Pembicaraan Tentang Hakikat

Blog

Pada suatu kesempatan, secara kebetulan saya terlibat dalam pembicaraan serius dengan ayah seorang teman saat saya datang menjenguk ke rumah sakit ketika beliau harus opname karena persoalan produksi asam lambung yang berlebih. Waktu itu saya membawakan buku dengan maksud agar ayah teman saya bisa mengisi waktu senggang di kala istirahat dengan membaca-baca. Belakangan saya mengerti, rupanya pembicaraan kami berawal ketika beliau membaca coretan pada buku yang saya bawa.

Berikut ini coretan tangan yang saya bubuhkan pada lembar kosong di awal buku:
 
Kita tidak pernah berhenti,
Untuk terus mencoba memahami,
Pengetahuan tentang hakikat..
Mungkin sebab hakikat tidak berhenti,
Seperti juga: Kehidupan..
Sedangkan Mati,
Adalah persoalan lain lagi..
 
Terus terang saya sendiri hampir lupa telah menuliskannya, karena waktu membubuhkan tulisan itu saya hanya menorehkan gagasan yang melintas sesaat - saya tuangkan begitu saja dengan maksud agar dapat direnungkan lebih seksama di kemudian hari.

Ketika perawat datang memeriksa tekanan darah beliau, saya pergi keluar kamar bersama teman saya, duduk-duduk dan bercakap-cakap di teras kamar. Tak lama kemudian ayah teman saya itu menyusul keluar dan mengejutkan kami dengan pertanyaan mengenai apa maksud tulisan pada buku yang saya bawa untuknya. Kata ayah teman saya, "Apa maksudmu menulis bahwa hakikat tidak berhenti? Kalau kamu pelajari betul tentang makna hakikat, kamu akan memahami, hakikat itu 'telenging teleng', mencapai hakikat berarti telah sampai pada intinya inti, mencapai hakikat berarti ya sudah, berhenti.  Memang benar yang tidak berhenti itu kehidupan, dan mati itu juga bukan berarti berhenti melainkan perubahan wujud."

Astaga! Saya sungguh merasa tidak siap untuk membicarakan hal itu. Agak tergagap saya berusaha menerangkan maksud dari tulisan bahwa hakikat tidak berhenti. Saya bilang, "Sebenarnya, itu bukan suatu kesimpulan, Pak, saya hanya menulis sebuah gagasan yang melintas sesaat, lebih tepat dikatakan sebagai 'keraguan saya'. Mungkin seharusnya saya menuliskannya dengan pilihan kalimat: 'jangan-jangan hakikat itu sebenarnya tidak berhenti?' atau dengan cara yang lebih baik lagi sebab saya sendiri bertanya-tanya bagaimana bisa dapatkan kesimpulan yang pasti mengenai hal itu?"

Kemudian kami terlibat dalam pembicaraan panjang lebar yang kalau saya ceritakan semuanya di sini mungkin akan menjadi tulisan panjang yang tidak karuan juntrungannya, melelahkan dan membuang waktu bagi orang-orang yang membacanya, karena sebenarnya kelanjutan pembicaraan kami lebih merupakan pengalihan topik pembicaraan yang saya bangun untuk menghindari perdebatan berkepanjangan soal pandangan tentang 'hakikat'. Pada saat itu, saya merasa tidak dapat membebaskan diri dari konsepsi yang mengikat tentang hubungan antara orangtua dengan anak; ayah teman saya berbicara sebagai 'orangtua' dan tentu saja saya bicara sebagai 'anak', sehingga saya agak kesulitan mengembangkan argumentasi secara bebas tentang alasan saya menulis 'hakikat itu tidak berhenti'.

Karena ayah teman saya bilang tentang 'telenging teleng' saya lalu mengalihkan topik dengan membicarakan falsafah Jawa, khususnya mengenai ajaran Ki Ageng Suryomentaram yang pernah saya baca, 'Kawruh Jiwa Kramadangsa'. Pembicaraan kami semakin melebar hingga beliau membahas pula tentang 'ilmu pengetahuan intuitif'. Cukup memusingkan juga karena beberapa kali saya ingin mendebat tapi sungkan. Saya hanya bertanya-tanya dalam hati, "Apakah yang dimaksud dengan 'ilmu pengetahuan intuitif' itu sama dengan yang tergambar dalam alam pikiran saya tentang 'ilmu pengetahuan roh'?" Begitulah akhirnya kami asik bicara berpanjang lebar hingga saya pamit pulang tanpa menyinggung lagi perbedaan pandangan tentang 'hakikat'.

