Pendidikan, untuk apa?

Pendidikan

Tidak jarang terjadi bahwa kita kehilangan arah dan/atau tujuan dalam banyak upaya kita. Dalam bertukar pikiran, pengalaman mengenai prestasi, dan kemenonjolan sistem atau praktek pendidikan tertentu, kita sering lupa bertanya: Apakah tujuan pendidikan? Apakah arti "pendidikan" yang paling baik?

Banyak orang, antara lain para pemimpin negara Indonesia, dan dari banyak anggota masyarakat kita (orang tua elite yang menginginkan sukses bagi anak-anaknya) yang tidak sepenuhnya menyadari bahwa mereka cuma menginginkan pendidikan tinggi dan prestasi akademis yang membuat semua orang lain kagum.

Ada institusi pendidikan yang menginginkan agar siswa-siswanya menonjol dalam bidang akademis apa saja. Sekolah-sekolah swasta seperti sekolah asuhan para Jesuit di seluruh dunia, semua Grammar School di negeri Commonwealth, adalah sekolah semacam ini. Ini semua adalah sekolah elite, amat dihargai oleh golongan ber-uang, berprofesi, atau orang bisnis tingkat tinggi. Target mereka ialah anak yang pintar, dan/atau anak orang yang cukup kaya sehingga mereka mampu membayar biaya pendidikan sejumlah berapapun (fee mereka sekarang rata-rata sudah mendekati jumlah 20 ribu dolar AU).

Mentalitas "keningratan akademia" ini berlaku umum di Indonesia, di AS, dan banyak negara semacam ini. Memang hal ini baik-baik saja, tetapi semua ini hanya bagi mereka yang mampu mencapainya. Siapa atau berapa persenkah dari penduduk suatu negara yang mampu menyediakan biaya itu?

Faktor berikut ini perlu dimasukkan dalam "equation" pemikiran kita.

Semua anak mempunyai dua "beban" sebagai berikut:

  1. Mereka pandai, trampil, cocok/serasi dalam hal-hal tertentu,

  2. Mereka suka akan hal-hal di mana mereka trampil, dsb.

Kedua hal ini harus dipenuhi. Maka dalam pendidikan, sebaiknya orang tidak berpikir "semua pendidikan yang bertingkat canggih, keras, berdisiplin" harus kita laksanakan.

Tidak demikian! Sebaliknya setiap anak harus diperiksa atau diuji, anak ini pandai dalam hal apa, dan tidak hanya pandai, tetapi anak ini bergairah apa, suka akan apa, dan di manakah "passion" dia.

Pendidikan yang menyediakan terpenuhinya kedua unsur itu adalah pendidikan yang berfaedah, terarah dan mencapai tujuannya.

Sebagai orang Indonesia saya pernah mengagumi filsafat pendidikan seperti elitisme Jesuit (Kolese Kanisius - Jakarta, Kolese Loyola - Semarang, tetapi Kolese de Britto tidak termasuk dalam kategori ini), tetapi setelah bertambah "bijaksana", saya sangsi apakah hasil pendidikan yang berazaskan "excellence" saja akan membuahkan manusia yang dapat menikmati kepenuhan dirinya sebagai manusia, menjadi manusia yang berbahagia.

Jadi, sebaiknya pendidikan disesuaikan dengan tujuan yang diinginkan, bukan asal mendidik orang menjadi pintar, tetapi lebih-lebih membina manusia itu menjadi manusia yang "whole", yang utuh atau paripurna.

RH

Re: Pendidikan, untuk apa?

Tanggapan ini ditulis oleh Pak Kadi pada milis debritto.net

Saya setuju bahwa pendidikan sebaiknya tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual siswa, tetapi mendampingi siswa menjadi manusia yang utuh. Romo Driyarkara memakai ungkapan, "memanusiakan manusia". Akan tetapi, tidak mudah lho memperjuangkannya di tengah trend masyarakat yang sok selebritis; yang lebih silau pada kemilaunya dollar atau euro; yang maunya serba instant; yang lebih mendahulukan kepentingan pribadi atau kelompok dan dengan enak mengorbankan kepentingan sesama; yang berebut kursi pemimpin bukan untuk meningkatkan pelayanan tapi demi posisi yang ideal untuk mengeruk kekayaan, yang....

Semoga de Britto dapat bertahan untuk tidak hanya mendampingi siswa menjadi pandai, melainkan juga mengembangkan mereka secara utuh sesuai dengan talenta mereka masing-masing. Sumbang saran dan kritik terhadap pendampingan di de Britto selalu kami harapkan.

Re: Pendidikan, untuk apa?

Catatan Carik: Tanggapan ini ditulis oleh BP pada milis debritto.net

Dalam hal prestasi atau kemenonjolan sistem, saya pribadi tak pernah mempermasalahkan "elite" nya atau "sarungan" nya (walaupun saya tetap punya concern mereka yang dari latar belakang "kurang beruntung" sebaiknya juga memperoleh kesempatan) karena soal "elite"/"sarungan", "seragam"/"pakaian bebas", dsb itu hanyalah "sarana" nya saja dan yang terpenting adalah "output" nya.

Saya sendiri menjalani SMU saya di dua tempat, satu di sebuah SMU negeri dan yang lain di DB, dan terus terang, saya merasa kecewa dengan SIKAP dari teman-teman seangkatan saya (89) di DB dulu dibandingkan sikap teman2 saya di SMU negeri, seperti sikap2 minimalis, waton ngentut di kelas, waton protes, waton kritik, waton
mangap, waton kerengan, dsb yang segalanya serba "waton" alias "tanpa substansi"; dan jangan kaget dengan outputnya karena dari ratusan jurusan A1 angkatan 89, hanya 2 yang masuk ITB, yaitu Arnold dan saya sendiri. Rasanya yang masuk UGM juga nggak sebanyak lulusan SMA 1 atau SMA 3.

Silakan anda mengajukan 1001 argumen atau alasan mengapa bisa begitu, tetapi situasi yang dialami DB waktu itu tidak lebih kurang
beruntung daripada situasi yang dialami SMU negeri tempat saya belajar. SMU negeri tempat saya belajar itu tidak (boleh) mengadakan
seleksi masuk alias siapa saja yang berhak sekolah di SMU di kota
tersebut berhak sekolah di sana. Jangankan ditanya berapa cos x
kalau sin x = 1/3, banyak murid di sana yang tidak bisa membaca dan
menulis. Tetapi saya lihat teman2 kelas 2 atau 3 SMU sangat sibuk
mempersiapkan perguruan tinggi, terutama pembiayaannya.

Di sini tidak ada perguruan tinggi yang SPP nya cuma Rp 65.000 per semester seperti SPP saya di ITB dulu. SPP di sini belasan ribu dollar per semester. Di sini banyak orangtua yang tidak mau membiayai anak2nya di perguruan tinggi sehingga sejak SMU mereka harus cari dana
sendiri, entah dengan cara bekerja atau cari beasiswa. Yet, banyak di antara teman2 saya itu yang lulus cum laude dari Ivy League. That's a character building.

Kalau saya boleh menunjukkan jenis SMU yang "ideal", barangkali saya akan menunjuk SMU semacam yang di film "Emperor's Club" itu. Rasanya pembentukan karakter, bagi saya, lebih dari segala sesuatu yang lain.