yogyakarta, 24 nopember 2005
kepada ibu pertiwi,
ibu,
hari-hari telah banyak memberiku kesadaran
tentang tubuh kita yang telah rapuh-remuk,
separuh membusuk
aku paham,
jika karena kenyataan itu ibu menangis
karena kita memang perlu menangis
peduli setan dengan segala kegagahan yang sombong!
sesekali kita perlu bersembunyi,
di atas lubang jamban di kamar mandi
atau saat membenamkan wajah,
ke bantal, ke guling, ke kasur
untuk menangis dengan sepenuh hati
kita biarkan segenap pedih mengalir,
sampai pada permukaan kulit
menggetarkan bebuluan lembut
hingga ke ujung rambut
kita rasakan dan hayati,
getar kepedihan yang tak mampu membunuh kita
kita jadikan pegangan bagi hati
kita jadikan alasan bagi kesadaran
kita percayakan pada regenerasi sel di tubuh kita,
memperbaiki segala rapuh-remuk-busuk yang telah terjadi
dengan tarikan napas panjang perlahan,
kita bangkitkan kembali semangat
kita perintahkan,
kepada semua yang ada dalam diri:
kepada akal,
kepada budi,
kepada hati,
dan kepada nurani,
bersama ucapkan janji:
kita tak akan terhenti
hanya karena segala kepedihan ini!
ibu,
aku sayang padamu,
/jbs



