Sing Gumantung Sing...

Blog

Sing gumantung, sing kesimpar, sing kependem.

Untuk bahasa Indonesia, secara bebas dapat diterjemahkan sebagai yang tergantung, yang tergeletak di permukaan, dan terakhir yang terpendam di dalam tanah. Di dalam filosofi Jawa, tiga jenis pala atau umbi itulah yang membagi ranah ilmu kehidupan.

Sing gumantung adalah sesuatu dalam hidup yang sangat mudah terlihat hanya dalam sekilas mata melihat. Seperti buah sukun atau pepaya yang tumbuh berkembang menggantung di dahan, ada banyak ilmu yang mudah dipelajari, mudah dikuasai, hanya dengan memperhatikan secara seksama sesuatu yang kasat oleh mata. Ini juga sebagai titik terluar yang bisa kita ukur dari pribadi seseorang. Menilai jabatan dari bagaimana seorang pribadi berpakaian misalnya.

Sing kesimpar. Kesimpar atau nyampar adalah kata kerja dimana kita menendang sesuatu dengan konteks secara tidak sengaja. Semangka yang tumbuh tergeletak di tanah sebagai salah satu tanaman sing kesimpar. Kehidupan juga memiliki sesuatu yang berharga, walau ada di tanah, tergeletak di bawah. Tentu sulit untuk menemukannya jika kita sekedar menjalani hidup dengan berjalan lurus memandang ke depan.

Ada orang, atau mungkin juga komunitas yang menjalani laku prihatin. Sebagai contoh, melepas status aslinya untuk melihat kehidupan kaum-kaum kelas bawah. Ada beberapa sekolah yang melakukan live in dengan menginap sehari dua hari di tempat pembuangan akhir sampah bersama pemulung, ada pastor yang menjelma menjadi pengemis dan seterusnya untuk selanjutnya melakukan refleksi kehidupan yang amat berharga daripadanya. Inilah laku atau cara melihat sing kesimpar. Yang berharga namun tergeletak begitu saja.

Dalam diri manungsa, dalam diri manusia, sing kesimpar ini bisa terlihat jika kita mencoba melepaskan pandangan dari sing gumantung. Bukan menilai dari kulit semata, namun mencoba melihat seseorang lebih dekat pada kepribadiannya. Mengajak berbicara sehingga tahu apa yang menjadi kemauan, apa yang menjadi mimpi, atau kebutuhannya.

Sing kependem adalah tingkat tertinggi dari filosofi Jawa. Dia tidak akan terlihat kecuali kita berusaha menemukannya dengan cara-cara khusus. Ada keris yang sakti, ada orang yang bisa melepaskan – juga mengembalikan lagi - roh dari raganya, ada yang terlihat begitu dekat dengan makhluk-makhluk yang tak terlihat, dll. Ini semua ilmu-ilmu yang masuk dalam kategori terpendam. Berlaku pula dalam melihat, juga menilai hidup dan pribadi-pribadi dalam kehidupan.

Secara klenik, ketika menjalani laku puasa, entah itu Senen-Kemis, apit weton dan sejenisnya, umbi akar semacam ketela / singkong inilah yang menjadi santapan. Agar ilmu yang diserap adalah yang terpendam jauh di dalam, bukan sekedar yang bergelantung, atau tergelatak.

Hanya secarik cara untuk melihat.