Paguyuban Alumni SMA De Britto

Sejarah

Lurs, kata Bung Karno ‘jas merah’ jangan lupa sejarah.
Cerita berikut boleh menjadi acuan kita dan kandidat Ketua/Presiden Alumni De Britto yang akan datang.

Ketua umum paguyuban yang pertama adalah FX Bhima Setyabudi sejak berdirinya Ikatan Alumni SMA Kolese de Britto tahun 1991. Ialah yang merintis dengan susah payah Paguyuban yang sekarang kita punyai. Dia ‘berjuang’ dari nol! Tentang komitmennya tidak ada yang bisa menandingi, dia berani meninggalkan pekerjaan formalnya hanya untuk memimpin Alumni de Britto!

foto_sejarah_paguyuban_01Bersama pengurusnya, ia mencoba untuk mengkaryakan paguyuban di lingkungan profesional/bisnis. Gagal sih, tapi ‘buahnya’ hingga sekarang dia adalah wiraswasta yang gigih. Dengan segala kekurangannya, kita yang cuma ‘nemu kuwuk’ ini harus berterima kasih kepadanya.

Kerana dia lah kita sekarang punya paguyuban.
Posisi Bhima diteruskan oleh sang senior yaitu Antonius Slamet Rahardjo, kaderisasi yang terbalik. Pak Slamet sempat menjalani dua periode masa kepemimpinan. Oleh beliau Paguyuban dibuat demikian guyub dan diajari mewujudkan semangat ‘man for others’ diantara teman-teman. Pertemanan antar-pribadi yang saling menghormati di-encourage olehnya. Di jaman yang belum dimanja dengan alat komunikasi itu, Pak Slamet berhasil menghimpun cukup banyak alumni sekitar Jabotabek. Pertemuan-pertemuan juga rutin tiap tahun ada, kerja sama dengan pihak sekolah menjadi baik, tidak melupakan guru-guru yang pernah mendidik kita. Semua menikmati pertemanan.

Setelah merasa cukup memimpin paguyuban, Pak Slamet mempersilahkan kadernya untuk melanjutkan. Mas FX Yuwono Prawirosetoto (FXY) memang sudah antri di belakangnya. Sejak beliau menjadi salah satu Ketua di jaman Pak Slamet, mas FXY sudah memfasilitasi Iluni de Britto (sebutan paguyuban waktu dulu) dengan tempat berkumpul yaitu BPLK/BPPK. Pada waktu beliau memerintah, perkumpulan di situ menjadi intensif sekali. Tidak hanya acara-acara tahunan dan rapat-rapat panitia, bahkan rapat dengan Direksi Kolese de Britto ketika membicarakan rencana induk pendidikan di Kolese de Britto difasilitasi dengan baik! Sampai kini pun kita masih mungkin menikmati fasilitas itu.

foto_sejarah_paguyuban_02Lalu Antonius (Antonius Bardhono, penulis tulisan ini) yang lain naik tahta. Orang ini mengadopsi teknologi komunikasi untuk mengembangkan komunitas dan jaringan paguyuban. Sebenarnya sejak masih menjadi salah satu ketua di jaman Pak Slamet, dia sudah memasukkan teknologi internet untuk menjadi alat jaringan.

Milis/komunitas DeBrittoNet menjadi organ resmi paguyuban. Maka tak pelak jaringan komunitas menjadi melebar kemana-mana melampaui batas wilayah Jabotabek. Dengan jumawa dia sering menyebut paguyuban yang dipimpinnya bertaraf internasional. (Sebenarnya sejak tahun 1998, di Jogja dibentuk Ikatan Alumni bertaraf nasional yang diketuai oleh mas Joni Sunu Parmantya)

Pada masa pemerintahannya, organisasi dirombak. Sebelumnya, tulang punggung organisasi adalah Ketua Umum dan ketua-ketuanya. Pada jamannya organisasi ditulangpunggungi oleh duet Ketua dan Sekjen. Lalu paguyuban diformalkan dengan akta notaris, yang tidak dibatasi oleh wilayah Jabotabek lagi tapi nasional.

Lalu pendirian chapter-chapter dimulai. Dari Surabaya lalu berlanjut kemana-mana. Dibentuk pula Komite Beasiswa yang masa baktinya adalah lima tahun.

Selesai satu periode, Antonius ‘yang lain’ itu merasa cukup menjadi orang nomer satu. Dia lalu memberi jalan lebar kepada seorang muslim untuk memimpin Paguyuban Alumni SMA Kolese De Britto Yogyakarta, Datuk Sweida Zulalhamsyah. Orang yang kemudian menjadi haji ini menjadi kebanggaan banyak anggota, karena peristiwa ini menjadi gambaran yang terang-benderang bahwa di komunitas De Britto tidak membedakan latar belakang.

Wak Haji ini menjadi salah satu deklarator, pendiri Asosiasi Alumni Yesuit Indonesia (AAYI), anggota dari World Union of Jesuit Alumni(ae) (WUJA). Maka Paguyuban kita ini lalu menjadi bertaraf internatsional yang sebenarnya. Selain bertaraf nasional yang sebenarnya, karena kemudian secara terbuka diterima menjadi Ketua/Presiden Alumni Nasional. Jadi pada masa kepresidenannya, Paguyuban menampakkan sinarnya keluar batas komunitas alumni de Britto.

Nah, teman-teman. Kita mengharapkan apa lagi yang harus diperbuat oleh Ketua yang akan datang, setelah tonggak-tonggak emas ditancapkan oleh para pemimpin yang telah lalu itu. Sampaikan permohonan Anda, agar Menjadi bekal Ketua/Presiden yang akan datang.

A. Bardhono/71

Pin It on Pinterest

Share This