Spanduk Emas Untuk Persaudaraan

24 Agustus 2016, tampak sebuah spanduk terpasang di pagar menghadap ke utara, di tepi jalan Prawirotaman. Tepatnya di Wisma Gajah, sebuah hotel yang berdiri di seberang pekarangan kosong. Spanduk itu berisikan informasi acara reuni, “Temu Kangen”. Di kota yang konon dikenal sebagai kota pelajar ini, tidaklah asing menjumpai aneka spanduk, poster dan baliho acara reuni sekolah. Hal yang biasa saja. Namun ada yang tidak biasa di spanduk yang aslinya bernuansa biru, tapi di bawah sinar lampu mercury jadi tampak berwarna ungu itu. Isinya adalah informasi acara reuni emas, 50 tahun, de Britto dan Stella Duce dari angkatan 66. Peristiwa sejenis itu pastilah tidak akan banyak terjadi di Indonesia. Mungkin sejak jaman Suharto sampai Jokowi hanya ada beberapa kali reuni 50 tahun sekolah khusus laki-laki dan sekolah khusus wanita dari satu angkatan.

Malam itu, dari luar wisma, terdengar pelan suara iringan musik, yang seperti memberi tanda bahwa sebuah perayaan sedang berlangsung di dalamnya. Dan ketika masuk melalui pintu samping, lalu melewati resepsionis, ruang tamu kemudian ke arah selatan melewati kamar-kamar dan berjalan terus ke belakang, rasanya seperti melewati sebuah lorong waktu menuju ke masa 50 tahun silam. Di bagian dalam, ada ruangan seperti ruang makan berukuran kira-kira tiga kali ruangan kelas. Tidak ada yang tampak istimewa, tidak ada panggung berhias lampu dan tata suara ribuan watt, seperti yang umum kita lihat di sebuah acara reunian. Jauh dari kesan mewah. Di sisi timur yang berfungsi sebagai ‘panggung’, sebuah spanduk sejenis terpasang sebagai latar belakang. Agar spanduk itu bisa berdiri, digunakan dua batang bambu untuk membentangkan dan dua buah pot kembang besar sebagai penutup alasnya. Dengan penerangan lampu TL yang tergantung di depannya, terbacalah teks di spanduk itu, ”Mengenang 50 Th Silam, Meniti Masa Senja Bahagia”.

Sekitar 60 peserta reuni dari berbagai daerah yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi, berkumpul di situ. Lulusan SMA tahun 1966, rata-rata usianya saat ini pasti berkisar 70 tahun. Mereka bernyanyi bersama diiringi seorang musisi dengan keyboardnya. Beragam lagu daerah, lagu perjuangan sampai lagu populer dari masa 70, 80an dinyanyikan oleh para alumni JB dan Stece ini. Sebelumnya, mereka berdoa untuk para rekan dan guru baik dari JB atau Stece yang sudah mendahului mereka.

Di ruang ini sebelumnya berlangsung acara Misa yang dipimpin alumni Romo Hadiwijoyo (dulu bernama Sukomartoyo) dan Romo Hardiyanto. Lalu diikuti Sarasehan yang membahas tentang kesehatan dari sisi spiritual dan medis, bertema “Sehat tanpa Obat” yang dibawakan oleh Dr. Tedjo Udono JB 66.

Vien Rudatin, alumni Stece, bercerita tentang ‘ide gila’ ini bermula di sebuah pertemuan di pusat perbelanjaan. Ide ini kemudian menjadi ide bersama yang diwujudkan oleh rekan-rekan dari JB dan Stece. Pertemuan berikutnya diadakan di Jogjakarta yang dihadiri Tody, Dr. Tedjo Udono, Handiyo, Sutarman, Yulia Rustam, Maria Shantirini, Nurdjilah dan Vien Rudatin. Banyak kendala dihadapi mulai dari mencari rekan-rekan yang berpuluh tahun tidak ada kontak, masalah pembiayaan, sampai tentangan dari alumni yang awalnya tidak setuju reuni digabungkan.

Mas Tarman berkisah, setiap ada acara seperti pawai keliling kota Jogja, cah JB selalu mengambil peran menjadi bodyguard, melindungi dan menjaga siswa Stece. Menurutnya, ini terjadi secara natural, alamiah. Dan setelah peristiwa 65, mereka semakin dekat karena banyak cah JB yang belajar bersama dengan teman-teman Stece.

Subiantoro, alumni JB, bahkan dengan semangat bersepeda dari tempatnya menuju Wisma Gajah. Dulu ia tergabung dalam sebuah grup musik sebagai basis dan sangat gembira bisa bertemu rekannya dulu bermain musik.

Malam itu, seluruh peserta tampak bahagia dalam acara yang sangat sederhana namun penuh kehangatan. Kita seperti disuguhi tontonan live yang menampilkan sekitar 60 kakak beradik bercengkerama dengan hangat dan penuh kasih sayang. Mereka menunjukkan bahwa De Britto dan Stella Duce adalah dua sahabat yang tak terpisahkan.

Terimakasih untuk Mas dan Mbak dari JB dan Stece angkatan 66 yang sudah berbagi kebahagian, cerita dan berbagi cara meniti usia senja mereka. Sesederhana apapun mereka menyelengarakan acara reuni itu, tak mampu menyembunyikan kemewahan dalam arti yang sesungguhnya, yaitu sebuah persaudaraan. Dan dalam kesederhanaan, di antara banyak spanduk reuni boombastis yang sering kita jumpai, “Spanduk Emas” itu seperti tersenyum dan berdiri dengan anggun menyaksikan semuanya. [andre stp]