SMA de Britto : Idealisme Tanpa Spiritualitas. Benarkah ?

Pendidikan

Ignem veni mittere in terram et quid volo nisi ut accendatur

Untuk seluruh rekan yang pernah menikmati de Britto. Entah siswa, alumni siswa, entah pendidik atau alumni pendidik, karyawan pun juga tak apa. Singkatnya siapa saja yang bisa membaca tulisan saya, baik yang aktif maupun tidak. Ijinkan saya menuang sedikit kegundahan dalam larik kalimat, bukan untuk mencari siapa yang salah, bukan untuk mendiskreditkan. Mungkin sekedar oase refleksi di dataran yang serasa kian gersang.

Sekitar satu tahun yang lalu, secara kebetulan dan separuh bercanda, saya meregister siteforum gratisan bernama JKoenforum di http://jkoen.forumer.com. Seiring waktu, ada beberapa rekan yang ikut – sekedar ngobrol, sharing, bertukar pikiran, atau malah bercanda – di dalamnya. Beberapa rekan dari Kanisius Jakarta, Kolese Gonzaga, beberapa mahasiswa dan siswa SMA dari berbagai daerah dan satu yang tentu saja tak mungkin tak ada, rekan rekan dari Kolese debritto, alumni maupun siswa. Yang saya sebut terakhir yang ingin sedikit saya sharing kan.

Pada mulanya memang sengaja saya buka thread mengenai debritto, dan lebih sengaja lagi saya bebaskan teman teman yang bergabung di dalamnya (tentunya yang memiliki relevansi) untuk berbicara apapun, menyetor uneg uneg, ngulur lambe lan cangkem. Saya memang tidak pernah mensensor rasa-rerasan dan topic tentang debritto yang muncul, mulai dari gojeg kere (dan saru), nggosip (ada anak JB yang jatuh hati dengan anak JB dan sudah dibawa ke BP), sampai yang benar benar serius (sistem pendidikan, rencana mogok UAN dll). Harapannya timbul dialektika (bukan sekedar debat), dan dari dialektika itu muncul pendewasaan sikap.

Tapi tulisan yang saya dapatkan kadang memprihatinkan dan semakin menyadarkan saya ada sebuah pola pola pemikiran tertentu yang kedepan bagi saya sendiri sangat menakutkan.

Ada 3 pola yang dapat saya tangkap. Pertama, pola pikir siswa yang bangga dengan deBritto. (mungkin sebagian besar dari anda di millis ini menganutnya?) Kedua, pola pikir siswa yang biasa saja terhadap debritto. Dan yang ketiga, pola pikir siswa yang kecewa terhadap debritto. Dan maaf saja, ketiga pola pikir itu, setelah banyak ngobrol sana sini, ternyata juga mewabah ke guru dan karyawan, tak sekedar siswa.

Dari pengalaman (pengalaman adalah melihat, mencoba berfikir dari apa yang saya lihat, mengendapkan pemikiran itu dan mempertanyakan ulang apakah benar), siswa yang bangga bukan menjadi masalah, kontribusi mereka bisa jadi positif dan konstruktif atau kalau lupa paling paling juga cuma diam. Siswa yang biasa saja terhadap debritto, setelah lulus ada beberapa yang “kebanggaan”nya baru muncul, kalaupun tidak muncul, amat jarang Ia menjadi kecewa. Dan terakhir siswa yang kecewa, ini menjadi agen apatis dan pesimis. Saya kurang tau apakah kedepan siswa yang kecewa ini mampu menjadi agen distruktif, tapi kiranya sistem pendidikan di debritto tidak mampu mengubah front kecewa ini jadi agen konstruktif.

