Richard Yapsunto, bekerja sebagai lawyer atau konsultan hukum. Ia bercerita pada siswa tentang pekerjaannya sebagai konsultan hukum seperti drafting, menyusun struktur perusahaan atau menyiapkan sebuah perusahaan untuk berdiri, memberi masukan agar perusahaan bisa lebih efisien dan sebagainya.

Setelah lulus de Britto tahun 1992, ia melanjutkan di jurusan Hukum UGM dan mendapatkan Master of Laws di Univ. of Technology Sidney. Ini adalah tahun ke enam belas Richard berkarir di dunia hukum. Bersama rekannya ia mendirikan law firm dengan nama “AYMP” yang membantu perusahaan/ klien dalam dunia bisnis.

Menurutnya, mahasiswa Fakultas Hukum sekalipun masih banyak yang berpikir bahwa pengacara atau lawyer adalah orang yang berada atau bekerja di kantor pengadilan, padahal banyak pekerjaan lain sebagai pengacara. Berbagai pertanyaan kritis siswa berusaha ia jelaskan dalam acara pembekalan itu, bahkan sampai ke kode etik pengacara.

Pratama Santoso Utomo, biasa dipanggil Tama. Setelah lulus de Britto tahun 2007, ia melanjutkan melalui jalur non tes ke Fakultas Kedokteran UGM, Pendidikan Profesi Dokter lalu menjalani program magang atau internship di RSAD Lombok dan saat ini bekerja di Dep. Pend. Fakultas Kedokteran UGM selain juga berpraktek di RSPR. Tama bercita-cita mengabdikan dirinya menjadi seorang dokter sejak SMP.

Siang itu Tama bersama dengan Niko Vanda, alumni 2012 yang baru lulus kedokteran dengan IP 4.0 dan sedang menyelesaikan pendidikan profesi dokternya, bergantian memberikan gambaran tentang dunia kedokteran pada siswa, termasuk juga tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk menjadi seorang dokter.

Tama menjelaskan bahwa sebagai dokter selain bekerja pada hal-hal yang terkait dengan pasien klinis juga bisa bekerja pada bidang lain seperti di lembaga penelitian, pendidikan, NGO, pemerintahan dan sebagainya. Pada adik-adik ia berpesan bahwa untuk dapat melayani pasien dengan baik maka harus dapat membangun komunikasi dengan baik pula.

Selain Tama ada juga Fernando Mario, alumni 2016 yang saat ini masih belajar di kedokteran, ikut berbagi tentang bagaimana saringan untuk masuk di kedokteran dan hal-hal yang harus disiapkan sebagai mahasiswa kedokteran.

Tama berharap dengan adanya Orientasi Profesi ini, siswa yang berminat berprofesi dokter, selain menjadi lebih paham dan lebih siap, juga tidak  ada siswa yang “salah jurusan”.

Lexy Rambadeta, lulus tahun 1991, hari itu mengisi kelas Digital Media Journalism, hal yang selama ini digelutinya. Banyak hal yang menarik baginya, termasuk jurnalisme. Di kelas itu Lexy membagi pengalamannya sebagai seorang jurnalis yang sudah banyak meliput peristiwa penting, tidak hanya di Indonesia.

Ia bercerita bahwa ketertarikkannya belajar di jurusan komunikasi UGM tak lepas dari apa yang diperoleh selama sekolah di de Britto. Pesan “Tidak Takut, Tidak Malu, Tidak Malas” yang diterima, mendorongnya untuk kritis dan berharap dengan kuliah ilmu komunikasi akan memfasilitasi keingintahuannya akan banyak hal. Bahkan sampai sekarang pun dalam menghasilkan produk jurnalistik ia mengutamakan akurasi.

Salah satu pokok yang disampaikannya adalah bagaimana memanfaatkan media digital untuk perubahan demi kepentingan publik. Dalam hal ini, tak lain adalah nilai dari apa yang ditanamkan pada semua siswa de Britto, yaitu “man for others”.

Hal lain yang disampaikan adalah betapa sudah berubahnya dunia media sekarang. Melalui teknologi digital, semua orang saat ini tidak hanya bisa menerima informasi, tetapi juga bisa merespon, menghasilkan informasi sampai membuat media sendiri yang independen seperti “jakartanicus”, kanal miliknya.

Dengan memanfaatkan teknologi, Lexy mengajak adik-adik siswa untuk tidak hanya tetap kritis, namun juga mampu menghasilkan temuan baru baik dari hal teknis, gabungan teknis dan konten ataupun aspek bisnisnya.

Teddy W. Laurentius, alumni 1996, melanjutkan di FE UGM, lalu bekerja di bank selama dua belas tahun. Ia memutuskan untuk resign dari UOB Indonesia sebagai assistant vice president lalu memilih menjadi investor di saham dan bekerja di dunia asuransi. Saat ini bersama rekan alumni seangkatannya yaitu Donny Verdian dan AA Kunto A, membuat portal keuangan “www.dokudoku.id” dan bertanggung jawab sebagai CEO.

Apa saja yang harus disiapkan bila ingin bekerja di industri keuangan dijelaskannya pada adik-adik siswa. Dengan semangat, Teddy pun bercerita tentang “Keajaiban Industri Keuangan”

Pria yang pada usia 28 tahun sudah menjadi kepala cabang ini mengaku bahwa selama di de Britto dia adalah siswa yang biasa saja. Ia berpendapat bahwa dalam berkarir yang sangat penting adalah mendapat mentor yang baik dan menyarankan pada adik-adik untuk mencari mentor yang baik pula. [andre stp]

 

artikel terkait :
Pembekalan Orientasi Profesi 13 Agustus 2016 (1)
Pembekalan Orientasi Profesi 13 Agustus 2016 (2)
Pembekalan Orientasi Profesi 13 Agustus 2016 (3)