Seorang Panchali Bersuami Lima Pandawa

Cerpen

Di Panchala sebuah sayembara diadakan,
dan di TV berteriak iklan-iklan:

DATANGLAH. DRUPADI DEWI MENANTI DIPERISTRI.

Tak ketinggalan,
berbunyi handphone para ksatria
- dah liat iklan? gmn? lu ikutan? :p

Maka riuhlah arena.
Tiga DJ ibukota ligat merumat irama.
Drum n bass, tribal, ambient atau apalah.
Sebut saja. Mereka akan memainkannya.

Semua ksatria datang dengan jumawa.
Jas Armani, parfum Hugo Boss, sepatu Bally.
Martabat, ramai berbicara.
Persenjataan pun erat digenggam tangan.
Mulai cokelat Feroro Roche hingga berlian dari Tiffany’s and co.:
Hei Bung, ini masalah gengsi!

Dari banyak ksatria,
hadir lima insan berbaju brahmana.
Sederhana.
Tanpa banyak kata mereka ada,
tetap dengan segenap rasa bangga di dada.
"Kami hanya berbekal hati dan secuil syair mati."

Merekalah Pandawa,
yang dikira mati terbakar di real estate Waranawata.
Bagai hantu, ternyata mereka menyaru, lalu berkelana.
Arjuna, setelah ksatria lain unjuk kebolehan, tampil mewakili Pandawa.
Mengangkat tangan, menyatakan tantangan.
"Hey DJ, gimme da beat!"
Musik berontak menghentak.
Para hadirin pun tersentak.
Arjuna memulai tariannya.
Patah-patah gerakannya,
seiring drum loop mengetuk dan piringan digaruk.

Usai menari, berkata ia,
"Seperti brahmana kami apa adanya.
Namun, terbuka benak kami, karena bertualang kami di belantara.
Seperti brahmana kami apa adanya.
Tapi bukan berarti kami tidak punya gaya.
Di belantara, mengerti kami banyak budaya.
Dan berjalan kami pada hakiki yang kami miliki.
Berteman dengan realita,
sadar kami bahwa cinta bukan sekedar menjual mimpi.
Maka ini ajakan kami:
Segala proses, mari bersama kita jalani."

Raja Wirata tertawa.
Rakyat terpesona.
Tangan-tangan terangkat ke angkasa, membuka, memuja.
Hail, hail! Hip-hip hooray! Suit-suit!

Kecutlah mereka yang jumawa:
ketulusan adalah lawan di luar bilangan.
Telah terpilih satu.
Dan seribu kepala, pergi tertunduk malu. Layu.
Handphone para ksatria kembali menjerit
- sapa sih mrk? anak mana? - anjing! gua ga terima!
- maklumlah, dia emang cool.
- que sera sera, mothafucka!

Lalu Pandawa dan keluarga Drupadi pun bertemu.
Di ruang tamu, sebuah obrolan hangat bersemi bersama lagu-lagu Shirley Bassey.
Namun, lewat beberapa saat, Raja Wirata terperanjat.
"Nekat! Gila! Ini pelecehan!
Masa anakku tercinta jadi istri kalian berlima?
Ia bukanlah sepatu yang bisa bergiliran kalian pakai!"

Dharmaputra mengulas senyum,
"Well my dearest King, this is not like the way you think.
Telah bersumpah suci kami berlima. Berbagi atas segala.
Susah, senang, kejayaan, bahkan kematian.
Memperistri Drupadi adalah bagian dari sumpah ini.
Memperistri Panchali bagi kami adalah suci.
Lagi pula, mulialah ia.
Di pelosok negeri, banyak pria menjadi raja.
Di sini, kamilah pelayannya.
Terpuji Drupadi Dewi yang memiliki cinta lima Pandawa."

Demikian Panchali bersuami Pandawa, kelima-limanya.
Bagaimana bisa? Namun mengapa tidak?
Tentu saja tak lupa sepucuk kesepakatan ditandatangani di atas materai dan sumpah suci.
Tanpa maksud mencurigai, hanya agar semua mengerti.

Epilog

Di gunung Mahameru, di jalan yang mulai mendaki, Drupadi seakan diingatkan kembali.
Bersuami ia kelima Pandawa, tapi lebih besar cintanya pada Arjuna. Itulah dosanya.
Terjatuh ia di kelokan ketujuh, meninggalkan kelima suaminya dalam perjalanan mencapai nirwana.
Agar utuh, ternyata langkahnya masih jauh.

Kotabaru, 16 April 2004