Budaya

Perjalanan ke Baduy 18 – 20 Juli 2009

Budaya


Hari itu sehari setelah para pengecut meledakkan bom di JW Marriott dan Ritz Carlton. Di pelataran parkir motor Sarinah Thamrin, jarum jam sudah menunjukkan waktu 7:30, saat kami harus berangkat. Masih ada seorang peserta, dari ke 11 orang keseluruhan, yang baru muncul setelah 10 menit kemudian. Para pemandu sebetulnya ingin membatalkan perjalanan kali ini karena kurangnya peserta, namun dengan semangat bahwa acara ini adalah ‘temu darat’ dari kelompok cyber yang sesama mencintai perjalanan petualangan, maka rencana ke Baduy tetap dilanjutkan. Setelah berdoa bersama, dan melakukan ‘toss’, kamipun masuk ke mobil Elf biru, yang harus mengorbankan satu deret tempat duduk paling depan untuk tumpukan ransel dan berbagai peralatan seperti sleeping bags dan makanan.

JELITA BERAMBUT EKOR KUDA

Budaya

Oleh: Yo. Prihardianto

Oye rupa, oke suara. Tak heran jika jagad menyukainya.
Dan seperti layaknya selebriti, perjalanan hidupnya
dipenuhi kabar-kabari, kabar skandal, sas-sus dsb.
Siapakah gerangan dia?

Polisi Tidur..., Potret Jaman Edan

Budaya

Oleh: Prihardianto

Soal Polisi Tidur, semua kita juga tahu. Itu lho, aral yang melintang-lintang di jalanan kelas kambing. Olehnya kita, para pengendara kendaraan, dihardik seolah kita ini pengendara yang tidak tahu diri, ngebut di jalan kampung seenak udel sendiri. Olehnya kita dipaksa untuk melambatkan laju kendaraan. “Nah, begitu! Ini jalan milik publik, banyak orang lalu lalang dan banyak anak-anak bermain”. Begitu kira-kira pesannya.

Megatruh Kambuh - W.S. Rendra

Budaya

Pada tanggal 4 Maret 2008, W.S. Rendra memperoleh anugerah gelar Doktor Honoris Causa dalam Bidang Kebudayaan dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tulisan berikut ini adalah teks pidato yang dibacakan oleh Rendra pada acara penerimaan penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa tersebut.
------------------------------------------------
Megatruh Kambuh
Renungan Seorang Penyair dalam Menanggapi Kalabendu

Main Trumpet Asyik-asyik Aja

Budaya

trumpetOleh: Yo. Prihardianto JB/III A2/76

Meski suaranya apik, merdu dan mendayu, meniup trumpet sepertinya perlu ngotot, perlu ngeden, membuat kita ciut nyali, enggan untuk mencoba, khawatir turun berok. Padahal kalau kita tahu siapa dia dan paham cara meniupnya, bermain slompret ternyata mengasyikkan.

Pelangi dari Perut Bumi

Budaya

Oleh: Prihardianto

Permata, siapa yang tak suka. Kilat maupun warnanya, wow… cantik nian. Seandainya bumi ini transparan tentu kita akan dapat menyaksikan merah, biru, hijau atau kuningnya batu-batu mulia itu di tempat asalnya nun jauh di kedalaman sana. Sayang keadaan tidaklah demikian. Perut bumi yang padat dan gelap telah menyembunyikan pesonanya selama jutaan masa. Oleh karenanya kita menjadi takjub tak terkira ketika batu warna-warni bak pelangi itu muncul ke permukaan. Di bawah cahaya sinar matahari, mereka seakan berlomba memamerkan keindahannya.

Ngesax…, Amboi Rasanya !

Budaya

Ngesax, nyaxophone atau main saxophone, katanya sih mengasyikkan. Itu pancen ho’o! Lha wong baru dengar suaranya saja kita sudah senang, apalagi kalau bisa memainkan…, wow! Dan bagi yang keranjingan, seminggu tidak ngesax, rasanya setengah mati, persis orang ketagihan extasi.

AWAL CERITA

Penginnya sih sejak kelas 6 SD, tapi baru terwujud setelah 20 tahun kemudian. Gile!... Senengnya pol. Degdegan hati ini ketika pertama kali melihatnya. Saxophone itu melingkar di dalam kopor persis seperti ular Anaconda. Tak jemu mata ini memandang. Makin dipandang dia makin mempesona. Pucuknya melengkung, kemudian melurus dan lalu melengkung lagi. Bonggolnya melebar seperti bunga sedang mekar. Batangnya dipenuhi pilar serta lubang. Ada semacam sulur yang menjulur julur. Dirongganya ada bekas sarang laba-laba, pertanda benda itu lama tak diurus. Kacian…. Saxophone Tenor second hand itu ternyata masih berfungsi dan masih bisa bernyanyi.

Kisah Seruling yang Digemari Wanita

Budaya

Suaranya jernih menghanyutkan. Membawa kita ke suasana dan tempat yang damai dan tenang. Hmmm…uenak tenaaan. Seruling, suling atau flute memang selalu enak. Enak didengar, enak dimainkan. Apa yang membuatnya jadi begitu istimewa?

Suara tiupan seruling bak buluh perindu. Mengalun merdu ketika mengiringi Sundari Sukoco menyanyi lagu keroncong. Sundari memang oke, tapi musik keroncong tanpa suara flute…, no way, bagai rendang tanpa rasa cabe. Bukan hanya keroncong. Ia juga eksis dalam musik klasik, pop maupun jazz. Berkat alunan suaranya, musik-musik itu melahirkan nuansa romantis, lembut, hangat, berbunga-bunga. Indah.

"Mitoni", Satu Peristiwa Seribu Makna

Budaya

Mitoni berbeda dengan ngidoni. Yang satu peristiwa gembira menyambut akan lahirnya seorang anak manusia, yang lain peludahan serta penghinaan terhadap sesama manusia.

Upacara MITONI atau selamatan yang menandai tujuh bulan usia kehamilan itu begitu indah menarik dan mengandung seribu makna. Peristiwanya selalu berbunga-bunga sekaligus mendebarkan, karena tidak lama lagi, sepasang temanten akan segera menjadi nyokap dan bokap, sepasang papa mama akan segera menjadi kakek nenek. Mbah kakung putri akan segera menjadi eyang buyut dan seterusnya.

Feed XML