Resensi buku: Pikiran dan Aksi Kiai Sadrach, Gerakan Jemaat Kristen Jawa Merdeka

Resensi Buku

Pikiran dan Aksi Kiai Sadrach
Gerakan Jemaat Kristen Jawa Merdeka
Lydia Herwanto
Penerbit Matabangsa, Cetakan 1, Mei 2002
185 halaman

Buku ini lebih bersifat deskripsi historis dari kehidupan Kiai Sadrach Suropranoto, seorang tokoh pendiri Jemaat Kristen Jawa Merdeka yang hidup dalam rentang waktu 1840 – 1924. Dilahirkan sebagai rakyat jelata yang sangat miskin di daerah Pati Jawa Tengah, dan diberi nama Radin. Setelah dipelihara seorang guru Islam, namanya ditambah Abas untuk mencerminkan ke-Islaman-nya. Radin Abas sangat rajin belajar, pandai dan selalu ingin menambah ilmunya. Hidupnya penuh pengembaraan di Jawa Tengah dan Timur dengan berjalan kaki, pernah sampai di Jombang belajar agama Islam, dan terakhir mendapatkan pendidikan di pesantren Gontor di Ponorogo. Mulai tertarik dengan agama Kristen ketika berlibur di Mojowarno (dekat Jombang) dan bertemu dengan seorang penginjil J.E. Jellesma, dari Zendeling. Ketertarikan ini karena menurut Radin Abas, Kristen merupakan suatu ilmu baru yang perlu dipelajari untuk menambah wawasan batin.

Radin Abas tidak segera pindah agama, namun tetap belajar memperkuat dasar-dasar agama Islam, bahkan sewaktu ke Semarang dia banyak bergaul dengan orang-orang Arab dan para tokoh kebatinan, termasuk dengan Kiai Tunggul Wulung, seorang ‘kiai Kristen’ atau ‘dukun Kristen’. Th. 1865 Radin Abas diserahkan oleh Kiai Tunggul Wulung ke Mr. Anthing, sahabatnya, yang juga seorang Wakil Ketua Mahkamah Agung di Batavia, dan seorang anggota Perkumpulan Persahabatan Para Utusan Injil. Radin Abas mendapat kesempatan belajar agama Kristen dengan lebih mendalam. Dua tahun kemudian dia dibaptis dengan nama Sadrach. Nama Abas tidak digunakan lagi, sehingga nama sekarang menjadi Sadrach Radin. Kiai Tunggul Wulung begitu berpengaruh terhadap kehidupan Sadrach sehingga mempunyai corak ajaran kekristenan yang khas.

Sedikit tentang Kiai Tunggul Wulung. Tunggul Wulung dilahirkan di Juana, dan selama bertahun-tahun bertapa di Gunung Kelud bersama istrinya Sam Parwati, dengan tujuan untuk menyatukan diri dengan Tuhan. Pernah mengaku bahwa pada saat bertapa, dia menemukan salinan Sepuluh Perintah Allah di bawah tikarnya disertai suara gemuruh dari langit yang menyuruhnya ke hutan Majapahit untuk menemui seorang pendeta Belanda. Setelah belajar dari alkitab yang didapatnya dari pendeta J.E. Jellesma, dia minta dibaptis, dan diberi nama Kiai Ibrahim Tunggul Wulung, dan menjadi penginjil di daerah Pasuruan, Mojokerto, Malang, Rembang dan Semarang. Tunggul Wulung adalah orang yang ingin selalu menjadi pemimpin, dan “mendapatkan kekuatan supranatural dari Tuhan secara langsung” merupakan salah satu alat legitimasinya. Sebagai seorang pemimpin jemaat Kristen, Tunggul Wulung bersikeras tidak mau bernaung di bawah Zending. Beberapa alat legitimasi yang digunakan termasuk kesaktiannya, yang dapat mengobati orang-orang sakit. Dia juga senang menggunakan tanda kebesaran yang disebut “Payung Agung”, serta menunjukkan kehormatan dirinya dengan sebutan “Kanjeng Rama Ana”. Semua perilaku dan ciri Kiai Tunggul Wulung ini juga dilakukan oleh Kiai Sadrach.

Dalam perjalanan selanjutnya, Sadrach makin berkibar sebagai penyebar agama terutama di daerah sekitar Kutoardjo, Banyumas, terutama karena pemahaman yang dalam tentang Kristen dan kepiawaiannya dalam berkhotbah. Banyak pengikut baru bertambah, setelah guru-guru kebatinan mereka (para pengikut) kalah berdebat dengan Sadrach. Pendekatan Sadrach-pun berbeda dengan penginjil lain, karena dia langsung berkunjung ke rumah2 penduduk. Sejak awal 1870 an pengikut Sadrach makin meningkat. Dan enam tahun kemudian dia menyatakan gereja dibawah pimpinannya memisahkan diri dari Gereja Negara Belanda, dan membentuk Jemaat Gereja Kristen Jawa Merdeka. Dia juga mengganti nama dari Sadrach Radin menjadi Kiai Sadrach Suropranoto yang dapat diartikan sebagai ‘mengurus diri sendiri’.