Sesampainya di rumah, saya tidak bisa berhenti memikirkan perdebatan itu. Apakah kami benar-benar memiliki pandangan yang berbeda mengenai hal itu? Ataukah perbedaannya hanya pada persoalan terminologi? Sejujurnya saya tidak menolak pernyataan ayah teman saya bahwa hakikat itu merupakan pencapaian pemahaman 'telenging teleng' atau 'intinya inti' atau ya kira-kira begitulah, namun masih sulit bagi saya menerima dan meyakini begitu saja - pernyataan bahwa 'hakikat itu berhenti'.

Entah kapan saya akan menemukan jawaban yang bisa 'memuaskan nalar dan melegakan hati' mengenai konsepsi tentang 'hakikat'. Pada kenyataannya saya merasa belum bisa mengemukakan alasan yang cukup berbobot mengenai coretan tangan ketika menuliskan 'hakikat itu tidak berhenti', sebaliknya saya juga tidak mendapatkan penjelasan yang cukup mencerahkan ketika ayah teman saya bilang bahwa 'hakikat itu berhenti'. Saya tidak menyesal atau kecewa dengan pilihan untuk tidak membuat perdebatan dengan ayah teman saya menjadi berkepanjangan, karena saya menghormati beliau sebagai 'orangtua', dan saya selalu berharap mudah-mudahan para 'orangtua' juga bersedia belajar dari resistansi yang dihadapi ketika berusaha membentuk 'anak'.

Sampai larut malam saya masih terjaga memikirkan pembicaraan itu, tersenyum sendiri ketika terlintas pertanyaan, "Apakah saya akan terus bertanya-tanya sampai selesai jalani hidup?" Tiba-tiba saya jadi teringat kisah tentang 'Sastrajendra hayuningrat pangruwating diyu'. Ataukah hakikat itu merupakan ilmu pengetahuan tentang rahasia alam semesta yang hanya boleh dimiliki oleh para dewa?

Wah! Sampai di sini saya harus menahan diri untuk tidak terlalu banyak lagi berkata-kata, karena teringat pembicaraan dengan seorang teman saat dia bilang, "Hati-hati, jangan sampai kamu merasa dikejar-kejar oleh kata". Dulu saya tertawa ketika mendengar dia ucapkan itu, tapi sekarang kira-kira saya bisa meraba maksudnya, barangkali mirip dengan ungkapan "Ngelmu iku kelakone kanthi laku"?

Tapi kenapa harus takut dikejar-kejar kata? Bukankah tindakan adalah perjuangan untuk melaksanakan kata-kata? Namun saya sadar, pembicaraan tentang hakikat adalah sebuah usaha untuk merumuskan teori-teori yang dibangun dari kumpulan kata. Kalau kita berkeras hanya berputar-putar terus di situ, siapa bisa memastikan bahwa rumusan teori tentang hakikat itu bisa sampai pada intinya inti lalu berhenti? Mungkin saja kita akan mencapai suatu pemahaman yang mendalam tentang hakikat, tapi kan belum tentu berhenti, ya?

nanya donk Oom

buat Oom yg nulis ini :D

saya sudah lebih dari 2 kali membaca tulisan ini, tapi mengapa setiap kali selesai membacanya hanyalah kebingungan yg selalu hinggap dalam pikiran saya?

bolehlah si Oom penulis membagikan hasil perenungannya yg lebih dalam kepada kami sehingga kami juga dapat mengambil bagian dalam proses pencarian jawaban untuk ini, paling tidak menjawab pertanyaan yg muncul dalam masing-masing pribadi kami.

halllaaaah, aku ki nulis opo toh, hehehhe.......

salam,

Luhur "sapi" Bima '03

Ponakan bertanya, si oom menjawab

Nak,

Pahamilah bahwa aku tidak bermaksud membuatmu bingung dengan tulisanku itu.

Janganlah kamu bingung ketika menjumpai perenunganmu begitu perenunganku begini, sebab perenungan kadang bersifat individual - termasuk ketika kita merenungkan isi dompet.

Salam!