Pencekalan Film “Lastri”

buah pikiran

Pencekalan Film “Lastri”
Potret Kebebasan Ber-kreatif yang Terkekang


Belum lama ini saya melihat berita di televisi tentang pencekalan pembuatan sebuah film yang berjudul “Lastri” garapan sutradara Eros Djarot oleh aparat kepolisian. Alasan yang dikemukakan oleh aparat adalah karena faktor keamanan. Film tersebut dinilai dapat menimbulkan reaksi negatif dari sebagian masyarakat yang ada di sekitar proses shooting, tepatnya di daerah colomadu Surakarta.


Protes bermula dari sebuah Ormas yang menamakan diri mereka FPI yang beranggapan bahwa di dalam cerita film tersebut memuat ajaran komunisme yang dikhawatirkan akan membangkitkan kembali paham yang pernah hidup di negara kita ini, khususnya di era ’60 an. Anehnya , protes dilakukan saat proses pembuatan film artinya film jelas belum selesai, jadi semua masyarakat termasuk saya tentunya belum tahu persis jalan cerita dan pesan-pesan yang ada dalam film tersebut. Sehingga tuduhan yang dilakukan oleh ormas tersebut menurut saya masih berupa asumsi yang tidak jelas dasarnya. “Lha wong filmnya saja belum rampung kok sudah dikritik? Bahkan sampai dicekal?” Kalau tidak salah ceritanya berkaitan dengan seorang perempuan anggota Gerwani (organisasi wanita bentukan PKI) yang bernama Lastri. Nah , mungkin karena ceritanya berkaitan dengan Gerwani yang berhubungan langsung dengan PKI , film tersebut mendapat protes keras.


Di lain pihak, sang sutradara Eros Djarot menyatakan bahwa film tersebut sebenarnya bertemakan cinta, namun dia berusaha mengemas dalam setting yang berbeda, dengan film-film percintaan yang pernah muncul. Dalam hal ini saya mengacungi jempol pada sutradara dan penulis cerita yang berusaha melakukan terobosan baru dalam dunia perfilman Indonesia yang selama ini hanya mengikuti alur pasar tanpa ada kreatifitas di dalamnya atau saya sebut sebagai budaya latah dalam dunia perfilman Indonesia (apik to, istilah e?). Tentunya kita semua ingat saat film horor merajai dunia sinema kita? Kalau saya seorang sutradara mungkin saya akan membuat cerita horor tentang kebangkitan arwah Bung Karno (waha haha , mesti rame kwi , banyak yang protes, buat pendukung Soekarno piss dab!! Gojeg, bercanda).


Kembali ke Film “Lastri”. Lepas dari ada tidaknya paham komunisme dalam film tersebut bukankah seharusnya para pelaku film “Lastri” ini diberi kesempatan untuk mengekspresikan kreatifitas mereka? Toh , saya yakin mereka (sutradara dan kru-krunya) juga tidak akan takut dengan kritik-kritik yang akan disampaikan setelah film selesai diputar. Di sinilah letak pengekangan kebebasan untuk berkreasi dan berekspresi, yang dilakukan sepihak oleh sebuah ormas yang sebetulnya tidak memiliki hak untuk melakukan hal tersebut.


Waktu terus berlalu, zaman semakin maju, reformasi sudah dilakukan, panji-panji yang mengusung demokrasi juga sudah dikibarkan, tapi faktanya kebebasan/kemerdekaan yang sesungguhnya belum terwujud. Perbedaanya pada masa lampau, kita (masyarakat) dikekang oleh pemerintah , sekarang masyarakat dikekang oleh sebagian kecil masyarakat yang seharusnya sama – sama memperjuangkan dan merasakan kebebasan yang sebenarnya. Ironis, pemerintah dalam hal ini aparat yang seharusnya memberikan jaminan kebebasan untuk warganya, justru takut dengan ancaman-ancaman dari segelintir orang yang hanya berkepentingan atas diri mereka sendiri. Tindakan tegas terhadap orang-orang itu (ormas yang semena-mena) yang seharusnya dilakukan bukan pencekalan terhadap orang-orang yang sebenarnya ingin berkreatif.


Sedikit dari saya, mungkin kalau saya seorang pembawa acara “wisata kuliner” yang kebetulan meliput masakan khas batak, dan menyantap sangsang B2 sambil mengatakan “hm hm mak nyus pemirsa” , mungkin saya akan dicekal karena dianggap menghasut masyarakat untuk menyantap makanan haram (he he he).
Sadarilah bahwa di negara kita banyak sekali perbedaan , bukankah akan menjadi lebih indah jika di dalam perbedaan itu terdapat rasa untuk saling menghargai?


***

Ghaib