Kembali ke sharing saya,
Beberapa siswa dan alumni yang bergabung di forum tersebut, terus terang merupakan pribadi pribadi yang mempunyai idealisme yang cukup tinggi, cara berfikir yang ‘mlethik’ dan beberapa diantaranya cukup radikal (dalam artian positif maupun negative). Dan hampir semua dari mereka satu pendapat, bahwa radikalisme pemikiran dan idealisme didapat murni dari deBritto sebagai sebuah proses pembelajaran. Saya pun demikian, ada sebuah alur paradigma baru yang didapatkan setelah mengenyam pembelajaran di debritto. Tetapi dipojok pandang yang lain, hampir separuh dari pribadi hebat yang bergabung, adalah pribadi yang benar benar kecewa terhadap debritto. Kalau sekedar siswa nakal, bagi saya itu kurang berbahaya. Tetapi jika siswa dengan idealisme tinggi, radikal dan dia kecewa, itu menjadi sebuah hal yang mengkhawatirkan.

Dari diskusi, baik langsung maupun lewat tulisan, kekecewaan mereka benar benar dalam. Kasarnya, mereka mendapat idealisme dari debritto, tetapi ketika mereka mencoba “bertanya dan mengubah” yang menurut mereka tidak sreg di debritto, mereka sebagai siswa malah dibungkam, mendapat jawaban yang tidak memuaskan tanpa apresiasi logika. Mereka kebingungan, dan memutuskan bahwa kecewa lah jawaban yang tepat. Dan kalaupun beberapa diantaranya menoreh prestasi, motivasi yang mereka pegang adalah motivasi yang memprihatinkan untuk seorang pribadi didikan debritto.

Pertama, dari siswa, mereka banyak kecewa dengan sikap guru, kebijakan sekolah dan sejenisnya. Tampaknya tak ada alur komunikasi yang bagus di sekolah itu. Contoh pertanyaan nakal,

"mengapa tidak boleh merokok di sekolah?"
Dijawab oleh sub pamong, dilarang merokok karena sudah menjadi kesepakatan.
Kesepakatan yang mana? Kami tidak pernah duduk bersama untuk menyepakati hal itu.
Sedangkan guru saja merokok.
(dan jawaban selanjutnya argument yang tidak jelas)

Dan contoh di atas adalah salah satu contoh dangkal yang benar terjadi, masih banyak contoh yang lebih dalam, permasalahan yang lebih esensial yang ada dan juga benar terjadi. Idealisme mereka disambut dengan jawaban kurang berlogika sehingga berujung pada kecewa. Dan faktanya, dari dua tahun angkatan di atas saya dan juga angkatan saya, debritto berhasil meluluskan orang dengan idealisme benar benar tinggi dan ditambah benar benar kecewa dengan debritto sendiri. Saya yakin kedepan, (kalo keadaannya masih sama) mereka akan menjadi orang yang berpengaruh. Masalahnya, bagaimana dengan kekecewaan mereka, saya khawatir itu justru menjadi boomerang untuk almamater kita. Guru dan romo sebagai pendidik, bahkan kadang putus asa untuk mendidik mereka yang kecewa. Kebanyakan berpandangan negative, kalau tidak ya cuci tangan. Biarlah mereka cepat lulus (dengan membawa pola pikir yang demikian?).

Dikalangan guru dan karyawan, problema idealisme yang menuju kepada kekecewaan itu juga ada. Bahkan jangan dianggap remeh. Rolling karyawan, gap antar guru, permasalahan sikap dan tindakan itu terus mengalir. Ujung ujungnya cepat atau lambat akan bermuara ke siswa.

Idealisme Tanpa Spiritualitas.

Saya tidak tahu bagaimana pola yang ditanamkan pada guru dan karyawan, maka biarlah saya membahas permasalah siswa saja.

Mengulang sedikit, sebagai mantan siswa kami memang merasa bahwa debritto menanamkan sebuah idealisme, dan itu juga disepakati oleh rekan rekan yang lain. Man for other, bebas bertanggung jawab, tidak takut tidak malu tidak malas, dan jargon jargon lain itu melahirkan sub sub idealisme yang serupa dan tak kalah tajamnya. Entah idealisme itu benar benar muncul, terlambat muncul, atau malu muncul, tetapi saya yakin kita semua mempunyainya.

