuwi yak-e." (Tidak tahu, barangkali penunggu pohon itu). Aku melongo. Sesantai itu dia menjawab jika benar dugaannya bahwa kami baru saja dikunjungi oleh para roh halus penunggu pohon? Hebat betul manusia yang berumah dekat dengan awan ini, pikirku. Sampai sekarangpun aku masih bertanya-tanya dalam hati, apakah benar saat itu aku bertemu dan bertukar pandang dengan roh halus penunggu pohon. Saat kutanya lebih lanjut kenapa dia tidak takut, Pak Ijan menjawab, "Ngapa wedi wong kowe wae ora wedi? Uwit iki mbiyen sing nandhur simbahmu, nek saiki ditegor bapakmu arep dinggo mbangun ya ben dha nggolek uwit liya." (Kenapa takut sedangkan kamu saja tidak takut. Pohon ini dulu ditanam oleh simbahmu, kalau sekarang ditebang bapakmu untuk digunakan sebagai bahan bangunan, ya biar mereka cari pohon lain). Manggut-manggut aku berkata, "Aku ora wedi merga ora ngira nek kuwi mau lelembut." (Aku tidak takut karena tidak mengira kalau mereka tadi itu roh halus). Pak Ijan tertawa, lucu sekali ekspresinya sehingga aku jadi ikut tertawa, seketika suasana kembali segar, terhibur oleh kesederhanaannya yang ceria.
Kompor parabola
Tepat saat pembangunan kompleks kandang selesai, listrik sudah mengalir ke rumahku. Usai sudah romantika memompa petromaks menjelang senja, berganti dengan sentuhan satu jari tangan pada saklar lampu. Canggih memang, namun seperti ada sesuatu yang hilang.
Persiapan kandang terus berjalan. Ayahku mendesain kompor parabola yang akan digunakan untuk menghangatkan anak ayam. Itu kompor yang sama dengan kompor tukang mie ayam, hanya diberi tambahan reflektor logam dari drum bekas yang dibentuk parabolik untuk mengonsentrasikan panas ke bawah. Bahan bakar kompor menggunakan minyak tanah yang ditampung pada jirigen plastik besar, dikerek ke wuwungan kandang dan terhubung ke kompor melalui selang plastik kecil. Di bawah kompor parabola tergantung termometer murahan seperti yang pernah aku beli dari toko buku waktu masih kecil dulu. Waktu kutanya mengapa tidak menggunakan listrik, ayah bilang bahwa listrik dipakai untuk penerangan saja, kita belum tahu apakah listrik di sini sering padam. Kalau mengandalkan pemanas listrik ternyata listriknya sering padam, sama saja mempertaruhkan nyawa ribuan ekor anak ayam.
Ketika persiapan kandang sudah selesai, pada suatu malam datanglah satu truk boks penuh berisi anak-anak ayam yang dikemas dalam kardus besar berlubang-lubang. Satu persatu anak ayam ditetes pada bagian mata sebelum dipindahkan ke lingkaran pagar yang dibentuk dari lembaran seng, diletakkan di tengah kandang di bawah kompor parabola. Kompor parabola dinyalakan setiap sore pukul 18 dan dimatikan pagi hari pukul 9. Pemeriksaan dan pengaturan suhu ideal dilakukan setiap jam-jam tertentu, pukul 21, pukul 24, dan pagi hari pukul 6. Anak ayam cepat menjadi besar. Lingkaran yang dibentuk dari lembaran seng diperluas mengikuti perkembangan tubuh anak ayam hingga akhirnya dibuka total ketika ayam menjadi dewasa dan memenuhi kandang, sampai saat panen raya penjualannya.
Layanan listrik pedesaan
Kami melanjutkan usaha ternak ayam sampai 2 tahun setelah ayah meninggal tahun 1994. Namun di antara anak-anaknya, tidak ada yang seahli ayah dalam mengelola peternakan. Dengan berjalannya waktu, kompleks kandang ayam telah diubah menjadi bengkel usaha sablon kaos. Modernisasi telah menghadirkan mesin-mesin potong kain dan mesin-mesin jahit yang mengolah gulungan kain katun menjadi t-shirt sebagai pakaian casual dan atribut gaul anak muda masa kini. Tidak ada lagi kompor parabola berbahan bakar minyak tanah. Namun seperti perkiraan ayahku, listrik sering padam di tempat kami. Bahkan sampai saat ini, setelah lama ayahku meninggal, listrik masih sering padam sewaktu-waktu, tak dapat diramalkan, tanpa pemberitahuan.
Seringkali di siang hari, ketika aku sedang asik bekerja di depan komputer, listrik tiba-tiba padam diikuti dengan tanganku menggebrak meja keras sekali sampai aku sendiri terkejut. Untuk menghibur diri aku jalan-jalan ke ruang depan. Di sana terlihat kakakku sedang garuk-garuk kepala karena bingung melihat karyawan tidak bisa bekerja menggunakan mesin jahitnya. Kami lantunkan kredo sumpah serapah bersama.
Beberapa waktu yang lalu (bulan Desember tahun 2005), ada petugas PLN datang mengganti boks meteran listrik. Aku dekati dan mengajaknya berdiskusi tentang kualitas layanan listrik yang payah. Dia malah sibuk membanggakan diri bahwa penggantian boks meteran adalah layanan periodik dari PLN. Aku biarkan dia berbangga diri selama beberapa saat sebelum berkata, "Sejak terpasang tahun 1985, baru sekarang boks meteran itu diganti, layanan periodik dalam waktu lama sekali, ya, Pak? Mudah-mudahan boks meteran baru itu mampu menjawab permasalahan aliran listrik yang seringkali padam sekonyong-konyong dan sewenang-wenang." Dengan sekilas tatapan aku lihat wajahnya berubah menjadi masam, segera aku merasa menjadi tuan rumah yang kurang ramah. Aku alihkan pembicaraan ke hal lain, karena sadar bahwa tidak sepantasnya aku timpakan kekesalanku melulu kepada petugas PLN itu. (bersambung kapan-kapan)



