Ngesax…, Amboi Rasanya !

Budaya

Ngesax, nyaxophone atau main saxophone, katanya sih mengasyikkan. Itu pancen ho’o! Lha wong baru dengar suaranya saja kita sudah senang, apalagi kalau bisa memainkan…, wow! Dan bagi yang keranjingan, seminggu tidak ngesax, rasanya setengah mati, persis orang ketagihan extasi.

AWAL CERITA

Penginnya sih sejak kelas 6 SD, tapi baru terwujud setelah 20 tahun kemudian. Gile!... Senengnya pol. Degdegan hati ini ketika pertama kali melihatnya. Saxophone itu melingkar di dalam kopor persis seperti ular Anaconda. Tak jemu mata ini memandang. Makin dipandang dia makin mempesona. Pucuknya melengkung, kemudian melurus dan lalu melengkung lagi. Bonggolnya melebar seperti bunga sedang mekar. Batangnya dipenuhi pilar serta lubang. Ada semacam sulur yang menjulur julur. Dirongganya ada bekas sarang laba-laba, pertanda benda itu lama tak diurus. Kacian…. Saxophone Tenor second hand itu ternyata masih berfungsi dan masih bisa bernyanyi.

Alhamdulilah. Sejak itu getol latihan dan nyaxophone tiap hari seakan sudah menjadi keharusan. Pun sewaktu dinas ke luar kota, saxophone senantiasa menjadi teman setia. Setelah sesiang pusing memeriksa angka pembukuan, malamnya angka-angka itu berubah menjadi not yang berseliweran di benak, menjadi not-not lagu yang bisa didengar di Bar atau Cafe di kota itu. Pede saja, nimbrung dengan grup band setempat. Tidak dibayar tak jadi soal, idep-idep latihan! Baju putih berganti hitam-hitam, dasi menjadi kalung metal, jam tangan menjadi gelang akar bahar. Tampilan berubah total, dari rapi-jali menjadi rapi asli. Yeaaach !!!

Di kantor pusat Jakarta, selepas kerja, kadang bermain mengisi acara party. Kadang juga mengisi acara live musik di bar hotel-hotel berbintang, Karenanya tak perlu heran kalau suatu ketika dulur manuk memergoki seseorang hitam manis, berkumis, sedang in-action, meniup saxophone sembari merem-merem en mesam-mesem. Harap maklum, lagi setengah mendem. Mendem whiskey, vodka, tequilla, dicampur-campur. Itu semua ulah bartender yang kesengsem. Fly me to the moon and let me .........., fly!

TENGAH CERITA

Tahun-tahun berlalu, aneka panggung sudah dijajal. Mulai dari panggung hiburan di kampung hingga panggung hiburan di gedung. Dari acara kebaktian hingga acara hura-hura. Dari kemeriahan pentas ndangdut hingga di sepinya bilik rekaman. Dari acara wedding party yang selalu on time hingga acara TV yang no time. Dari mengiringi acara ibu-ibu arisan hingga mengiringi artis-artis kondang. Dan beraneka panggung tersebut ternyata memiliki rasa yang beraneka pula, diantaranya ketika:

Main bareng organ tunggal mengiringi ibu-ibu arisan.
Hampir semua ibu-ibu peserta arisan suka menyanyi. Mereka berebut giliran untuk tampil. Biasanya saxophone merangkap fungsi sebagai pemandu kapan lagu harus dimulai, atau mengingatkan melodi lanjutan yang mungkin agak terlupakan. Wow! Senang rasanya melihat keriangan di wajah para ibu itu.

Main bareng grup ndangdut di pelosok.
Justru di pelosok, para penyanyi ndangdut tampil gila-gilaan. Persisnya bikin kita tergila-gila. Mereka menyanyi sambil bergoyang seronok. Kita berada di dekatnya. Giliran harusnya nyebul, kita malah keasyikan nonton. Walah! Begitu acara selesai, seluruh pemain kembali ke pondokan. Pemandangan menjadi bertolak belakang. Si seronok tadi salin rupa menjadi emak-emak berdaster dengan wajah bertambal masker. Main mengiringi artis kondang Artis cantik bisa kita lirik-lirik. Kadang kita gandeng tangannya untuk membantunya naik-turun panggung. Dibalik panggung kadang kita malah dimintai tolong memasang kancing bajunya yang terbuka. Lontoooong…, e, tolooong !

Main di acara kebaktian.
Aneh tapi nyata. Meskipun lagunya belum kita kenal, namun jari ini seakan ada yang menggerakkan sehingga dapat menyelesaikan lagu itu dengan benar, bahkan ketika harus memainkan melodi pembukaannya. Amin.

Main di restoran.
Para tamu sibuk makan sambil ngobrol, kadang sambil tertawa cekikikan. Kita bermain di pojok ruangan. Bermain begitu saja, entah didengarkan entah tidak. Yang terang mereka kenyang duluan, kita nyusul belakangan. Main di acara pestaDi acara pesta dapat dipastikan kita bakal dijamu layaknya orang penting. Kalau acara itu di hotel, kamar ganti pasti disediakan dan segala keperluan diperhatikan. Sudah begitu dibayar mahal pula. Wow, enak tenaaaan !!!

Main mengisi acara TV
Jadwal shootingnya bisa molor ndak karuan. Buang-buang waktu! Main mengisi rekaman suara. Rasanya aneh, main di bilik tertutup, sendirian dengan headphone menempel dikuping. Kelewat dingin dan sepi.

Main di hotel.
Biasanya membawakan lagu seperti Fly Me To The Moon, The Girl From Ipanema, The Last Walts, La Paloma dan sebagainya. Main tiga hingga empat sesi. Tiap sesi rata-rata sembilan lagu. Satu group bertiga, ada piano, bas betot dan saxophone. Lagu terakhir..., Mabuk Lagi-Mabuk Lagi.

AKHIR CERITA

Seperti sudah dinyana, main saxophone memang asyik, membuat kita sumringah senantiasa. Yuk, ngesax!

Penulis:
Y. Prihardianto
JB 76/77
Tinggal di Jakarta