Masalahnya adalah apakah idealisme itu berkembang seiring juga dengan spiritualitas yang benar ? Lama hal ini saya pikirkan, saya renungkan dan lama pula saya menimbang apakah pendapat yang ingin saya utarakan ini benar.

Khususnya untuk angkatan yang “dekat dekat” dengan saya (sebelum dan sesudah), debritto kecolongan. Inisialisasi nilai dan implementasi nilai lebih terfokus ke pikiran dan perasaan siswa. Hal ini menimbulkan sikap bahwa siswa hanya berpegang pada idealisme. Ketika siswa menemui suatu kondisi yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan (yang telah ditawarkan sebelumnya), siswa merasa dan ada sebagian yang bertindak. Mereka menyerukan dengan fondasi idealisme. Kemudian apa masalahnya?

Masalahnya, idealisme itu tidak dibarengi dengan spiritualitas yang kuat. Ketika mereka menemui “jalan buntu” dengan idealismenya, ketika mereka menemui harga mati yang tidak bisa diubah, nurani mereka bisu, ujungnya adalah kecewa. Spiritualitas yang saya maksud adalah suatu hal yang lebih tenang dari sebuah idealisme, sebuah nilai yang lebih dalam dari suatu idealisme. Apabila idealisme kita ibaratkan sebagai suatu jasmani, maka spiritualitas adalah sisi rohani.

Debritto lemah dalam memberikan nilai spiritualitas. Ketika siswa buntu saat memperjuangkan idealismenya, mereka stag dan kecewa. Spiritualitas tidak mampu membackup emosi, pola pikir dan tindakan. Contoh nyata adalah ketika siswa maju dengan idealismenya, dari segi cara pun banyak yang kurang tepat. Misalnya saja, kalau tidak suka dengan seseorang ya diganti, tinggal bagaimana strategi kita untuk menggantinya. Nah hal hal semacam ini yang terkesan kasar. Mengapa harus diganti, mengapa tidak coba diperbaiki? Inilah kelemahan siswa tanpa spiritualitas yang jelas.

Bukti nyata adalah saya tahu beberapa guru tidak suka dengan siswa yang terlalu radikal. Ini terjadi karena memang cara mengungkapkan radikalisme itu kurang baik. Mengapa sampai hal ini terjadi? Jawabannya adalah sejauh mana spiritualitas siswa selaku pembawa idealisme. Idealisme tanpa spiritualitas menjadi mengerikan, bahkan saya kira suatu saat menjadi senjata makan tuan. Saya berpendapat, spiritualitas adalah daging buah dan idealisme adalah kulitnya, idealisme adalah cara dan spiritualitas adalah kemudinya.

Mungkin beberapa anak debritto mempunyai idealisme yang sama dengan romo romo SJ, tetapi kami kalah di spiritualitas. Dan miskinnya spiritualitas itu tercermin dari cara memperjuangkan idealisme.

Kemudian spiritualitas yang bagaimana yang seharusnya dinuranikan kepada siswa? Jangan tanya saya, tanya kolese deBritto yang seharusnya memberikannya kepada mereka.

Mungkin AMDG adalah jawaban. Tetapi AMDG yang bagaimana? Tuhan yang mana? Kemuliaan yang seperti apa? Perjuangan itu apa?

Kalo iklan, mungkin sudah bilang “ Tanya Ken NAPA??”

Saya hanya mencoba mengingatkan saja, bahwa deBritto itu sudah terlalu banyak meluluskan orang yang kecewa. Siapa tahu deBritto lupa atau malah bahagia kalo orang orang yang kecewa itu akhirnya lulus juga. Jangan sampailah demikian. Itu baru siswa, belum lagi guru dan karyawan yang saya tau pasti mempunyai setumpuk kekecewaan. Harapan saya, dengan spritualitas, mereka bisa mengolah kekecewaan itu menuju arah yang positif, tetapi faktanya tidak ada yang demikian.
Kemudian bagaimana ? Apakah deBritto sadar?

