Tidak banyak yang tahu kalau nama Mujiono Suisman disebut. Tapi kalau nama Tong Djit yang disebut, pasti semua Alumni SMA Kolese de Britto langsung terbayang makhluknya yang mana.

Tidak banyak yang tahu kalau Tong Djit Alumni tahun 1967. Orang tahunya Tong Djit penguasa salah satu sudut kampus Jalan Solo 161, penjaga integritas, sahabat, dan pastinya the living legend.

Kemarin pagi saya ketemu di acara Alumni de Britto. Tong Djit datang dari Jogja khusus untuk acara ini. Dia langsung menyapa nama saya lengkap, padahal kami berbeda 16 angkatan.

Banyak orang punya kenangan terdidik oleh seorang yang bernama Tong Djit, padahal dia bukan seorang guru. Dan Tong Djit masih seperti dulu di usianya yang hampir 70, tetap ceria dan tetap saru.

Tong Djit sebenarnya adalah nama lawan berkelahinya ketika SMA. Nama itu yang disandangnya puluhan tahun hingga kini. Mujiono Jawa asli, bukan keturunan Cina, dan tidak pernah berubah jadi Cina.

Dia juga tidak berusaha mengubah namanya, buat dia oke saja. Mungkin aneh buat orang kebanyakan, tapi tidak aneh di SMA yang tidak membedakan Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan.

*Ini tulisan kedua berjudul yang sama dengan isi berbeda, yang pertama 4 tahun lalu. Tema acara Alumni kemarin adalah “Keberagaman yang Menyatukan”. Ditulis khusus untuk Ke-bhinneka-an Indonesia.

 

penulis : Handoko Wignjowargo JB83