Selain di rumah oleh orang tua, di lingkungan sekitar, komunitas reliji, maka pembentukan karakter lain yang signifikan adalah di sekolah. Saya bersyukur orang tua saya mengirim saya ke sekolah-sekolah yang memungkinkan untuk itu.

Salah satu sekolah tempat saya belajar adalah Kolese de Britto Jogjakarta. Sekolah yang muridnya berambut gondrong, berkaos buntung, dan bersandal jepit. Di sekolah itu ditanamkan antara lain nilai BBM: Bebas – Bertanggungjawab – Memasyarakat.

Dan nilai-nilai itu justru tidak terpigura dan tertempel di dinding sekolah. Nilai-nilai itu hidup, dan begitu karena dihidupi oleh semua unsur yang ada di sekolah: Yayasan, Kepala Sekolah dan Guru, Murid, dan Karyawan.

Salah satu karyawan “biasa” bernama Tong Jit. Pakaiannya tidak pernah rapi, wajahnya seadanya, rambutnya acak-acakan, tapi dia legenda hidup. Padahal dia “hanya” ‘petugas’ kapur tulis dan peralatan kelas serta ‘penjaga’ buku wajib.

Kakak kelas saya Antonius Widodo Mulyono, yang adalah Direktur Bank DKI, suatu hari komen di wall saya yang berkisah tentang Tong Jit. Dia belajar arti kata tanggung jawab bukan dari guru atau buku melainkan dari seorang sederhana yang bernama Tong Jit.

— Aku ngilangke buku siji .. Uas** tenan aku kon ngijoli sing podo.. Lha nggoleke susah … Tapi lesson learn nya dari tong jit ” tanggung jawab itu bukan tanggung ansich tapi tanggung jawab itu butuh keringat” . Tong jit itu Sufi nya De britto. —

 

[Handoko Wignjowargo]
Consultant-Coach-Communicator