Ajining diri ono ing lathi,
Ajining lathi ono ing ati,
Ajining ati ono ing rasa pangerti.

 

Rintik sepi, saat hujan berhenti dan malam mulai bernyanyi.
STT Telkom. Bandung. 00.54, awal Mei.
Johanes Kunto Suharimurti. deBritto 2005.
http://jkoen.forumer.com
johanes_kunto@yahoo.com

Re: SMA deBritto : Idealisme Tanpa Spiritualitas. Benarkah ?

Catatan carik: Tanggapan ini ditulis oleh chipar/97 pada milis debritto.net

halo...
banyak mahasiswa pake mobil mewah itu betul faktanya....terutama di
kampus-kampus favorit entah itu negeri atau swasta (soale yg negeri udah
sama mahalnya dgn yg swasta).

mengenai banyak lulusan sms yg melanjutkan ke luar negeri itu juga
betul,kalo menurut orang tua yg anaknya disekolahkan ke luar negeri itu,di
samping karena biaya yg mahalnya ga beda jauh dengan di indonesia,adalah
alasan lain,yaitu diharapkan anak-anak mereka bisa bekerja menghasilkan duit
di luar negeri,sukur-sukur bisa menabung dan membiayai akomodasi
hariannya,bahkan mbayari sekolahe dewe....di samping itu masa depan yg cerah
juga menanti.Nah,untuk yg terakhir itu sih tergantung dari anak-nya
sendiri...niat opo ora.

chipar/97

Re: SMA deBritto : Idealisme Tanpa Spiritualitas. Benarkah ?

Catatan carik: Tanggapan ini ditulis oleh Herman '92 pada milis debritto.net

Wah sekarang sebetulnya lebih tragis lagi yang terjadi di ITB, kalau
melihat parkiran di dalam kampus sisi Sasana Bumi Ganesha, berderet mobil2
mewah. Dan lebih tragis lagi itu bukan mobilnya dosen ITB tapi mobil
mahasiswanya.

Banyak perubahan terjadi di dunia pendidikan Indonesia, dengan uang bisa
beli pendidikan.Beberapa universitas sudah membuka program tanpa test cukup
bayar. Bayangkan dengan uang 150 Juta, lulusan SMA bisa menjadi mahasiswa
kedokteran umum tanpa test. Bisa dibayangkan bagaimana kualitas dokter
lulusan universitas tersebut. Mungkin agak menyimpang dari topik tapi buat
orang2x tersebut statement kunto bener menukar uang dengan intelektual.

Buat BP, salah kalau anda mengatakan bahwa dosen ITB tidak digaji layak
sekarang ini. Sejak adanya otonomi universitas, gaji mereka sudah
disesuaikan. Walaupun bentuknya tidak semuanya gaji per bulan tapi secara
kolektif ada kontribusi dari proyek2x yang mereka kerjakan.

Sebagai informasi saja untuk fakultas business management yang baru di buka
di ITB, uang sekolah mereka Rp. 30 juta setahun, dijamin penghasilan dosen
tidak akan kecil dengan uang SPP sebesar itu.

Apa bener pendidikan itu semakin mahal, jawabanya menurut saya benar. dan
kita semakin melarat juga benar.

14 th lalu saya membayar SPP di ITB per semester Rp. 120,000, yang mahal
bukan SPPnya uang kost, uang buku dll. Sekarang uang spp saja bisa Rp. 4
juta. Bayangkan banyak orang yang punya kemampuan tapi tidak bisa membeli
pendidikan.

Sebagai tambahan infos. Akhir akhir ini banyak exodus mahasiswa indonesia ke
luar negeri. Ketika melontarkan pertanyaan kenapa sekolah ke luar negeri
jawabnya wah sama aja biayanya sekolah di luar dengan di Indonesia. Bener
pendidikan semakin mahal di indonesia ? Kalau soal daya beli saya gak bisa
komentar karena tidak tahu permasalahannya nanti malah dikira sok tahu.

Herman

Re: SMA deBritto : Idealisme Tanpa Spiritualitas. Benarkah ?