Ajaran-ajaran Kiai Sadrach merupakan sinkretisme dari kekuatan ajaran pesantren (Islam), Kristen dan kebatinan Jawa. Misalnya, unsur sinkretis ini tercermin dalam upacara penguburan yang bercirikan Islam, dan upacara sedekah bumi yang bercirikan kejawen (kebatinan Jawa), serta khitanan yang pada jaman itu tidak diterapkan oleh orang Kristen. Juga dalam persembahan di gereja, digunakan tembang-tembang Jawa. Salah satu alasan mengapa dia mengikuti ritual adat Jawa adalah agar ajaran Kristen dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Jawa. Namun ada juga upacara adat yang dilarang, seperti: wayangan dan tayuban karena keduanya dianggap bertentangan dengan ajaran Kristen. Wayang dilarang karena memuja dewa-dewa, sedangkan tayuban karena mengandung tindakan asusila.

Sebagai halnya seorang Kiai di sebuah pesantren, Sadrach menjadi pemimpin yang otoriter dan karismatis. Keputusan-keputusan penting hanya bisa dibuat olehnya. Diapun diangkat menjadi kiai yang pandai, sakti karena seringkali berhasil menyembuhkan penyakit orang-orang hanya dengan diolesi ludah atau kencingnya, yang dibarengi dengan doa-doa Kristen, misalnya: “… dalam nama Tuhan Yesus”. Dia berpendapat bahwa corak kekristenan Jawa harus berbeda dengan corak kekristenan Belanda. Sedangkan praktik karunia roh dalam aliran Kerasulan (aliran yang berpusat di London, dimana dia menggabungkan diri) menurutnya mirip dengan sifat mistik Jawa.

Lama kelamaan Belanda merasa terusik dengan tatacara gereja Sadrach, terutama ketakutan akan penentangan terhadap Pemerintah Belanda dan berkembangnya jumlah pengikut Sadrach. Untuk menghentikan laju ajaran Sadrach, Belanda mencari alasan untuk menangkapnya. Akhirnya, alasan itu didapat ketika Sadrach mengajak para pengikutnya menolak untuk vaksinasi cacar. Menurutnya, vaksinasi cacar dapat mengakibatkan adanya cacat (bekas goresan) di tubuh seseorang, sedangkan seseorang menghadap Tuhan harus tanpa cacat. Disamping itu, manusia harus pasrah kepada Tuhan karena Tuhan mampu menghindarkan manusia dari segala macam penyakit.

Maret 1882 dia ditangkap dan dipenjarakan di Purworejo oleh Resident Ligvoet. Pada pertengahan bulan itu pula Belanda menyatakan pemecatan Sadrach, dan membekukan kegiatan Gereja Kristen Jawa Merdeka yang dianggap mengajarkan aliran sesat. Oleh para pengikut Sadrach, peristiwa itu disebut Peristiwa “Jumat Wage”. Kepemimpinan jemaat diserahkan kepada Pendeta Bieger, yang sebenarnya ingin merebut kedudukan dan menguasai wilayah Sadrach, dengan meminta bantuan Pemerintah Hindia Belanda. Namun pada tahun itu juga Kiai Sadrach dibebaskan dari penjara oleh Gubernur Jenderal F.A. Yacob, dengan pertimbangan bahwa perilaku Resident Ligvoet terhadap Kiai Sadrach dan pengikutnya keliru. Akhirnya Sadrach mampu merebut kembali jemaatnya. Melalui berbagai maneuver kerjasama dengan pendeta yang memahami tatacara Jawa (Jacob Wilhelm), Sadrach berhasil mempertahankan jemaatnya, dan dengan kekuatan pengikutnya meski mendapatkan tentangan cukup kuat dari Belanda, Sadrach akhirnya memasukkan Jemaatnya kedalam aliran Kerasulan pada tahun 1899. Dengan begitu, Jemaat Kristen Jawa Merdeka benar-benar memperoleh kemerdekaan penuh karena aliran kerasulan tidak berada di bawah Gereja Negara.

Sepeninggal Sadrach pada tahun 1924, anak angkatnya Jotam Martorejo, merubah tatanan gereja, dan kembali kepada Zending. Dia menganggap bahwa aliran kerasulan tidak sesuai dengan ajaran Kristen yang sebenarnya. Perpecahan antar pengikut terjadi dan akhirnya pada tahun 1933 jemaat diserahkan kepada Zending Gereformeerd Kerken (ZGK). Itulah akhir riwayat dari Jemaat Kristen Jawa Merdeka yang berlangsung sekitar 62 tahun sejak 1871.