Budaya

“Grenadilla, Si Hitam Bersuara Merdu”

Budaya

Di balik suara merdu klarinet dan oboe ternyata tersimpan hampir seabad jeritan pohon grenadilla yang terpanggang di teriknya benua Afrika. Pohon yang dikenal dengan nama kayu hitam afrika itu kini terancam punah.

Enak betul, malam Minggu nonton acara orkestra, di TV, gratis. Serombongan pemusik terlihat ramai-ramai memainkan beragam peralatan musik. Ada yang ditiup, dipukul, dipetik atau digesek. Mereka semua serius menyimak partitur sambil sesekali matanya melirik sang konduktor yang bersemangat memberi aba-aba. Kedua tangan konduktor mengepak-ngepak seakan ingin terbang bersama nada yang berhamburan keluar dari instrumen musik yang dimainkan anggotanya.

Kisah tentang Hak Cipta dan Dilemanya

Budaya

Tulisan ini bukan mengada-ada, melainkan bercerita tentang persoalan yang diselesaikan secara mengambang. Mengapa dikatakan begitu? Sebabnya adalah keterlanjuran dalam cara pandang nilai-nilai dan etika pada suatu komunitas masyarakat tertentu. Wah, serius? Bagaimana sih ceritanya? Baiklah, cerita akan segera dimulai.
 

Awal mulanya

Pada tahun 1990, ada sekelompok manusia muda berkumpul dan menggagas bersama. Yang digagas adalah upaya mengolah kekayaan ragam budaya yang terdapat di negeri ini - terutama ragam motif/corak kedaerahan - untuk diangkat menjadi tema suatu produk yang dapat dipergunakan sehari-hari. Lalu, media apakah yang dipilih? Disepakati bersama bahwa media yang dipilih adalah t-shirt, atau kaos oblong dalam bahasa kita.

YUK, MAIN SAXOPHONE!

Budaya

Baritone Sax

Oleh: Y. Prihardianto

Prihardianto adalah alumnus JB 76/77, putra dari almarhum Bapak Suharno, guru Bahasa Indonesia.

Melihat sosoknya, sepertinya susah untuk dimainkan. Berat dan rumit, serta butuh napas yang panjang. Tapi kesan pertama sering menipu. Main saxophone ternyata mudah dan bisa dilakukan sambil cengar-cengir.

Meski termasuk keluarga alat musik tiup kayu, tapi tidak pernah dijumpai saxophone yang terbuat dari kayu. Saxophone dibuat dari kuningan mengingat sifatnya yang mudah dibentuk. Ada banyak macam saxophone, ada yang lurus seperti yang ditiup Kenny G., ada pula yang melengkung kayak yang dimainkan Dave Koz atau almarhum Embong Rahardjo.

Selamat Paskah

Budaya

Lurs,

Christ

Malam Paskah 2006 yang lalu di kapel paroki kami yang kapasitas hariannya hanya 400 orang, dijejali oleh l.k 1200 umat. Tentu saja tidak semua disesak-sesakkan di dalam kapel, tapi sebagian besar kami tempatkan di bawah tenda luar. Sejak sore hujan rintik2, lalu mulai jam 5-an hujan deras sekali, dan menjelang misa jam 7 hujan reda hingga berhenti sama sekali. Ingatan saya mencatat bahwa perayaan2 Natal, Kamis Putih, Malam Paskah, pernah hujan dan pernah tidak. Tapi setiap upacara Jumat Agung belum pernah hujan, hanya mendung dan pernah hujan setelah upacara selesai. Mungkin saja cuma koinsiden, kebetulan.

Keadaban Publik

Budaya

Catatan carik: Artikel aslinya berformat presentasi power point yang disajikan pada acara Forum Rektor Indonesia, Surabaya, 18 Mei 2005.

Keadaban Publik: Gerakan Menciptakan Habitus Baru
Oleh B. Herry-Priyono (Program Pasca-Sarjana, Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta).

Keadaban Publik: Bukan sekedar sikap santun dalam kehidupan publik, melainkan gugus kebiasaan (social habits) cara berpikir, cara merasa, dan cara bertindak (habitus) yang berisi:

  • sikap konsideran terhadap orang lain.
  • kapasitas melaksanakan ciri konsekuensial hidup bermasyarakat: bahwa tindakan kita mempunyai dampak (baik/buruk) pada kondisi hidup orang lain.
  • gerakan untuk membuat kehidupan bersama menjadi tata 'komunitas' (community), dan bukan sekedar 'kerumunan' (crowd).

Konteks Urgensi

Feed XML