Catatan carik: Tanggapan ini ditulis oleh AB/71 pada milis debritto.net

Menurut saya, pendidikan adalah sebuah investasi sumberdaya manusia.Investasi (menanam modal), mengeluarkan sejumlah biaya supaya (pada
saatnya) bisa mendapatkan pengembalian yang lebih besar. Pada dasarnya,
pendidikan memerlukan biaya yang tinggi. Kunto dan Wicak sudah mengurai
sendiri betapa tingginya biaya pendidikan. Beberapa kali menerima
penjelasan ttg biaya dari bbrp sekolah yang berbeda ketika anak2ku masuk
sebuah sekolah/universitas, hal itu semakin jelas.

Yang tidak jelas
adalah, ketika biaya itu dibebankan kpd orangtua, itung2an kalkulator
saya kok tidak cocok. Kalkulator saya terlalu tinggi hasilnya. Yang
tidak jelas itu adalah, kok ternyata tidak semua beban sekolah dibayar
oleh murid/mahasiswa. Dibayar oleh siapa? Padahal kita melihatnya masih
methentheng, kok mahal to! Mahal dan murah itu relatif. Yang tidak
relatif adalah daya beli. Daya beli kita memang rendah. Kalau begitu, ya
jangan nyalahke orang lain. Salahe dewe kok mlarat...:-) (saya dulu
bahkan tidak berani mendaftar universitas di Jogja, wong bapakku mlarat...)

Tapi untungnya, yang membutuhkan SDM berkualitas tidak cuma orangtua
saja, supaya anaknya dapat pekerjaan, kedudukan tinggi gaji gede.
Masyarakat, kita-dunia bisnis/industri-pemerintah-dll, membutuhkan SDM
yang oke. Maka investasi dilakukan secara bersama2. Ada yang langsung
ada yang tidak. Orangtua, pemerintah jelas invest langsung, sedang dunia
bisnis masih terbagi ada yang langsung ada yang tidak, kebanyakan tidak.
Contoh sedikit yang langsung di Indonesia adalah politeknik, mereka
banyak yang menggandeng dunia industri; Universitas Presiden di Cikarang
yang dibiayai oleh gabungan industri di wilayah Cikarang. Yang tidak
langsung ya model sponsorship (iklan?) model Microsoft di ITB, perbankan
yg memberi kredit dengan bunga rendah, dll.
Sebenarnya pendidikan itu tidak semakin mahal, kita saja yang semakin
mlarat. Daya beli turun. Anda2 yang masih sekolah tahunya pasti dari
betapa makin ngomelnya orangtua Anda. Dengan uang sekolah yang 'mahal',
sekolah tidak semakin kaya. Nyatanya guru2nya tidak semakin kaya juga.

Nek ra ngandel takon Pak Sukris kae, mas FX Widar yang dosen
ngalor-ngidul di Bandung, pak Kadi, Toni. Nang kene akeh guru, lho le!

Sapi! Sapi! Luhur Bima!
Biyangane kowe! Aku agek methentheng arep nanduki je, kowe ngomentari
kaya ngono. ('keterbatasan dalam menuangkan pikiran')

Kunto: 'bukankah kata itu milik kita dan manusia masih boleh berkuasa
atas maknanya...)'

Keliru, le. Kata itu milik bersama, bahasa itu konsesi. Kita gak bisa
menguasai sendiri. Kalau itu mau kita, kita gak bisa berkomunikasi
dengan yang lain. Areng kuwi ireng, nek kowe kanda ijo, aku mesti
bingung pelem mentah kae warnane apa.

Wis, ya...

AB/71

Re: SMA deBritto : Idealisme Tanpa Spiritualitas. Benarkah ?

Catatan carik: Tanggapan ini ditulis oleh Candra Suparto pada milis debritto.net
kalo emang kita semakin melarat....tapi kok faktanya di parkiran kampus
banyak berjajar mobil-mobil mewah milik mahasiswa ya.....heheheheh bener2
republik BBM....

