Ignem veni mittere in terram et quid volo nisi ut accendatur
Untuk seluruh rekan yang pernah menikmati de Britto. Entah siswa, alumni siswa, entah pendidik atau alumni pendidik, karyawan pun juga tak apa. Singkatnya siapa saja yang bisa membaca tulisan saya, baik yang aktif maupun tidak. Ijinkan saya menuang sedikit kegundahan dalam larik kalimat, bukan untuk mencari siapa yang salah, bukan untuk mendiskreditkan. Mungkin sekedar oase refleksi di dataran yang serasa kian gersang.
Sekitar satu tahun yang lalu, secara kebetulan dan separuh bercanda, saya meregister siteforum gratisan bernama JKoenforum di http://jkoen.forumer.com. Seiring waktu, ada beberapa rekan yang ikut – sekedar ngobrol, sharing, bertukar pikiran, atau malah bercanda – di dalamnya. Beberapa rekan dari Kanisius Jakarta, Kolese Gonzaga, beberapa mahasiswa dan siswa SMA dari berbagai daerah dan satu yang tentu saja tak mungkin tak ada, rekan rekan dari Kolese debritto, alumni maupun siswa. Yang saya sebut terakhir yang ingin sedikit saya sharing kan.
Pada mulanya memang sengaja saya buka thread mengenai debritto, dan lebih sengaja lagi saya bebaskan teman teman yang bergabung di dalamnya (tentunya yang memiliki relevansi) untuk berbicara apapun, menyetor uneg uneg, ngulur lambe lan cangkem. Saya memang tidak pernah mensensor rasa-rerasan dan topic tentang debritto yang muncul, mulai dari gojeg kere (dan saru), nggosip (ada anak JB yang jatuh hati dengan anak JB dan sudah dibawa ke BP), sampai yang benar benar serius (sistem pendidikan, rencana mogok UAN dll). Harapannya timbul dialektika (bukan sekedar debat), dan dari dialektika itu muncul pendewasaan sikap.
Tapi tulisan yang saya dapatkan kadang memprihatinkan dan semakin menyadarkan saya ada sebuah pola pola pemikiran tertentu yang kedepan bagi saya sendiri sangat menakutkan.
Ada 3 pola yang dapat saya tangkap. Pertama, pola pikir siswa yang bangga dengan deBritto. (mungkin sebagian besar dari anda di millis ini menganutnya?) Kedua, pola pikir siswa yang biasa saja terhadap debritto. Dan yang ketiga, pola pikir siswa yang kecewa terhadap debritto. Dan maaf saja, ketiga pola pikir itu, setelah banyak ngobrol sana sini, ternyata juga mewabah ke guru dan karyawan, tak sekedar siswa.
Dari pengalaman (pengalaman adalah melihat, mencoba berfikir dari apa yang saya lihat, mengendapkan pemikiran itu dan mempertanyakan ulang apakah benar), siswa yang bangga bukan menjadi masalah, kontribusi mereka bisa jadi positif dan konstruktif atau kalau lupa paling paling juga cuma diam. Siswa yang biasa saja terhadap debritto, setelah lulus ada beberapa yang “kebanggaan”nya baru muncul, kalaupun tidak muncul, amat jarang Ia menjadi kecewa. Dan terakhir siswa yang kecewa, ini menjadi agen apatis dan pesimis. Saya kurang tau apakah kedepan siswa yang kecewa ini mampu menjadi agen distruktif, tapi kiranya sistem pendidikan di debritto tidak mampu mengubah front kecewa ini jadi agen konstruktif.
Kembali ke sharing saya,
Beberapa siswa dan alumni yang bergabung di forum tersebut, terus terang merupakan pribadi pribadi yang mempunyai idealisme yang cukup tinggi, cara berfikir yang ‘mlethik’ dan beberapa diantaranya cukup radikal (dalam artian positif maupun negative). Dan hampir semua dari mereka satu pendapat, bahwa radikalisme pemikiran dan idealisme didapat murni dari deBritto sebagai sebuah proses pembelajaran. Saya pun demikian, ada sebuah alur paradigma baru yang didapatkan setelah mengenyam pembelajaran di debritto. Tetapi dipojok pandang yang lain, hampir separuh dari pribadi hebat yang bergabung, adalah pribadi yang benar benar kecewa terhadap debritto. Kalau sekedar siswa nakal, bagi saya itu kurang berbahaya. Tetapi jika siswa dengan idealisme tinggi, radikal dan dia kecewa, itu menjadi sebuah hal yang mengkhawatirkan.
