Sabtu siang, 13 Agustus 2016, kembali acara Pembekalan Orientasi Profesi diadakan di kampus Kolese de Britto Jl. Laksda Adisucipto 161. Yogyakarta. Beberapa alumni tampak sudah siap sejak satu jam sebelum acara dimulai, sementara lainnya mulai berdatangan tepat sebelum acara. Di tengah segala kesibukannya, mereka memberikan waktu dan tenaga demi adik-adik siswa kelas XII, memberi pembekalan dalam acara Orientasi Profesi.

Dua belas alumni yang dibagi dalam sembilan kelas menyampaikan beberapa hal seperti gambaran umum bidang profesinya, bidang studi yang terkait dengan profesi tersebut, hal-hal di luar bidang studi yang perlu dipelajari, tak ketinggalan juga sharing pengalaman dan tanya jawab.

Aloysius Sigit, saat ini selain sebagai pilot pribadi, ia juga membantu beberapa pengusaha mengatur pengoperasian pesawat. Pendidikan penerbangan didapatnya di Selandia Baru melalui sebuah program ikatan dinas dari pemerintah. Setelah sepuluh tahun bekerja untuk pemerintah, ia berkarir di  maskapai penerbangan dan bertugas di beberapa negara.

Sudah 4 tahun belakangan ia aktif memberi pembekalan dan sejak masa itu banyak adik-adik siswa yang berprofesi sebagai pilot, lulus dari BIFA, LP3B Banyuwangi ataupun sedang studi di STPI Curug, BPA Bandung maupun sekolah penerbangan lainnya. Ada pula yang masih menjalani pendidikan di bidang industri penerbangan lain seperti ATC. Sampai sekarang ia bersama beberapa alumni melalui berbagai forum termasuk grup sosial media tetap aktif memberikan masukan-masukan pada rekan adik-adik yang berprofesi sama atau bekerja dalam industri yang sama.

Kepada para siswa Sigit menjelaskan bahwa setelah lulus SMA tidak harus mengikuti jenjang studi S1, S2 saja tetapi juga bisa dengan program diploma bahkan sertifikasi.

Baginya, berbagi dengan adik-adik siswa ini adalah salah satu wujud ungkapan syukur atas berkat yang telah ia terima selama ini.

Hendro Wijayanto, akrab dipanggil Mas Bim Bim. Setelah lulus de Britto tahun 1981, ia melanjutkan studi di jurusan Akuntansi UGM. Kini ia memimpin CV Karya Hidup Sentosa dengan brand nameQuick”, memproduksi mesin dan alat-alat pertanian, diantaranya adalah traktor tangan yang seratus persen diproduksi di Indonesia. Ia membuat perusahaan itu menjadi sebuah perusahaan modern, bahkan beberapa hasil produksinya sudah diekspor.

Nilai-nilai yang didapatnya dulu di sekolah seperti punya kemauan yang besar, cara berpikir yang baik, berintegritas dan bertanggung jawab dijadikan bekal dalam bekerja dan bersikap. Selain menjelaskan tentang bidang manufaktur melalui beberapa video menariknya, Mas Bim Bim juga berbagi pengalaman dalam memimpin perusahaan dan memotivasi adik-adik siswa. Ia menekankan pula bahwa dalam dunia kerja tidak hanya hard skill yang dibutuhkan, tetapi soft skill pun memegang peranan penting.

Diaz Radityo, lulusan de Britto tahun 2005, melanjutkan di UGM jurusan Antropologi Budaya. Sejak sekolah ia mendapatkan beasiswa sampai sekarang di Magister Manajemen Bencana UGM. Semasa kuliah dia sudah aktif terlibat dalam beberapa riset dan penulisan buku. Diaz bercita-cita menjadi seorang antropolog bencana. Sekarang, selain sebagai editor di salah satu penerbit, ia juga sedang menyelesaikan bukunya sendiri tentang komedi.

Siang itu Diaz lebih banyak sharing bagaimana menjadi jurnalis, tantangan ke depan serta suka dukanya menjadi seorang jurnalis. Ia mendorong adik-adik untuk tetap rajin menulis dan membaca. Menurutnya profesi apapun tetap membutuhkan kemampuan membaca, menulis serta kemampuan mengamati yang baik. Ia pun berpendapat, ada beberapa siswa di kelasnya yang bahkan sudah siap menjadi jurnalis. [andre stp]

artikel terkait :
Pembekalan Orientasi Profesi 13 Agustus 2016 (1)
Pembekalan Orientasi Profesi 13 Agustus 2016 (2)
Pembekalan Orientasi Profesi 13 Agustus 2016 (3)