Candra Suparto

Re: SMA deBritto : Idealisme Tanpa Spiritualitas. Benarkah ?

Catatan carik: Tanggapan ini ditulis oleh Surya '95 pada milis debritto.net

"kalo emang kita semakin melarat....tapi kok faktanya di parkiran kampus
banyak berjajar mobil-mobil mewah milik mahasiswa ya.....heheheheh bener2
republik BBM...."

hehehehe ... ironi yah ??? tapi kalau anda berkunjung ke daerah lain .... kebetulan beberapa waktu yang lalu saya sempat melakukan penelitian ekonomi mikro di Jember (maaf saya lupa nama desanya) .... mereka secara keuangan sungguh memprihatinkan ... tapi apa yang saya dapat dari sana .... fighting spirit mereka dalam berusaha sungguh tinggi ... dengan pinjaman (kredit) sebesar Rp50 ribu ... mereka bisa bertahan hidup dan mengembangkan usahanya ... sungguh mengharukan ... bahkan mereka malu kalau sampai nunggak bayar cicilannya .... sungguh ...... saya terhenyak karena uang Rp50 ribu bagi mereka sungguh sangat berarti banyak dalam bertahan hidup ... uang yang sejumlah itu bagi kita di kota besar paling hanya cukup buat 1 kali makan siang .... atau sekedar ngopi di warung dengan merek dari Amrika .... tapi bagi mereka itu sama dengan nyawa bagi mereka dan keluarganya ..... dari itu pula anak mereka bisa sekolah sampai SMK ... trus langsung kerja di bengkel ..... membantu
adik - adiknya ... and so on ...... hmmmmmmmmmm ....... luar biasa ........

Surya '95

Re: SMA deBritto : Idealisme Tanpa Spiritualitas. Benarkah ?

Catatan carik: Tanggapan ini ditulis oleh Surya '95 pada milis debritto.net

"Sebenarnya pendidikan itu tidak semakin mahal, kita saja yang semakin
mlarat. Daya beli turun. Anda2 yang masih sekolah tahunya pasti dari
betapa makin ngomelnya orangtua Anda. Dengan uang sekolah yang
'mahal',

sekolah tidak semakin kaya. Nyatanya guru2nya tidak semakin kaya juga.
Nek ra ngandel takon Pak Sukris kae, mas FX Widar yang dosen
ngalor-ngidul di Bandung, pak Kadi, Toni."

saya setubuh dengan Mas Bardhono, emang salah satu jawaban mengapa biaya sekolah mahal. yah karena sekarang apa - apa naik, sedangkan kenaikan biaya hidup itu kurang sebanding dengan kemampuan kita dalam memperoleh penghasilan. tetapi saat ini, kalo saya engga salah ada beberapa Pemda yang (seharusnya) rela menyisihkan anggarannya untuk memberikan subsidi ke sekolah - sekolah (sebagian besar masih mengutamakan sekolah negeri).saya engga tahu apakah STM / sekolah kejuruan juga dapet subsidi tapi perguruan tinggi setahu saya engga dapet subsidi deh. mungkin ini karena adanya ketentuan tentang otonomi kampus, saya engga tahu.

tapi dibalik itu semua, saya rasa engga ada salahnya bagi ortu yang secara finansial kurang beruntung menyekolahkan anaknya ke STM / SMK yang notabene apabila telah lulus dari sana bisa bekerja (idealnya begitu). tetapi kembali kepada kenyataan, ternyata banyak STM dan SMK (sekolah Kejuruan lainnya)
yang cenderung asal - asalan sehingga kualitas pendidikannya pun tidak sesuai dengan harapan yang saya sebut tadi, yaitu lulus langsung sudah bisa kerja. kenapa ??? banyak kendalanya ,yang klasik adalah dana.so how ????? seandainya saja seorang kepala daerah berani menambah % anggarannya untuk sektor pendidikan dan dibagikan secara adil dan tepat serta diawasi secara ketat penggunaannya, saya yakin bahwa kualitas pendidikan bisa lebih baik. kelemahan pelaksanaan kebijakan di Indonesia antara lain tidak konsisten, lemahnya pengawasan, dan tingginya conflict of interest. banyak hal yang harus segera dibenahi. saya sungguh yakin salah satu hal untuk memecah lingkaran setan kemiskinan di Indonesia adalah pendidikan yang murah bagi seluruh warga dengan tidak melupakan kualitas. kapan itu terjadi, saya engga tahu. karena saya engga tahu apa yang ada di hati dan otak para penentu / pengambil kebijakan di Indonesia.

