Bertepatan dengan Perayaan kanonisasi Ibu Teresa pada hari Minggu, 4 September 2016 yang lalu, maka sekelompok alumni De Britto (JB) yang berada dalam paguyuban alumni SMA Kolese de Britto chapter Bekasi, Cikarang dan Karawang mencoba membuat hal yang berarti bagi gereja yang kebetulan memiliki nama yang sama, yaitu Paroki Ibu Teresa Cikarang. Sekelompok alumni berkumpul untuk membantu Perayaan Kanonisasi ini dengan mengambil diri menjadi orang kecil yang paling tidak berarti, yaitu petugas parkir. Hal ini juga terinspirasi dari salah satu semboyan yang dikatakan oleh Ibu Teresa, yaitu “Tidak semua orang dapat melakukan hal yang besar, namun kita dapat melakukan hal kecil dengan cinta yang besar.” Dengan menjadi petugas parkir, yang terkadang dianggap remeh, hina dan bahkan harus rela menerima amarah, komplain memang bukanlah hal yang mudah bagi seseorang, termasuk bagi kami, alumni JB, yang biasanya ketika berkumpul maka rasa bangga dan kesombongan kami menjadi luar biasa tingginya. Menjadi orang yang remeh membuat kami menyadari bahwa banyak orang kecil yang hidupnya jauh lebih luar biasa dari kami yang kebanyakan sudah menjadi orang-orang yang cukup penting di karier, gereja, bahkan masyarakat.

Menjadi petugas parkir di Paroki Ibu Teresa Cikarang (PITC) bukanlah hal yang mudah. Sudah semenjak lama umat PITC merindukan berdirinya Gereja Katolik di Cikarang. Semenjak jumlah umat hanya ratusan hingga kini mencapai angka 8000 umat, kami masih menggunakan aula Sekolah Trinitas untuk beribadah. Ibadah mingguan sebanyak 3 kali, yaitu Sabtu sore, Minggu pagi dan Minggu sore sudah cukup memakan tempat bagi umat dan terutama area untuk parkir menjadi sangat terbatas. Akibatnya banyak umat yang memarkir kendaraannya di jalan depan gereja yang tidak cukup luas, juga di sepanjang ruko-ruko sekitar gereja, dimana hal ini sering menimbulkan konflik dengan para pemiliki ruko, sehingga mereka saat menjelang misa, meletakkan tong-tong sampah di depan rukonya agar umat tidak parkir di depan ruko mereka karena mereka percaya bahwa pelanggan tidak dapat datang ke ruko mereka karena tidak mendapatkan tempat untuk parkir. Banyaknya permasalahan ini membuat petugas parkir gereja harus memiliki kesabaran yang tinggi.

becik

Pada saat perayaan kanonisasi ini tentunya tidak bisa dianggap sama perlakuannya seperti misa mingguan. Umat yang datang diprediksi membludak. Oleh karena itu, pihak gereja dalam hal ini Dewan Paroki Harian yang salah satu pemimpinnya adalah Tri Budi (JB 92) memutuskan untuk merapikan tanah gereja untuk dapat menjadi tempat parkir yang cukup luas bagi umat PITC dan tamu-tamu yang datang. Satu hari sebelum hari H, semuanya telah siap. Humas JB Becik, Didik (JB 98), berkordinasi dengan Dewan Paroki Harian bidang peribadatan dan kebetulan juga panitia novena dan kanonisasi Ibu Teresa, Danang (JB 90) untuk memastikan dimana posisi para alumni yang menjadi tukang parkir agar tidak terjadi bentrok dengan panitia parkir yang memang kebetulan bertugas pada hari itu. Akhirnya, para alumni ditempatkan di depan gereja dan lahan parkir untuk membantu Mang Ja’i (petugas parkir gereja) mengatur kendaraan-kendaraan.