Dari diskusi, baik langsung maupun lewat tulisan, kekecewaan mereka benar benar dalam. Kasarnya, mereka mendapat idealisme dari debritto, tetapi ketika mereka mencoba “bertanya dan mengubah” yang menurut mereka tidak sreg di debritto, mereka sebagai siswa malah dibungkam, mendapat jawaban yang tidak memuaskan tanpa apresiasi logika. Mereka kebingungan, dan memutuskan bahwa kecewa lah jawaban yang tepat. Dan kalaupun beberapa diantaranya menoreh prestasi, motivasi yang mereka pegang adalah motivasi yang memprihatinkan untuk seorang pribadi didikan debritto.
Pertama, dari siswa, mereka banyak kecewa dengan sikap guru, kebijakan sekolah dan sejenisnya. Tampaknya tak ada alur komunikasi yang bagus di sekolah itu. Contoh pertanyaan nakal,
"mengapa tidak boleh merokok di sekolah?"
Dijawab oleh sub pamong, dilarang merokok karena sudah menjadi kesepakatan.
Kesepakatan yang mana? Kami tidak pernah duduk bersama untuk menyepakati hal itu.
Sedangkan guru saja merokok.
(dan jawaban selanjutnya argument yang tidak jelas)
Dan contoh di atas adalah salah satu contoh dangkal yang benar terjadi, masih banyak contoh yang lebih dalam, permasalahan yang lebih esensial yang ada dan juga benar terjadi. Idealisme mereka disambut dengan jawaban kurang berlogika sehingga berujung pada kecewa. Dan faktanya, dari dua tahun angkatan di atas saya dan juga angkatan saya, debritto berhasil meluluskan orang dengan idealisme benar benar tinggi dan ditambah benar benar kecewa dengan debritto sendiri. Saya yakin kedepan, (kalo keadaannya masih sama) mereka akan menjadi orang yang berpengaruh. Masalahnya, bagaimana dengan kekecewaan mereka, saya khawatir itu justru menjadi boomerang untuk almamater kita. Guru dan romo sebagai pendidik, bahkan kadang putus asa untuk mendidik mereka yang kecewa. Kebanyakan berpandangan negative, kalau tidak ya cuci tangan. Biarlah mereka cepat lulus (dengan membawa pola pikir yang demikian?).
Dikalangan guru dan karyawan, problema idealisme yang menuju kepada kekecewaan itu juga ada. Bahkan jangan dianggap remeh. Rolling karyawan, gap antar guru, permasalahan sikap dan tindakan itu terus mengalir. Ujung ujungnya cepat atau lambat akan bermuara ke siswa.
Idealisme Tanpa Spiritualitas.
Saya tidak tahu bagaimana pola yang ditanamkan pada guru dan karyawan, maka biarlah saya membahas permasalah siswa saja.
Mengulang sedikit, sebagai mantan siswa kami memang merasa bahwa debritto menanamkan sebuah idealisme, dan itu juga disepakati oleh rekan rekan yang lain. Man for other, bebas bertanggung jawab, tidak takut tidak malu tidak malas, dan jargon jargon lain itu melahirkan sub sub idealisme yang serupa dan tak kalah tajamnya. Entah idealisme itu benar benar muncul, terlambat muncul, atau malu muncul, tetapi saya yakin kita semua mempunyainya.
Masalahnya adalah apakah idealisme itu berkembang seiring juga dengan spiritualitas yang benar ? Lama hal ini saya pikirkan, saya renungkan dan lama pula saya menimbang apakah pendapat yang ingin saya utarakan ini benar.