kurang adanya sinergi antar departemen / pihak yang sebenarnya memiliki kepentingan yang sama adalah salah satu contohnya. mereka sibuk dengan gengsinya sendiri - sendiri dan merasa kalau itu adalah "wilayahnya" yang lain engga usah ikut campur sehingga yah engga heran kalo suatu kebijakan bisa lama diimplementasikan (sehingga pada saat dilaksanakan sudah engga sesuai lagi dengan kondisi yang ada)atau engga bisa dijalankan secara optimal. kembali ke permasalahan biaya pendidikan mahal , emang iya, apalagi swasta. lha wong swasta kudu membiayai semuanya sendiri kalo engga mahal fasilitas pendidikan kurang ,kualitas pendidikan turun, sekolah engga laku trus tutup. muncul pengangguran baru, kemiskinan baru terciptalah. hmmmmmmm....... dilematis memang. makanya yang saya lakukan sekarang adalah mulai menabung untuk pendidikan anakku meskipun usianya baru mau 5 bulan untuk menjamin peningkatan kualitasnya
hidupnya di masa yang akan datang karena saya yakin semuanya akan lebih berat lagi. setidaknya semoga pancingnya dia jauh lebih bagus dan kuat dibandingkan milik saya saat ini ...

suwun ......
Surya '95

Re: SMA deBritto : Idealisme Tanpa Spiritualitas. Benarkah ?

Catatan carik: Tanggapan ini ditulis oleh Sapi '03 pada milis debritto.net

buat pak hardray, pak BP dan sedulurs yg lain,

saya juga sempat mengalami hal yg sama dalam memahami tulisan
Jkoen ini, tapi kiranya harap dimaklumi karena saya pribadi juga
seperti Jkoen. di usia kami yg masih muda ini, kami mengalami
keterbatasan dalam menuangkan pemikiran kami untuk bisa dipahami
oleh orang lain. kami baru mampu untuk menuangkan apa yg sedang
terlintas dalam otak kami secara mentah sehingga dari segi tata
bahasa, efisiensi penulisan, struktur penyampaian, dsb masih
belum baik. satu cara yg bisa dilakukan untuk mengatasi hal ini
adalah dengan terus menulis, mendengar masukan dari orang lain
dan meningkatkan kemampuan kita menulis (setidaknya itu yg saat
ini saya lakukan, kun). untuk kangmas-kangmas yg lain, tolong
untuk tidak bosan membantu kami dalam meningkatkan kemampuan
menulis kami.

mengenai tulisan kunto, saya memang tidak terlalu dalam untuk
memahami tujuannya. tapi saya menangkap adanya luapan emosi si
penulis dalam pemikirannya. setelah saya membacanya dua kali,
saya pribadi tidak tertarik untuk mendukung pemikiran kunto dan
kekecewaan anak JB sekarang ini. yg saya tangkap dari tulisan
itu adalah sebuah kesan MANJA dari anak2 JB dimana yg mereka
lakukan adalah menuntut orang lain untuk memahami keinginan
mereka. buat saya pribadi, kebebasan yang diajarkan oleh JB
tidaklah selalu bahwa kita bisa berbuat apa yg kita inginkan.
mengapa kunto dan teman-teman tidak melihat kebebasan itu
sebagai sebuah kebebasan untuk berpikir secara sadar dan kreatif
dalam menghadapi keterbatasan2 yg ada.

