Cerpen

Aku, Langit, dan Asu

Cerpen

Aku ingat, suatu ketika duduk di teras rumah. Di luar air mengguyur deras. Aku pepetkan tubuhku menjauh dari angin yang membawa tampu rintik. Walau sebenarnya relungku tak begitu suram, namun langit benar terlihat muram. Belum sekalipun, semenjak aku lahir, langit bersedia menghentikan hujan.

Pernah aku minta pada Tuhan,“beri aku terik, walau hanya sebentar.” Tapi sampai saat ini toh belum terkabulkan. Hatiku kadang miris melihat tetangga di komplek sebelah, dimana mereka memiliki langit, juga Tuhan yang lebih baik. Di sana langit memberi waktu pada angin, juga pada musim tuk menyapu hari. Sedikit memberi kesempatan pada cuaca demi menghidupi cirinya sendiri.

Men's Lib, Women's Lib

Cerpen

Pria memandangi Dara yang baru keluar dari kamar mandi. “Cepatlah mandi, nanti terlambat!” kata Dara. Handuk terlilit menutupi dada hingga lutut. Kepala dimiringkan, kedua tangan mengibas rambut basah dengan sehelai handuk kecil. “Air panas macet, seharusnya kita tukar kamar yang lain kemarin.”

Pria meraih handuk lain dan masuk ke kamar mandi. Tercenung sebentar menatap wajah di cermin. “Belum nampak tua,” pikirnya. Sejenak ia teringat orang-orang sebaya yang mulai terlihat kerut-kerut matanya. Air dingin mengucur deras. Ia tengadah. Air mengucuri seluruh wajah. Jauh lebih segar sekarang.

GILA

Cerpen

Sejak lama aku ingin jadi gila, namun aku tak tahu caranya. Tentu orang tak bisa menjadi gila hanya semata-mata karena ingin menjadi gila. Sebagaimana halnya orang tak bisa menjadi bijak hanya karena ingin menjadi bijak, atau menjadi pintar hanya karena ingin menjadi pintar. Namun orang bisa saja belajar demi menjadi bijak atau pintar, dan sementara aku masih belum tahu bagaimana caranya untuk menjadi gila. Bisa saja orang jadi gila karena mempelajari kesaktian, atau frustrasi mengejar cinta, atau mentok meraih prestasi, namun tak ada cara yang langsung dan pasti supaya jadi gila. Kegilaan bagai anugerah, bagai wahyu --hanya diturunkan kepada orang-orang tertentu saja.

Kaya Vs. Miskin

Cerpen

Marbun mengira hidupnya susah semata-mata karena tak punya uang, “Hidup orang miskin harus banyak peras keringat, sering-sering bingung cari hutangan, yang mau dihutangi belum tentu punya uang, yang punya uang belum tentu mau memberi hutang. Kalau belum mengembalikan, mau bertemu pun terasa malu, terpaksa kucing-kucingan. Mau bersedekah tidak bisa. Bayangkan kalau kita kaya, pilihan kita lebih banyak: mau hura-hura, beramal, bercita-cita memajukan masyarakat, itu hal gampang!”

Air Kata-kata

Cerpen

Malam itu jalanan Malioboro terasa lengang. Belum lama berselang terjadi perkelahian yang menewaskan salah seorang yang terlibat. Ambulans telah pergi membawa korban yang tewas tertikam sementara penikamnya terbang pergi entah kemana. Kerumunan telah usai. Orang-orang yang biasa nongkrong begadangan kehilangan selera mengencani malam. Beberapa di antara mereka diminta ikut ke kantor polisi untuk memberi keterangan sebagai saksi. Pun malam sudah terlalu larut untuk orang nikmati jajan lesehan. Tinggal sunyi yang tersisa.

Seorang Panchali Bersuami Lima Pandawa

Cerpen

Di Panchala sebuah sayembara diadakan,
dan di TV berteriak iklan-iklan:

DATANGLAH. DRUPADI DEWI MENANTI DIPERISTRI.

Tak ketinggalan,
berbunyi handphone para ksatria
- dah liat iklan? gmn? lu ikutan? :p

Maka riuhlah arena.
Tiga DJ ibukota ligat merumat irama.
Drum n bass, tribal, ambient atau apalah.
Sebut saja. Mereka akan memainkannya.

Suicide King and The Drama Queen

Cerpen

There are two under the infinite sky. And on a high, the light is grey. Empty, without any other hue among the entity. There are two and may be two alone. Stand in the garden of stone, with shadows lay beneath the endless mist.

Silence, ruler of all troubles, head of all languages, speaks out loud that the two won’t move even in an inch.

Feed XML