Tiga tahun lebih tiga hari setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, berdirilah SMA Kolese de Britto. 18 Agustus 1948. Angkatan-angkatan pertama sekolah ini hidup dalam suasana batin yang campur aduk : kegembiraan kaum muda Jogja atas kemerdekaan Republik Indonesia, rasa metropolitan Jogja sebagai ibukota negara, sekaligus kecemasan di bawah bayang-bayang agresi militer Belanda. Spirit mempertahankan kemerdekaan tersebut masih dirawat oleh De Britto, dari generasi ke generasi – dengan bahasa yang lain – yaitu semangat kebebasan.

Meskipun SMA Kolese De Britto sejak awal merupakan sekolah partikelir katolik Roma, namun urusan latar belakang identitas siswa tidak pernah menjadi bahan pergunjingan. Baik orang Jawa, sunda, madura, dayak, indo belanda, keturunan tionghoa, papua, ambon, kei, minang, batak, atau bahkan bule sekalipun, bisa belajar dalam satu kelas yang sama. Latar agama pun tidak menjadi bahan pergunjingan. Islam, Protestan Lutheran, Methodist, Saksi Yehovah, Katolik, Orthodoks, Hindu India, Hindu Bali, Buddha Jawa, Buddha India, Konghucu, Kejawen, atau bahkan agnostik sekalipun, bisa menerima pengajaran yang sama.

Iklim belajar di De Britto cukup ideal bagi orang muda untuk memahami keindonesiaan. Spirit pilar kebangsaan dengan Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhineka Tunggal Ika, sudah menjadi nafas sehari-hari bagi para murid. Narasi mayoritas-minoritas tidak terjadi selama proses sekolah, karena narasi macam itu tidak laku dalam kamus De Britto.

Nilai keberagaman tidak lagi ada di ranah retorika atau sekadar kekaguman, tetapi sudah mengejawantah dalam keseharian di kelas.
Ada satu kekhasan di sekolah yang membuat nilai keberagaman menjadi awet, yaitu ketika keberagaman itu dilandasi oleh rasa perasaan yang sama. Apapun identitasnya, kalo sekumpulan orang mempunyai perasaan yang sama, maka perbedaan identitas tidak menjadi persoalan.

Persamaan rasa itu dipupuk sejak bulan pertama seorang menjadi siswa De Britto. Bantingan untuk solidaritas duka, tutorial antar siswa, hingga obrolan di warung burjo menjadi sarana menyamakan perasaan antar siswa. Inilah yang disebut sebagai COMPASSION.

Persoalannya, negeri ini tidak hanya seluas SMA Kolese De Britto. Para siswa yang masih bersekolah ibarat sedang ada di taman bunga, begitu mereka lulus mereka masuk dalam hutan belantara. Kita – alumni dan masyarakat luas – ada di belantara itu. Di luar tembok De Britto, keberagaman menjadi suatu dambaan, rasa solidaritas menjadi barang mahal, ungkapan tolong-maaf-terima kasih menjadi suatu barang langka, identitas agama menjadi komoditas politik yang biasa.

Seorang katolik bertemu dengan tokoh Islam puritan seolah menjadi suatu kehebohan. Pelajar Muslim bertandang ke gereja menjadi suatu keanehan. Padahal yang semestinya adalah macam itu menjadi hal yang biasa saja dan wajar untuk kita hidupi sebagai manusia Indonesia.

Seminar HARMONI DALAM KEBERAGAMAN memberikan beberapa tawaran kepada kita :

Pertama, kita sebagai manusia Indonesia yang tidak terlepas dari keberagaman identitas personal, mesti membangun rasa perasaan yang sama untuk bisa bergerak memajukan bangsa. Ketika kita ada dalam konteks berbangsa dan bernegara, maka semua harus mengesampingkan identitas pribadi (keyakinan / kesukuan) dan memakai identitas bersama yaitu Pancasila.

Kedua, kita perlu mendukung aparat penegak hukum untuk menangani intoleransi. Polisi telah mengedepankan pendekatan persuasif dan merangkul semua pihak (termasuk kelompok-kelompok radikal) dengan harapan suatu saat kelompok tersebut dapat melebur bersama dengan masyarakat. Namun demikian pendekatan macam ini tidak cukup. Perlu ada penegakan hukum ketika muncul tindakan intoleransi. Untuk mendukung penegakan hukum, kita perlu menunjukkan sikap bahwa kita sebagai masyarakat menolak tindakan intoleransi dan mendukung kinerja aparat.

Ketiga, narasi mayoritas-minoritas cukup kuat di benak masyarakat. Narasi ini menjalar menjadi sindrom diantara kita, bahkan di kalangan alumni De Britto pun sindrom ini juga masih ada. Oleh karena itu perlu berbagai upaya untuk memberantas sindrom ini. Salah satunya adalah membiasakan diri saling bertandang antar kelompok identitas. Kerjasama rutin antara komunitas Masjid dan komunitas Gereja di Semarang menjadi contoh baik itu. Pengalaman hidup dalam keberagaman di sekolah De Britto hendaknya diteruskan dalam keseharian sebagai alumni.

Keempat, kebersamaan kita dalam berbangsa dan bernegara perlu disatukan dengan tujuan bersama. Olahraga adalah salah satu sarana baik. Contoh baik ada pada Thomas Cup 1998. Masyarakat Indonesia mendukung mereka yang berlaga, meskipun yang mewakili adalah dari etnis tionghoa, yang secara statistik bagian dari minoritas. Dalam olahraga, sekat-sekat identitas suku dan agama akan luntur. Di waktu-waktu ke depan, kita perlu mencari bentuk-bentuk tujuan bersama sebagai masyarakat.

Kiranya para alumni De Britto dapat menjadi kader keberagamaan dan keindonesiaan di tengah masyarakat.

Proficiat lurs !

 

oleh : Tommy Pudyastanto, JB2009.
(catatan tentang Seminar Harmoni dalam Keberagaman, dalam rangka Lustrum 14 SMA Kolese de Britto)