dalam hidup yg nyata di masyarakat, kita tidak mungkin selalu
mendapatkan kebebasan yg kita inginkan. tentunya ada hal2 yg
membatasi kita walau kita tidak menyetujuinya. yg kita bisa
lakukan adalah menyesuaikan diri dengan situasi yg ada tanpa
kehilangan kepribadian dan selalu bertindak positif. janganlah
melihat batasan2 yg ada sebagai hal yg membuat kita kecewa tapi
sebagai tantangan agar kita dapat menjadi lebih kreatif dalam
menjalankan kebebasan yg kita anut. so buat saya pribadi, itu
lah yg disebut sebagai seorang de brittan.

dulu sewaktu saya baru lulus dari JB (2003)mungkin juga seperti
kunto, idealisme murni melekat kuat pada diri saya. tapi seiring
dengan waktu saya sadar bahwa idealisme itu harus dapat
beradaptasi dengan situasi yg saya hadapi tanpa kehilangan inti
dari idealisme itu sendiri (mungkin kawan2 yg lain tidak setuju
dengan pendapat saya ini, karena itu saya mengharapkan masukan
dari yg lain)

oleh karena itu, masukan saya pada kunto dan kawan2 debritto yg
kecewa yg lain (jikalau diperbolehkan), hendaknya dalam melihat
sesuatu tidak hanya dari satu sisi tapi juga dari sisi pihak
lain, ini akan membantu kita untuk berpikir secara obyektif
sehingga menghasilkan pemikiran yg matang dan tidak terkesan
egois dan emosional belaka. paling tidak inilah yg saya terapkan
dalam cara berpikir saya. saya tidak/belum tahu apakah ini
benar, mungkin kangmas2 lain yg sudah lebih matang dan dewasa
dalam berpikir dan bertindak bisa membantu saya dalam hal
ini....

terakhir dari saya, untuk kunto dan kawan2 yg kecewa yg lain.
"janganlah selalu menuntut pihak lain untuk memahami keinginan
kalian, tapi tuntutlah diri kalian untuk beradaptasi dan
mengatasi hambatan yg ada tanpa menghilangkan kepribadian
kalian"

kun, tetaplah menulis pemikiran2 mu itu!

salam,
Sapi 03

Re: SMA deBritto : Idealisme Tanpa Spiritualitas. Benarkah ?

Catatan carik: Tanggapan ini ditulis oleh Hardray pada milis debritto.net

Sepintas baca, saya tidak terpikat untuk masuk lebih dalam lagi ke
dalam dunia pikiran yang bagi saya tidak jelas.
Orang boleh-boleh saja membuat definisi sendiri untuk istilah atau
kata yang ingin dijelaskan olehnya (author's licence).
Tetapi definisi buatan sendiri itu harus difahami oleh orang lain, dan
tidak dibuat mengikuti kesewenangan penulis, karena kalau istilah itu
tidak bisa diikuti, maksud penulis akan hilang dan usahanya sia-sia.

Spiritualitas adalah salah satu macam idealisme. Dengan ungkapan ini
maksud saya ialah: Hidup kerohanian atau hidup yang mementingkan
keperluan kebutuhan kerohanian sesungguhnya adalah bagian penting
hidup manusia untuk mencapai cita-cita hidup. Cita-cita hidup ini
diungkapkan dengan istilah idealisme.

Tentu saja ada idealisme tanpa spiritualitas (misalnya hidup ialah
untuk memenuhi "The Great American Dream", dan di dalam idealisme itu
memang tampaknya tidak ada spirtuality).
Tetapi sebaliknya, spiritualitas adalah pernyataan suatu idealisme.
Idaman atau ideal saya, misalnya, ialah membuat Tuhan Allah dikenal
dan dicintai orang ...
Banyak penulis dan/atau penutur Indonesia, menurut pengamatan saya,
masih kurang JELAS dalam menentukan "termini" atau "terms", yaitu
istilah yang dipakai yang seharusnya diberi batasan pengertian lebih
dahulu sebelum kita menjelaskan maksud kita.

RH