Menarik sekali apa yang disampaikan mas RH, Pak Kadi, dan BP dalam diskusi pada Pendidikan, untuk apa?.
Menurut saya pada dasarnya pendidikan adalah upaya intervensi duplikasi sebuah pemahaman, keterampilan, dan cara berpikir tertentu. Karena intervensi, maka pasti ada bias dari pihak yang mengintervensi. Bias muncul karena duplikator punya latar pikir dan sikap tertentu dalam memandang dunia. Kolese Jesuit tidak mungkin lepas dari nilai-nilai prinsip dan dasar Ignatius Loyola, seperti halnya Taruna Nusantara tidak mungkin lepas dari konteks nilai tertentu. Ignatius Loyola yang berprinsip mentalitas lebih (magis) pada satu sisi akan menghasilkan sikap excellence yang berdampak pada penguasaan kompetensi yang tinggi, elitism, dan superioritas. Sikap itulah yang membuat Fransiscus Xaverius menjadi pribadi yang sangat kuat, ndableg, dan punya endurance yang tinggi. Jangan salah, sikap seperti inilah yang sangat penting buat proyek misi abad-abad itu.



