Pendidikan

pelajaran anti KKN

Pendidikan

Sekedar menyambung usulan dari teman-teman 93 di milist.

Awalnya di milist ada yang tanya lirik mars de britto, lalu ada yang memberi link di web yang isinya mars de britto http://www.debritto-yog.sch.id/content.php?id=3>. Lalu teman-teman lain mulai urun rembug

...
Murni sejati jiwaku,
jujur semangat hatiku
...

Suatu yang dulu mudah kita nyanyikan tapi sulit kita lakukan sekarang agar kita tetap survive. Kami dari 93 memberi usulan apa kita bisa saling sharing bagaimana cara tetap murni&jujur, menyikapi KKN, dll. Siapa tahu kita bisa saling mengisi dan memberi sedikit bekal bagi adik-adik yang masih di de britto.

PIDATO KEPSEK

Pendidikan

(FX Purwoko Sumowijoyo)

Menyambut UN yang sebentar lagi datang, Pak Kepsek berpidato di depan siswa-siswa kelas IX (3 SMP). Dengan suara berwibawa, dinasehatinya anak-anak (begitulah ia memanggil murid-muridnya): “Anak-anak, sebentar lagi kalian menghadapi UN. Seperti telah Bapak sampaikan berkali-kali, kali ini pun Bapak mengingatkan kalian untuk tetap menjadi pemberani. Beranilah menjadi diri sendiri! Belajarlah untuk diri sendiri! Kerjakan semua soal sendiri! Andalkan kemampuan kalian sendiri!”

Crito mlarat kesrakat jaman dulu, kenangan indah masa kini.

Pendidikan

Jaman dulu semua orang itu susah, dan alhamdulilah kita berhasil melewatinya. Namun, mas-kangmas, mas-dimas, ternyata jaman susah kita dulu, ini juga dialami adik-adik kita yang sekolah di JB saat ini.

Kalau dulu mungkin situasinya lebih "mudah", karena hampir semua mengalami mlarat bersama, namun kalau sekarang?

Bagi para calon alumni de briito: Kuliah adalah pilihan terbaik

Pendidikan

Teman-teman di Debritto yang pernah saya kenal, setelah mereka lulus dari sekolah kita yang tercinta ini. Memang kebanyakan dari mereka melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang Universitas, namun ada sebagian dari mereka yang memilih untuk langsung berkarya dengan berbagai alasan. namun alasan yang paling kita prihatinkan adalah keterbatasan biaya.

Apapun alasan itu, sebenarnya pilihan yang terbaik adalah tetap melanjutkan pendidikan kita ke jenjang universitas. Jangan pernah kita kawatir tentang bagaimana orang tua kita akan membiayai Investasi pendidkan kita di Universitas. DI DALAM NIAT BAIK SELALU ADA JALAN!

SMA de Britto : Idealisme Tanpa Spiritualitas. Benarkah ?

Pendidikan

Ignem veni mittere in terram et quid volo nisi ut accendatur

Untuk seluruh rekan yang pernah menikmati deBritto. Entah siswa, alumni siswa, entah pendidik atau alumni pendidik, karyawanpun juga tak apa. Singkatnya siapa saja yang bisa membaca tulisan saya, baik yang aktif maupun tidak. Ijinkan saya menuang sedikit kegundahan dalam larik kalimat, bukan untuk mencari siapa yang salah, bukan untuk mendiskreditkan. Mungkin sekedar oase refleksi di dataran yang serasa kian gersang.

Himne ‘Requiem’ Guru

Pendidikan

Guru tidak lagi bangga dengan profesinya. Itulah realita yang layak dicatat di balik fenomena alih profesi guru di Sulawesi Tenggara (Sultra) beberapa waktu lalu. Sejak pemerintah memberlakukan otonomi daerah, berbondong-bondong guru meninggalkan ruang-ruang kelas dan bersaing masuk ke instansi pemerintah non-kependidikan.

Alhasil, beberapa sekolah di Sultra terancam kehabisan guru. Padahal dalam data tahun 2002 tercatat bahwa di Kabupaten Buton saja, kekurangan guru untuk berbagai tingkat pendidikan mencapai 1.600 orang lebih (Jurnal Celebes online, 4 Mei 2004). Lalu, bagaimana kondisinya setelah otonomi daerah diberlakukan? Meski bukan didasarkan pada hasil penelitian yang mendalam, Asyar dalam Waspada online (10 Februari 2004) dengan tegas mensinyalir bahwa tahun 2020 Indonesia akan kehabisan guru.

Menunggu Kematian Guru

Pendidikan

Catatan Carik: Masih seputar diskusi dengan topik pendidikan, tidak ada salahnya kita tampilkan tulisan lama (2002) dari salah seorang guru Kandang Manuk (penulis adalah guru dan staf Litbang SMU Kolese de Britto Yogyakarta). Tulisan ini pernah dimuat di SUARA PEMBARUAN DAILY, bulan Desember tahun 2002. Sekaligus bisa kita amati bersama, apakah sudah ada perubahan (baca: perbaikan) sejak tahun 2002 hingga saat ini.

Bias Edukasi

Pendidikan

Menarik sekali apa yang disampaikan mas RH, Pak Kadi, dan BP dalam diskusi pada Pendidikan, untuk apa?.

Menurut saya pada dasarnya pendidikan adalah upaya intervensi duplikasi sebuah pemahaman, keterampilan, dan cara berpikir tertentu. Karena intervensi, maka pasti ada bias dari pihak yang mengintervensi. Bias muncul karena duplikator punya latar pikir dan sikap tertentu dalam memandang dunia. Kolese Jesuit tidak mungkin lepas dari nilai-nilai prinsip dan dasar Ignatius Loyola, seperti halnya Taruna Nusantara tidak mungkin lepas dari konteks nilai tertentu. Ignatius Loyola yang berprinsip mentalitas lebih (magis) pada satu sisi akan menghasilkan sikap excellence yang berdampak pada penguasaan kompetensi yang tinggi, elitism, dan superioritas. Sikap itulah yang membuat Fransiscus Xaverius menjadi pribadi yang sangat kuat, ndableg, dan punya endurance yang tinggi. Jangan salah, sikap seperti inilah yang sangat penting buat proyek misi abad-abad itu.

Pendidikan, untuk apa?

Pendidikan

Tidak jarang terjadi bahwa kita kehilangan arah dan/atau tujuan dalam banyak upaya kita. Dalam bertukar pikiran, pengalaman mengenai prestasi, dan kemenonjolan sistem atau praktek pendidikan tertentu, kita sering lupa bertanya: Apakah tujuan pendidikan? Apakah arti "pendidikan" yang paling baik?

Banyak orang, antara lain para pemimpin negara Indonesia, dan dari banyak anggota masyarakat kita (orang tua elite yang menginginkan sukses bagi anak-anaknya) yang tidak sepenuhnya menyadari bahwa mereka cuma menginginkan pendidikan tinggi dan prestasi akademis yang membuat semua orang lain kagum.

Feed XML