Bullying, belakangan ini sering terjadi di kalangan remaja bahkan orang dewasa. Dengan banyak cara orang bisa melakukan penindasan atau bullying, baik itu dengan mengintimidasi atau menghina yang dilakukan secara langsung maupun lewat media sosial. Orangtua pun cemas menghadapi anak yang kebetulan mendapat perlakuan seperti itu. Pada beberapa orang, bisa mengalami trauma yang berkepanjangan dan mempengaruhi kehidupan selanjutnya.

 

Begitu juga yang pernah dialami Dion Nataraja dan Adrian Paanday. Mereka harus menghadapi masa-masa sulit dalam kehidupan sosial ataupun secara emosional. Dion menggambarkan bahwa bullying itu seperti mata rantai setan yang harus diputus, sementara Adrian menganggapnya sebagai penyakit yang ada di kaum muda. Sampai akhirnya pada titik tertentu, mereka berhasil mengatasinya dengan berekonsiliasi. Mereka pun berempati pada korban bullying dan mengekspresikannya lewat pameran seni berjudul “Alicia is Non-Existent: Thus She Creates Herself”. Karya seni lukis dan fotografi digelar di LIP Yogyakarta pada 20-26 Agustus 2016. Mereka mendapat dukungan dari teman-teman yang membantu menyiapkan pameran sejak masa produksi.

 

Dion NatarajaPameran ini dibagi menjadi beberapa sesi, salah satunya adalah Sonnet of Despair yang menggambarkan fase trauma Alicia. Pengaruh musik klasik tampak kuat dalam karya lukis Dion di sesi ini. Selain mencari sendiri, ia mendapat referensi musik klasik dari ayahnya. Ia meyakini bahwa karya seni yang baik adalah sebuah karya seni yang jujur. Itulah alasannya memilih tema ini, bukan sekedar hal yang dimengerti saja tapi juga pengalaman yang dialaminya sendiri. Dalam membuat karya, ia memilih menggunakan cat air, pastel, marker, chinese ink dan acrylic.

 

Dion, saat ini tidak meneruskan ke kelas 3 (kelas XII) di de Britto, namun ia akan meneruskan ke United World College Maastricht, Netherlands, karena program beasiswa yang didapatnya.

 

Adrian PaandayAdrian, alumni tahun 2016 ini membuat karya fotonya dengan menggabungkan teknik foto digital dan analog. Saat ini, ia melanjutkan studi di Fak. ISIPOL UGM, Dept. Manajemen Kebijakan Publik. Ia mendalami fotografi saat sekolah di de Britto dan mulai menemukan arti berkesenian bagi dirinya.

 

Menurutnya, pendidikan karakter yang didapat di de Brittolah yang mempengaruhi pola pikir serta memacunya berinisiatif untuk menghasilkan karya.

 

Walaupun menurut Dion dan Adrian pameran ini masih dalam lingkup yang terbatas, namun mereka berharap dapat ikut berkontribusi untuk masyarakat terkait masalah bullying. Inilah salah satu wujud peran nyata dari ‘duo de Britto’, Dion dan Adrian. [andre stp]