Khususnya untuk angkatan yang “dekat dekat” dengan saya (sebelum dan sesudah), debritto kecolongan. Inisialisasi nilai dan implementasi nilai lebih terfokus ke pikiran dan perasaan siswa. Hal ini menimbulkan sikap bahwa siswa hanya berpegang pada idealisme. Ketika siswa menemui suatu kondisi yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan (yang telah ditawarkan sebelumnya), siswa merasa dan ada sebagian yang bertindak. Mereka menyerukan dengan fondasi idealisme. Kemudian apa masalahnya?
Masalahnya, idealisme itu tidak dibarengi dengan spiritualitas yang kuat. Ketika mereka menemui “jalan buntu” dengan idealismenya, ketika mereka menemui harga mati yang tidak bisa diubah, nurani mereka bisu, ujungnya adalah kecewa. Spiritualitas yang saya maksud adalah suatu hal yang lebih tenang dari sebuah idealisme, sebuah nilai yang lebih dalam dari suatu idealisme. Apabila idealisme kita ibaratkan sebagai suatu jasmani, maka spiritualitas adalah sisi rohani.
Debritto lemah dalam memberikan nilai spiritualitas. Ketika siswa buntu saat memperjuangkan idealismenya, mereka stag dan kecewa. Spiritualitas tidak mampu membackup emosi, pola pikir dan tindakan. Contoh nyata adalah ketika siswa maju dengan idealismenya, dari segi cara pun banyak yang kurang tepat. Misalnya saja, kalau tidak suka dengan seseorang ya diganti, tinggal bagaimana strategi kita untuk menggantinya. Nah hal hal semacam ini yang terkesan kasar. Mengapa harus diganti, mengapa tidak coba diperbaiki? Inilah kelemahan siswa tanpa spiritualitas yang jelas.
Bukti nyata adalah saya tahu beberapa guru tidak suka dengan siswa yang terlalu radikal. Ini terjadi karena memang cara mengungkapkan radikalisme itu kurang baik. Mengapa sampai hal ini terjadi? Jawabannya adalah sejauh mana spiritualitas siswa selaku pembawa idealisme. Idealisme tanpa spiritualitas menjadi mengerikan, bahkan saya kira suatu saat menjadi senjata makan tuan. Saya berpendapat, spiritualitas adalah daging buah dan idealisme adalah kulitnya, idealisme adalah cara dan spiritualitas adalah kemudinya.
Mungkin beberapa anak debritto mempunyai idealisme yang sama dengan romo romo SJ, tetapi kami kalah di spiritualitas. Dan miskinnya spiritualitas itu tercermin dari cara memperjuangkan idealisme.
Kemudian spiritualitas yang bagaimana yang seharusnya dinuranikan kepada siswa? Jangan tanya saya, tanya kolese deBritto yang seharusnya memberikannya kepada mereka.
Mungkin AMDG adalah jawaban. Tetapi AMDG yang bagaimana? Tuhan yang mana? Kemuliaan yang seperti apa? Perjuangan itu apa?
Kalo iklan, mungkin sudah bilang “ Tanya Ken NAPA??”
Saya hanya mencoba mengingatkan saja, bahwa deBritto itu sudah terlalu banyak meluluskan orang yang kecewa. Siapa tahu deBritto lupa atau malah bahagia kalo orang orang yang kecewa itu akhirnya lulus juga. Jangan sampailah demikian. Itu baru siswa, belum lagi guru dan karyawan yang saya tau pasti mempunyai setumpuk kekecewaan. Harapan saya, dengan spritualitas, mereka bisa mengolah kekecewaan itu menuju arah yang positif, tetapi faktanya tidak ada yang demikian.
Kemudian bagaimana ? Apakah deBritto sadar?
Ajining diri ono ing lathi,
Ajining lathi ono ing ati,
Ajining ati ono ing rasa pangerti.
Rintik sepi, saat hujan berhenti dan malam mulai bernyanyi.
STT Telkom. Bandung. 00.54, awal Mei.
Johanes Kunto Suharimurti. deBritto 2005.
http://jkoen.forumer.com
johanes_kunto@yahoo.com



