Minggu Pon 15 Oktober 2017

Pametri Budaya Nusantara alumni deBritto di JaBoDeTaBek mengadakan Jamasan Tosan Aji di bulan Suro 1951. Yang bertempat di kediaman Mas Kresno Aji JB82 di daerah Lenteng Agung Jakarta Selatan.

Dan juga sekaligus silaturahmi antar alumni JB PBN yg ada di jabodetabek agar dalam mewujudkan tujuan melestarikan peninggalan budaya Nusantara, dapat diawali meski dalam skala yg kecil.

Acara nguri uri kabudayan jamasan bersama ini sendiri bertujuan

Seperti quote website sabdolangit :
Jamasan berarti memandikan, mensucikan, membersihkan, merawat dan memelihara. Sebagai suatu wujud rasa berterimakasih dan menghargai peninggalan atas karya adiluhung para generasi pendahulunya kepada para generasi berikutnya. Tujuannya adalah orang yang memiliki pusaka tetap mempunyai jalinan rahsa, ikatan batin, terhadap sejarah dan makna yang ada di balik benda pusaka. Si pemilik benda pusaka dapat mengingat para pendahulunya yang telah berhasil menciptakan suatu karya seni dan budaya yang mempunyai seabrek nilai luhur. Sehingga jamasan pusaka tidak sekedar membersihkan dan merawat fisik benda pusaka saja, tetapi lebih penting adalah memahami segenap nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam benda pusaka. Nilai luhur tidak sekedar diingat-ingat saja, lebih utama perlu dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut menjadi aset kekayaan khasanah budaya yang meliputi filsafat dan seni hasil pemberdayaan budipekerti manusia, dalam interaksinya dengan kebijaksanaan tata kosmos. Melihat benda pusaka bukan sekedar dari aspek estetikanya saja namun lebih dalam lagi dilihat nilai esoterisnya berupa hikmah kebijaksanaan hidup manusia dalam hubungannya antara manusia dengan alam beserta segala isinya yang disimbolkan dalam pernik dan detail benda pusaka. Oleh sebab itulah dalam benda pusaka juga menyimpan rangkaian simbol berisi nilai-nilai kearifan lokal. Kearifan sosial yang diinspirasi oleh sifat-sifat dan hukum alam yang ada di lingkungan masyarakat setempat. Semakin ampuh daya kekuatan suatu benda pusaka, berarti pula benda pusaka itu memuat nilai-nilai yang sanga selaras dengan sifat-sifat dan hukum alam tata kosmos. Atau nilai yang manunggal dengan tata kosmos. Panunggalan atau keselarasan ini tidak hanya terjadi pada benda pusaka saja, pada manusia pun panunggalan atau keselarasan tata kosmos ini terjadi, yakni antara diri pribadi (mikrokosmos) dengan tata kosmos jagad raya (makrokosmos). Atau panunggalan antara individu dengan Tuhan yang mewujud dalam segala sifat dan hukum yang ada di jagad raya. Disebut pula “manunggaling kawula kalawan Gusti“. Tidak hanya benda pusaka, seseorang yang mampu manunggal atau selaras dengan tata kosmos, ia akan menjadi manusia ampuh sakti mandraguna.

Di situlah pesan yang terdapat di balik ritual jamasan pusaka. Agar manusia selalu ingat atau eling pada sangkaning dumadi.

Kegiatan lain dari Grup Pametri Budaya Nusantara antara lain, ‘ngisis’ wayang kulit, yakni mengeluarkan wayang kulit dan agar tidak mudah rusak oleh kelembaban di dalam kotak wayang serta di lain pihak sekaligus terselip kegiatan memberikan edukasi mengenai cerita pewayangan dalam ‘ngisis’ tersebut.

Pada acara kemarin ada sekitar 50 tosan aji yg dijamas. Milik dari alumni JB baik yg ikut dalam PBN maupun simpatisan. Semoga ke depannya usaha pelestarian Budaya Nusantara oleh warga Alumni JB dapat dilaksanakan baik secara pribadi maupun bersama sama, sehingga generasi mendatang dapat menikmati, dan meneladani keluhuran budaya Nusantara sebagai bekal dalam melangkah di kehidupan dengan selamat.

 

Rahayu,

Salam AMDG

Hendro Tri Yogie JB73

Pin It on Pinterest

Share This