Pukul 7.00 pagi, satu jam sebelum misa mulai, para alumni sudah tersebar di posisi mereka masing-masing. Dengan berbaju seragam JB Becik yang berwarna hitam, kontras dengan seragam panitia yang berwarna putih, para alumni terlihat sibuk mengatur kendaraan. Terlihat beberapa orang mengatur kelancaran drop off umat di satu sisi dan beberapa orang mengatur penempatan kendaraan di tanah gereja. Dengan sabar, mereka memandu, membantu menurunkan umat yang sudah tua dan cacat, serta mengingatkan setiap umat untuk tidak menggunakan rem tangan di area parkir. Terlihat beberapa alumni mencari batu untuk digunakan sebagai ganjal roda kendaraan agar tidak mundur. Sungguh luar biasa melihat hal ini. Para alumni yang baru datang juga tidak merasa canggung dan ragu. Mereka langsung berbaur dan menempatkan diri membantu rekan-rekan mereka. Kebanyakan umat cukup puas dengan bantuan para semut ireng ini sehingga mereka dapat mengikuti misa tanpa hati yang dongkol dan perasaan yang marah.

Bersamaan dengan misa yang mulai, ada sekelompok peziarah dari sebuah paroki di Jakarta datang untuk mengunjungi Paroki Ibu Teresa Cikarang. Mereka menggunakan bis berukuran sedang untuk datang ke PITC. Bis tersebut masuk ke dalam lokasi area parkir di tanah gereja. Namun karena tidak sengaja melewati tanah yang belum cukup kokoh, bis ini terperosok. Dengan semangat menyala, para alumni mencoba membantu. Mereka dikomandoi Probo (JB 98) bersama-sama dengan panitia kanonisasi Ibu Teresa mencoba mendorong, menggali tanah sekitar roda bis, namun bis ini justru semakin terperosok. Kemudian untuk membantu menarik bis, maka diteleponlah salah satu alumni JB, yaitu Rio (JB 95) yang memiliki beberapa kendaraan ‘galak’ yaitu Toyota Land Cruiser untuk datang membantu menarik bis ini.

JB BeCiK

Saat kendaraannya datang, maka dicobalah ditarik dengan kendaraannya. Tali yang diikat di besi di bis dikaitkan ke bemper Toyota Land Cruiser tahun 1988. Saat ditarik, tanpa dinyana, besi bemper bis tersebut terlepas, namun bemper kendaraan Rio baik-baik saja. Kemudian dicoba dengan mengaitkan dengan as roda bis tersebut. Namun karena posisi bis yang tidak bisa sejajar dengan kendaraan Rio, bis belum bisa diangkat. Kemudian ia pun menghubungi istrinya untuk datang dengan mobil Toyota Land Cruiser yang lain untuk membantu mengangkat bis ini. Hanya saja setelah beberapa kali percobaan serta karena posisi bis dan mobil tidak bisa lurus maka hal ini tidak berhasil.

Kemudian panitia mendatangkan truk pasir besar untuk datang menarik bis ini. Dengan kapasitas silinder yang lebih besar, maka hal ini berhasil. Para alumni dan umat bersorak dan tentunya hal ini melegakan perasaan para peziarah yang datang. Terlihat satu sama lain saling melempar senyum kebahagiaan karena mereka dapat membantu proses pengangkatan bis ini.

Tugas belumlah selesai, para alumni segera menempatkan diri untuk mengatur keluarnya kendaraan-kendaraan dari lahan parkir serta mengatur lalu lintas yang cukup ramai di depan gereja. Sampai akhirnya semua kendaraan keluar dari tempat parkir, para alumni tetap siaga dan setia membantu. Hal ini sungguh membanggakan para alumni.

Tugas untuk hari itu selesai, namun seminggu setelahnya, pada tanggal 11 September 2016, Perayaan Nama Pelindung Paroki Ibu Teresa Cikarang masih berlangsung. Kali ini perayaan ini adalah ditujukan kepada segenap umat PITC. Di sinipun, para alumni JB juga berperan dalam penyelenggaraan perayaan ini. Sebagian ada yang membantu panitia untuk merapikan kendaraan, melayani umat dan juga terlibat dalam kepanitiaan. Saat pengumuman pemenang perlombaan yang diselenggarakan oleh panitia PNPP, yaitu lomba Nusantara Berkreasi, pemenangnya adalah salah satu lingkungan yang ternyata di dalamnya ada DUA alumni JB. Sungguh luar biasa.

Hal kecil dengan cinta yang besar telah mereka kerjakan. Banyak pelajaran didapatkan, namun semua itu untuk kemuliaan Allah yang Maha Besar. Ad Maiorem Dei Gloriam. [Filemon]